6/23/2006

Jadwal selama di Madinah

Selama di Madinah, para jamaah akan berada selama 8 hari untuk menjalankan sholat Arba’in (lepas dari pro dan kontranya hadist), yaitu sholat wajib berjama’ah di masjid Nabawi sebanyak 40 raka’at. Terlewat 1 sholat saja, maka harus dipenuhi di waktu sholat yang lain--agar terpenuhi jumlah 40 raka'atnya. Sedangkan untuk mengejar raka'at yang tertinggal saja sepertinya tidak mungkin, karena berada di Madinah benar-benar dipas dalam waktu 8 hari saja. Itu pun hitungannya sangat ketat, setelah sholat terakhir (dimana genap 40 raka’at), maka langsung berangkat ke Makkah. Jika ingin aman, kita bisa mencuri start di awal -- ketika baru tiba di Madinah. Tapi bagi baru datang ke Madinah, rasanya sangat tidak mungkin, jika dapat tahu segera lokasi dan posisi hotel + majid atau beres koper dan segera dapat kamar, sehingga dapat segera melaksanakan sholat jamaah di masjid di saat baru tiba di hotel madinah.

Jadwal di Madinah dirasakan sangat padat. Kita seperti terikat oleh waktu, karena setiap waktu sholat harus selalu berada di masjid. Seolah-olah seperti tidak ada kegiatan lain selain ke masjid. Karena memang begitulah yang diatur di Madinah. Bayangkan saja, jam 2 pagi kita sudah bersiap-siap untuk datang ke masjid, bagi yang ingin sholat lail di masjid. Itu bagi yang menginap di hotel yang terletak di depan masjid Nabawi. Tapi bagi yang jauh? Tentu harus mempersiapkan lebih matang lagi untuk pergi ke masjid.

Karena keberadaan kita di Madinah-- sudah diatur oleh Depag-- hanya agar dapat mengerjakan sholat arba’in yaitu 8 hari saja. Sehingga jika tidak ada kegiatan yang penting-penting sekali, lebih baik tidak usah dilakukan. Karena kita pun harus menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Sebagai kloter di gelombang satu, maka perjalanan kita masih panjang. Karena masih harus menunggu di Makkah selama 3 minggu, hingga tiba proses hajian selama 5 hari.

Untuk itu saya berusaha membuat jadwal di Madinah, seperti ini :
1. Jam 2 pagi sudah bangun.
2. Segera siapkan air di teko listrik dan nyalakan, sambil nunggu mendidih, saya bersiap ke mesjid, sikat gigi dan ganti baju.
3. Setelah air mendidih, segera digunakan untuk makan pop mie dan susu.
4. Sengaja saya sekalian makan, karena makan pagi agak sulit dilakukan bagi saya yang sendiri. Karena pagi-pagi, setelah shubuh dilanjutkan ke Raudhoh. Jadi sayang sekali jika harus kembali dulu ke hotel, atau pergi keluar masjid guna beli jajanan.
5. Tidak lupa membawa bekal botol aqua (untuk diisi air zamzam), permen dan kurma (untuk mengganjal perut :)).
6. Tidak lupa membawa sajadah, jaket, qur’an digital, terjemahan Alqur’an, agenda harian, dan pulpen.
7. Jam 3 pagi, keluar dari hotel. Keluar jam 3 pagi, karena masjid sangat dekat sekali, berada di depan hotel dan tinggal melangkah ke luar saja :).
8. Di masjid, diisi dengan sholat lail (adzan sholat lain jam 4 pagi), sholat mutlak, berdoa, baca Al quran, berdzikir.
9. hingga tiba adzan subuh (yaitu jam 05.33). Segera sholat sunat sebelum subuh, dan sholat subuh jam 05.50.
10. lalu diteruskan jadwal ke Raudhoh jam 06.30 berkumpul di tempat akhwat, pintu 25 atau pintu 29. Pengalaman ke Raudhoh dapat dibaca klik di sini.
11. Jam 07.00 waktu-waktu menuju Raudhoh. Selesai jam 09.30-an.
12. Bisa kembali ke hotel untuk sarapan atau istirahat.
13. jam 11, bersiap-siap kembali ke masjid, guna sholat dzuhur jam 12.20. Datang secepat mungkin ke masjid, agar tidak kebagian di luar masjid. Karena pada jam ini, jam panas-panasnya matahari berada di puncak, di atas kepala kita :).
14. setelah sholat dzuhur, kembali ke hotel, untuk makan siang.
15. jam 14, bersiap-siap kembali ke masjid, guna sholat ashar (15.20). Persiapkan juga siapa tahu ingin tetap di masjid menunggu sholat magrib, dan tidak kembali ke hotel setelah sholat ashar. Biasanya saya tidak kembali ke hotel, tapi dipergunakan untuk tidur sejenak di masjid. Lalu jam 16.45 saya ke toilet untuk berwudhu. Lumayan.. bisa tidur setengah jam lebih untuk mengumpulkan tenaga di waktu malam alias belanja hehe.. ;).
16. selanjutnya silakan mengatur jadwal senyaman mungkin. Karena waktu sholat magrib jam 17.39. Untuk info saja, pada sholat magrib, biasanya jamaah terasa banyak, sehingga masjid lebih terasa cepat penuhnya :).
17. Dan jadwal sholat isya, jam 19.10
18. Setelah sholat isya, jadwal bebas :).

Sedangkan jadwal saya sendiri, pada mulanya nomor 18 akhirnya diisi jalan-jalan. Lalu kemudian merambat, karena dirasa waktu di Madinah semakin sempit, akan segera pergi ke Makkah. Maka pada akhirnya, di sela-sela waktu setelah dari Raudhoh dan sholat dzuhur (poin nomor 12), saya suka isi juga dengan berbelanja ke pasar makam baqi—dapat di klik di sini. Lalu malam-malam, saya pernah isi juga belanja di pertokoan seberang arah Raudhoh (masjid Nabawi) --- dapat di klik di sini. Dan juga jalan-jalan di pertokoan depan Raudhoh alias depan hotel—dapat di klik di sini. Huehuheee.. ternyata banyak juga ya jalan-jalannya si Alivia..

Bagi yang punya penyakit maag, silakan atur cemilan secukupnya dan berusahalah selalu tenang (tidak usah jadi bawaan stress, dsb yang dapat memicu kambuhnya maag :)). Ke masjid boleh membawa makanan dan minuman, asal dalam jumlah yang wajar dan botol minuman sebanyak satu buah. [Alivia]

Labels:

Berbelanja di pasar makam Baqi

Saya bingung menyebutkan arahnya :). Tapi jika hitungan dari masjid, ada di arah pojok kanan Raudhoh masjid Nabawi. Di sana juga banyak sekali pertokoan. Dan saya sempat ke sana. Tapi tidak sampai membuat saya membeli sesuatu. Karena walau jumlah banyak, seperti tasbih yang berjumlah seperti grosir-grosiran gitu. Tapi bentuk dan model sama seperti yang lainnya. O iya, harga tasbih di sini relatif lebih murah dari yang lain. Walau.. yang saya cari tetap tidak ada :(.

Silakan tengok-tengok sedikit di sini. Tapi kalau saya boleh saran, sepertinya lebih baik di pasar makam baqi dan pertokoan seberang (arah berlawanan dengan ) Raudhoh, itu pun sudah sangat banyak.

Sementara di pertokoan depan hotel saya sendiri, saya juga tidak menyarankan. Bukan apa-apa.. karena lebih mahal aja.. hehe.. Untuk selengkapnya dapat dibaca klik di sini. [Alivia}

Labels:

Pertokoan depan Raudhoh (depan hotel Al Wissam)

Pertokoan ini yang selalu saya lewati ketika pulang dan pergi ke hotel. Bagaimana tidak? Pertokoan ini yang terletak di depan hotel saya. Walau begitu, saya nilai berjalan-jalan di sini tidak seru :). Tidak lain karena harganya yang lebih mahal. Mulai dari tukar riyal ke rupiah, di area sini lebih mahal. Yang termurah adalah di pertokoan seberang (arah berlawanan dengan) Raudhoh. Saya lupa namanya.. sejajar dengan hotel Raudhoh (namanya.. kalau tidak salah).

Tapi jika tidak sempat ke sana pun tidak mengapa. Karena di sini pun ada baju-baju pesta ala payet dan bordir yang sangat indah :). Ada permadani, tasbih, dsb. [Alivia]

Labels:

Berbelanja di area pasar makam baqi

Berbelanja di sini, ternyata sangat enak :). Walau dari luar seperti gersang, dimana pada awalnya saya sudah ragu saja berjalan-jalan di sini. Ternyata lumayan juga :). Saya mendapatkan pakaian-pakaian muslim di sini dengan harga yang murah juga (dan ternyata termurah di Madinah – sebisa yang saya tawar, dan juga termurah di Makkah – sebisa yang saya tawar juga). Karena harga murah itu pula sudah hasil akibat saya menawar terlebih dulu :).

Teman saya yang ingin membeli juga, mereka beli di depan hotel (yaitu depan raudhoh masjid Nabawi), dengan model dan bahan yang sama, masih lebih mahal 10 Riyal :).

Akibat belanja itu pula, saya sempat bawa belanjaan segede gambreng ke masjid Nabawi guna sholat dzuhur, hanya karena tidak sempat pulang ke hotel untuk menyimpan belanjaan :D.

Dan setiba di masjid, sudah dipastikan saya tidak boleh masuk dengan bawaan sebanyak itu :(. Yang akhirnya,saya sholat di dekat askar, masih di teras masjid (tidak sempat kena panasnya matahari waktu dzuhur). Karena kebetulan arah teras pun arah yang teduh (di arah depan pasar baqi), bukan di arah yang kena panas matahari.

Dan akibat pengalaman itu pula, saya jadi tahu bahwa ketika kita berbelanja dan waktu adzan tiba, kita dapat menitipkan barang kita di toko tempat kita berbelanja. Dan insyaAllah ditanggung aman atau kita dapat melihat-lihat dulu tingkat kepercayaan si pemilik toko :). Ketika selesai sholat, kita kembali pada toko tsb guna mengambil belanjaan yang kita titipkan sebelum sholat dzuhur :). [Alivia]

Labels:

Pertokoan seberang Raudhoh Masjid Nabawi

Toko-toko yang mengepung seluruh sudut masjid sangat menggoda sekali ;).
Hehe.. pasti ingin sekali berkunjung ke sana, walau sekedar menengok sedikit-sedikit mah… ;)

Pada hari pertama, saya berhasil melewati pertokoan itu hanya sekadar lewat saja. Mungkin karena badan masih letih..
Pada hari kedua di Madinah, saya masih belum ada minat untuk belanja. Saya masih adaptasi penyusunan jadwal dan menghemat energi :). Sementara teman sekamar sudah mulai pulang lebih telat karena jalan-jalan dulu :). Sambil menunggu teman pulang (karena kunci dibawa mereka),saya menumpang dulu di kamar 3 darra lainnya ;).

Pada hari ketiga, dibuatlah tata cara pegang kunci. Karena saya tidak ingin menunggu lagi, sebab ingin langsung tidur, maka kunci dititipkan di resepsionis hotel. Tapi pada hari ketiga ini, tepatnya malam ketiga di Madinah, malah justru saya pulang paling telat dibandingkan yang lain :).

Saya yang sebelumnya sudah tidak ingin belanja, tapi karena ada keinginan untuk mengganti tasbih yang hilang, akhirnya jalan-jalan. Dengan niat awal dan utama, untuk mendapatkan pengganti tasbih yang hilang :).

Dan benar.. dugaan sahabat.. ;)
Itu cuma niat awal :). Toko-toko yang bertebaran di mana-mana, letaknya berdempet-dempetan, tersedia bermacam-macam jenis, beraneka warna, dari mulai asesoris kecil-kecil, bermacam-macam tasbih, permadani, sajadah, pakaian dewasa, anak kecil, daaan sebagainya.. semua tersedia.

Ditambah lagi, saya mempunyai seorang guide untuk berbelanja pada malam keempat ;). Beliau ini seorang ibu, yang duduk di sebelah saya, ketika sedang sholat magrib. Diawali dari berkenalan, lalu mulai bercerita. Biasa.. ibu-ibu.. ;). Dan ternyata beliau berjualan dan mempunyai toko pakaian anak.

Kemudian saya bertanya tentang sajadah sulaman tangan, yang sepintas kemarin, saya tidak menemukannya di toko manapun. Tapi kata ibu itu, sepertinya beliau pernah melihat sajadah yang saya gambarkan itu. Maka terjadilah perjanjian, setelah sholat isya’ ini, kita akan jalan-jalan bersama :).

Sajadah sulaman

Selesai sholat isya dan berdoa, saya langsung diantar menuju toko yang dimaksud (berada di pertokoan berlawanan dgn arah Raudhoh – saya bingung kiblat di sana, apakah menghadap barat bukan ya :)). Dan ternyata benar, sajadah itu yang saya maksud.

Terjadilah tawar-menawar. Dan itupun yang menawar saya percayakan pada si ibu tadi, sebagai seorang ibu yang sudah pakar menawar di kelas tanah abang gitu loh :). Tapi pada akhirnya, si penjual memberikan harga tawar terendah bukan karena si ibu pintar menawar, tapi ‘hanya karena’ beliau suka ke saya.. (??#%*$!)

Hehe.. aneh?
Tapi begitulah iklim di Arab.
Bila penjual suka pada pembeli, maka harga termurah dapat dengan mudah didapat :).
Maka untuk wanita-wanita melayu, berhati-hatilah dalam berbelanja. Walau saya selalu memakai cadar (masker dokter warna hijau), tapi hal itu tetap terjadi, dan bukan hanya sekali dua kali. Malah hampir di setiap belanja :(.

Pada saat tawar-menawar terjadi, memang penjual meminta saya untuk melepas maskernya. Tapi saya jawab “haram”. Dan diresponi dengan tawaan si ibu bersama penjualnya. Yang akhirnya malah si penjual itu mau memberikan harga termurahnya :).
Ini bukan KKN loh.. :). Saya sih alhamdulillaah.. dapat sajadah dengan harga termurah itu :).

Membeli pakaian anak

Dari situ, kami berkeliling lagi. Dan ternyata banyak pakaian anak. Berbagai macam jenis pakaian anak sepertinya tersedia di sini. Jenisnya pun dari berbagai model negara, dengan harga yang murah-murah (jika dibandingkan dengan di Indonesia) ;). Bagi yang ingin membeli pakaian anak, jangan lewatkan beli di sini (di area pertokoan yang sama dengan sajadah tadi, yaitu di arah yang berseberangan dengan Raudhoh masjid Nabawi :) ).

Karena ketika di Makkah, saya tidak menemukan pakaian anak yang bagus-bagus begini, walau saya sudah keliling (pasar seng, depan RS Ajyad, dan .. lupa…. :)).

***
Tak terasa waktu sudah pukul 21.45. Maka kami sepakat pulang. Si ibu berniat mengantarkan saya ke hotel. Tapi karena sudah semakin larut, saya menolaknya. Sehingga hanya diantarkan sampai ke masjid. Dari masjid, saya segera bergegas, setengah berlari melewati masjid Nabawi—yang pintu-pintunya sudah mulai ditutup--- menuju hotel, yang terletak di seberang sana.

Ketika tiba di hotel, semua teman bernafas lega sambil berkomentar, “aduh.. aliff.. kemana aja? Kirain teh nyasar.. :)”. Aku jawab, “Nggak, ada yang mau nganterin belanja, jadi aja pergi jalan-jalan dulu :)”. [Alivia]

Labels:

6/08/2006

Ke Raudhoh yang sebenarnya untuk pertama kali

Keesokan harinya, dengan bekal petunjuk dari teman baru, saya tiba di tempat Raudhoh jam setengah tujuh pagi. Tapi karena sudah penuh, saya tidak dapat bertemu dengan teman baru saya. Boro-boro menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, untuk masuk ke dalam barisan pun sulit :). Tapi alhamdulillah.. berkat kemurahan hati (Allah lewat ) askarnya yang mempersilakan saya masuk barisan ketika ada tempat yang kebetulan kosong :).

Pada kesempatan pertama kali ke Raudhoh, dengan info yang terbatas, tanpa bimbingan dari ketua kloter/pembimbing, dan tanpa teman—pergi sendirian, saya masih belum tahu situasi atau tata caranya. Jadi, benar-benar gelap dan hanya mengikuti saja petunjuk/perintah dari askarnya.

Dan Alhamdulillah Allah selalu memberikan petunjuk dan jalan kemudahan. Saya diberi kemudahan untuk dapat membaca situasi dan berpikir stretegi, serta diberi kemudahan pula dalam melaksanakan strategi itu. Sehingga pertama kali ke Raudhoh dapat dikatakan adalah Raudhoh tersukses dan terindah yang Allah berikan dibandingkan dengan ke Raudhoh untuk selanjutnya.

Seluruhnya benar-benar petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT, Yang Maha Besar dan Maha Pengasih. Sehingga sahabat pun tidak perlu khawatir walau pergi sendiri dengan info yang sangat terbatas. Laa haulaa walaa quwwata ila billah. Untuk cerita selanjutnya, bagaimana ke Raudhoh dapat dibaca di tips ke Raudhoh.


Sangat Berkesan

Dan kesan saya di Raudhoh, yang juga sudah didapat dari sejak pertama kali saya masuk ke Raudhoh, dapat di baca di kesan Raudhoh. [Alivia]

Labels:

Sholat Dhuhur dan Ashar pertama kali di Masjid Nabawi

Cerita tentang sholat dzuhur dan ashar dapat dibaca di Mendapat Petunjuk Cara ke Raudhoh. Karena saya mendapatkan info/petunjuk cara masuk ke Raudhoh pada sholat Ashar :). [Alivia]

Labels:

6/06/2006

Berombongan ke Raudhoh

[Madinah] Pengalaman hari ketiga pergi ke Raudhoh, saya pergi bertiga --bersama dua orang teman yang selama di Madinah belum pernah ke Raudhoh. Yang satu orang sudah pernah ke Raudhoh, karena sudah haji.

Untuk pergi berombongan seperti ini (tidak sendirian) sebenarnya juga tidak ada masalah. Kami pergi dengan cara yang sama seperti saya pergi di hari pertama. Pada awalnya, semua berjalan lancar selama di masa antrian dan duduk dalam barisan kelompok Asia.

Tapi kemudian, jamaah Asia semakin banyak dan semakin sulit diatur. Mungkin pada hari ketiga saya di Madinah ini, kloter-kloter dari negara-negara sudah mulai berdatangan memenuhi masjid.

Para jamaah ribut dan berjatuhan

Dan pada kesempatan ini, terjadi heboh di barisan kami. Di antaranya karena jumlah para jamaah yang sangat padat, sehingga saking tidak mendapatkan tempat untuk berdiri terjadi saling mendorong. Berdiri tegak dengan posisi yang nyaman saja sangat sulit. Mungkin hal ini yang menyebabkan gerak sedikit saja jadi mendorong jamaah lain, dan jamaah yang terdorong ikut mendesak jamaah sebelahnya,dst. Akibatnya seperti saling mendorong, padahal mungkin mereka tidak bermaksud begitu.

Situasi saat itu benar-benar para jamaah panik. Saking padatnya, untuk bernafas saja dirasakan sangat sulit. Alhamdulillah saya termasuk yang tinggi, sehingga dapat mendongakkan wajah ke atas guna menghirup udara, tapi buat yang lebih pendek? apalagi yang sudah berumur? Sehingga saat itu, sebelah-sebelah saya banyak yang berguguran, pingsan, dan digotong keluar barisan. Dan banyak juga yang segera meninggalkan barisan. Situasi saat itu memang sangat kisruh dan tidak teratur.

Sangat terasa, para jamaah Asia sulit sekali diatur. Para askar benar-benar kewalahan dan menyerah bagaimana cara mengatur jamaah Asia yang berperilaku seperti tidak selayaknya seorang haji. Tapi kondisi penuh dengan emosi, menguras energi, saling bertahan, saling ingin lebih dulu, menginjak dan mendesak yang lain -- padahal yang didesak itu sesama sudah berumur, dsb.

Yang akhirnya, giliran masuknya jamaah Asia pada hari itu sempat ditunda. Kami diberi ceramah dulu oleh seorang askar yang menyampaikannya dengan sangat enak dan berbahasa melayu. Dan barulah kami dipersilakan masuk.

Dan entah karena insiden pada hari ini atau bagaimana, maka kebijakan jamaah Asia yang mendapat kesempatan dua kali untuk masuk ke Raudhoh, pada hari ini dibatalkan. Dan begitu pula untuk hari-hari selanjutnya :(.

Sholat di Raudhoh

Tiba di Raudhoh, karena kami bertiga, untuk mencari tempat sholat kami harus mencari tempat yang langsung muat untuk bertiga. Ini agak sulit dibandingkan dengan sendirian. Jika sendirian kita bisa selap-selip. Alhamdulillah akhirnya dapat (tapi seada-adanya--kalau sendirian kita bisa memasang target tempat sholat kita dimana). Lalu kami pun sholat. Pada awalnya, kami pakai acara saling menjaga dari dorongan/dilangkahi jamaah lain. Tapi akhirnya kami langsung saja sholat semua.

Tapi kami lupa, sholat dan doa setiap orang pasti berbeda. Padahal jika berombongan pasti akan saling tunggu. Dan buat saya pribadi, ini mengganggu konsentrasi dalam sholat dan berdoa. Terpaksa sholat dan doa saya pun hanya sebentar :(. Karena ternyata dua teman saya sudah selesai duluan, dan mereka menunggui saya tepat di sebelah saya. Tentu hal ini menjadi perhatian para askar. Dan askar pun menyuruh mereka pergi.

Dan karena mereka menunggu saya, maka otomatis saya yang sedang sholat pun jadi disuruh pergi oleh askar (didorong-dorong). Saat itu, saya benar-benar merasakan betapa ni’matnya pergi ke Raudhoh di hari pertama, sendirian. Dimana tanpa ada perhitungan, yang pertama kalinya pula, sendirian pula, belum tahu tata cara, aturan, dsb, semua berjalan alami, tapi malah mendapatkan kesempatan di Raudhoh yang paling ni’mat di antara hari-hari berikutnya.

Mungkin ada sedikit tips untuk yang pergi berombongan. Sepertinya tidak ada salahnya, ketika sholat berpencar untuk sementara. Mendapatkan tempat, berdoa, dsb. Tapi sebelumnya sudah buat perjanjian dulu dengan rombongan, misal tunggu di pintu no sekian.

Sedangkan jika ingin pergi/pulang sendirian pun sebenarnya tidak ada masalah. Dengan syarat : kita sudah hafal bentuk masjid(pintu gerbang), dimana arah hotel, kita berada di posisi sebelah mana mesjid (utara/selatan/dsb), dan bagaimana cara pulang ke hotel. [Alivia]

Labels:

Barisan menentukan posisi

[Madinah] Kebetulan pada kesempatan pertama ke Raudhoh, saya mendapatkan barisan pertama. Padahal tidak diusahakan dan tidak pernah terpikir manfaatnya. Ternyata sangat bermanfaat. Ini cara Allah memberikan petunjuknya untuk masuk Raudhoh kali ya. Karena saya pergi ke Raudhoh sendirian. Yang semula saya pun tidak yakin apakah dapat melakukannya atau tidak.

Ternyata Allah menunjukkan hikmahnya yaitu karena saya sendirian, saya dapat dengan bebas sholat dan berdoa yang lama, tanpa ada yang mengusir. Lain dengan yang masuk raudhoh secara rombongan. Di mana biasanya jika rombongan maka akan saling tunggu, tidak mau berpisah dengan rombongan, tidak akan beranjak pergi sebelum rombongannya selesai. Maka pada saat itu, sholatnya dan doanya kita dibatasi oleh rombongan. Bagiku hal ini sangat disayangkan.. :(
Karena lama sholat dan doa setiap orang tentu berbeda-beda. Dan saya mendapat keuntungan dari sendirian ini.

Alhamdulillah.. saya dapat merasakan keuntungan mendapatkan di barisan pertama. Saya dapat mencari posisi sholat yang enak dan berdoa selama-lamanya. Tapi pernah juga, saya justru mendapatkan barisan paling belakang. Sehingga ketika giliran sholat, saya malah termasuk yang harus menunggu lagi (sudah di dalam raudhoh). Tapi tidak apa-apa... karena ternyata malah ngobrol dengan askar – sambil menunggu jamaah lain selesai sholat – lalu kemudian dipersilakan askar untuk mendapatkan tempat sholat. Dan dengan tenangnya pula saya mendapatkan sholat dan malah dapat sholat hingga lebih dari dua raka’at. Alhamdulilaah.. [Alivia]

Labels:

Kesempatan jamaah Asia ke Raudhoh

[Madinah] Pada hari kedua saya di Madinah, negara-negara Asia masih diperlakukan istimewa dibandingkan dengan Negara lainnya (spt Turki, Afrika, dsb—yang bertubuh besar) yaitu diberi jatah dua kali dapat masuk ke Raudhoh pada setiap paginya (tidak seperti Negara lain yang hanya 1 kali). Terutama mungkin karena Asia adalah jamaah haji terbanyak. Dua kesempatan itu adalah pada pukul 07.00 dan 09.00 pagi.

Tapi ternyata jamaah Asia semakin lama semakin sulit diatur – dan ini pun dikeluhkan oleh para askar, kata mereka, “Asia sudah sulit diatur, tidak seperti hari-hari atau tahun-tahun sebelumnya”. MasyaAllah.. saya sendiri pun malu mendengarnya. Akhirnya para askar membuat kebijakan, Asia hanya dapat masuk ke Raudhoh satu kali saja.

Dan yang biasanya jamaah Asia mendapat giliran pertama sebelum jamaah negara lain (yang berbadan lebih besar dari Asia), kali ini kesempatan itu diberikan terlebih dahulu pada jamaah lain itu (Afrika dll). Dan untuk jamaah Asia baru diberikan setelah yang berbadan besar masuk. Itupun hanya satu kali. Subhanallah… Ini benar-benar tindakan yang merugikan jamaah Asia itu sendiri sebenarnya.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin tertib, teratur, dan tenang. [Alivia]

Labels:

Kesan Ke Raudhoh

[Madinah] Sebagian besar yang lain (bahkan hampir semua), hanya cukup ke Raudhoh satu kali saja. Karena katanya, di Raudhoh itu tempat rawan banyak terjadi kecelakaan, jadi jangan dipaksakan ke sana. Itu semua cuma sunnat, begitu kata mereka. Bahkan, ketika mereka tahu saya sering ke Raudhoh, respon mereka malah geleng-geleng kepala :). Katanya, gak papa lah, kamu masih muda, jadi masih kuat harus desak-desakan dan bertahan di sana.

Padahal.. kesan saya ke Raudhoh di antaranya sbb:

1. Selama saya ke Raudhoh, saya tidak pernah merasakan desak-desakan atau harus bertahan akibat dorongan/desakan yang lain. Memangnya di sana sedang perang, sehingga harus bertahan dari dorongan sana-sini ? :).

2. Selama melihat sikon para jamaah haji ketika menuju Raudhoh, dimana berlarian, berhamburan, hingga ada yang jatuh lalu terinjak, menangis dengan keras, satu sama lain berpegangan erat--mungkin takut hilang--tapi hal ini menghalangi jamaah lain, dsb. Sambil berjalan menuju Raudhoh--di tengah hiruk pikuknya suasana--saya merenung, bagaimana jika Rasululloh masih ada di tengah-tengah kita? Berhaji bersama? Menuju Raudhoh bersama? eh.. beliau pasti sudah tinggal di Raudhoh (dalam rumahnya). Apakah beliau tidak marah ketika mendengar suara gaduh di luar? Ketika melihat banyak yang menjadi korban padahal tidak sedang berperang? hanya dalam rangka berdoa saja? Subhanallaah..

3. Ketika berada di Raudhoh, suasana di sana pun masih ada yang 'berbau syirik'. Misal : mencium-cium tali yang terikat pada tiang, guna tempat berlindungnya para askar dari desakan jamaah haji, atau menangis meraung-raung ketika berdoa. Padahal sebelum masuk ke Raudhoh sudah ada bimbingan dulu, ceramah singkat dari askar yang berbahasa sesuai jamaah pada waktu itu. Misal giliran jamaah melayu, maka yang memberikan ceramah akan berbahasa melayu. Bila jamaah Arab, berbahasa Arab, dst.

4. Pertama kali ke Raudhoh, saya sudah menyusun strategi sendiri, walau saya belum pernah ke sana. Tapi karena sudah sering mendengar cerita bahwa di Raudhoh sering terjadi kecelakaan akibat desakan, injakan, dorongan para jamaah lain, maka saya ambil kesimpulan : kalau begitu, saya harus menghindari momen-momen seperti itu. Yang sebagian besar adalah karena ‘emosi’ para jamaah itu sendiri. Jika jamaah tidak emosi, bagaimana bisa terjadi saling mendorong, saling mendesak, bahkan menginjak jamaah lain yang jatuh? Padahal tujuan ke Raudhoh adalah untuk beribadah. Maka saya akan memakai cara ibadah juga untuk mencapai Raudhoh.

5. Ketika menuju ke Raudhoh seperti lalat yang datang berbondong-bondong, terbang menyerbu makanan, dengan suara yang sangat bergemuruh. Para jamaah haji langsung berlarian menyerbu Raudhoh seperti sedang berperang atau lebih halus lagi suasananya seperti sedang berdemo memperjuangkan hak kita. Orang tidak sabar berjalan, semua berjalan cepat, bahkan berlarian--tubruk sana-sini, tidak peduli kepentingan orang lain, melanggar hak orang lain, dsb. Tidak ada suasana yang khusyu' pada saat itu. Padahal ke Raudhoh adalah untuk sholat dan berdoa. Alangkah indahnya jika pada saat itu, suara tasbih yang berkumandang menggelegar awan. Dzikir, berdo’a, baca Al Qur’an dapat kita lakukan saat itu atau ketika menunggu pintu Raudhoh dibuka (pintu pembatas antara tempat sholat ikhwan dan akhwat).

6. Selama di Raudhoh, berjalanlah dengan tenang mencari tempat yang kita inginkan. Tidak perlu terburu-buru harus sholat. Lalu sholat dengan khusyu' dan berdo'a sepenuhnya.

7. Para askar pun baik bila kita baik. Saya tidak pernah terburu-buru, selalu memegang tasbih dan berdzikir. Askar malah menyilakan saya masuk dan sholat di tempat yang saya inginkan. Jamaah lain diusir-usir, sementara saya dijaga oleh askar ketika sholat. Saya malah dapat melaksanakan beberapa kali sholat dan berdoa dengan khusyu' dan lama. Sementara yang lain sudah disuruh pergi. Sampai saya malu hati sendiri karena masih di sana saja. Akhirnya saya pergi karena kemauan saya sendiri. Subhanallaah..

8. Resapi dan hayati Do’a di raudhoh. Doanya sangat bagus, sependek pengetahuan saya, do’a Raudhoh sangat indah dan do’a terlengkap yang pernah saya tahu (sehingga seharusnya saya tahu do’a ini dari dulu :( ).

9. Pergunakan waktu di Madinah sebaik-baiknya. Jika sudah tiba di Madinah, sangat sayang jika ke Raudhoh tidak dimasukkan dalam jadwal rutin sehari-hari. Momen ke Raudhoh tidak pernah datang dua kali. Apalagi Raudhoh adalah tempat mustajab.

10. Alangkah enaknya, bila dapat selalu ke Raudhoh dan disana benar-benar semata-mata untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, berdoa sesungguh-sungguhnya. Dan tidak lupa mengenang dan (semoga dapat) mencontoh bagaimana dulu Rasulullah hidup pada masa itu, tinggal di rumah ini, bersebelahan dengan masjid, dan apa saja yang beliau lakukan untuk perjuangan Islam, juga perjuangan membentuk keluarga bersama istri-istrinya yang tinggal di sebelah masjid Nabawi juga, hanya dipisahkan oleh kamar per kamar :). [Alivia]

Labels:

6/05/2006

Sholat Magrib Pertama di Madinah

[Madinah] Suasana sholat magrib pertama kali ini diwarnai dengan mimisan (keluar lagi). Lalu saya pun menyumbatnya dengan kapas yang sudah dicelup pada air zamzam. Kapas basah membuat hidung menjadi tidak perih. Karena memang udara kering yang menyebabkan hidung menjadi perih.

Saya bolak-balik mengambil kapas baru yang sudah dicelup air zam-zam, untuk mengganti kapas di hidup yang sudah mengering.

Teman baruku itu yang melihat gelagatku tersebut, memberi saran, lain kali bawa saja handuk basah guna menutup hidung. Ternyata beliau pun punya masalah yang sama pada hari pertama kedatangannya di Madinah dan terbantu sekali dengan membawa handuk basah. Saya mengiyakan.

Tahu-tahu beliau mengeluarkan handuk kecilnya dan memberikan pada saya. Kata beliau, “pakai saja handuk saya. Belum saya pakai kok.” Saya ragu menerimanya. Bukan karena apa-apa, karena saya tahu handuk sangat berguna selagi di negeri orang. Apalagi handuknya bagus :). Saya berusaha menolaknya. Tapi kata beliau ambil saja. Dan saya tetap tidak mau menerima, lalu saya berpikir, “Insya Allah besok kita bertemu di Raudhoh, handuknya akan saya kembalikan besok ya.. :)”, pintaku. Beliau mengiyakan saja.

Maka saat itu, saya sangat terbantu sekali dengan handuk tsb. Bahkan handuk tsb saya gunakan sebagai masker hidung pengganti masker hijau ala dokter tsb :). Alhamdulillah.. sangat nyaman.

***

Tidak cukup sampai di situ, setelah sholat isya, temanku itu pun mengajak ke hotelnya dan menunjukkan tempat-tempat berbelanja. Karena saya baru hari pertama di Madinah, ya saya antusias saja ketika diajaknya. Alhamdulillah.. saya jadi tahu sedikit sikon di Madinah dan tempat berbelanjanya :).

Akhirnya tiba pukul 21.30, toko-toko sudah mulai tutup. Dan pintu-pintu masjid pun sudah ditutup. Kami memutuskan pulang. Temanku itu menawarkan untuk mengantarkan aku sampai hotel, khawatir ada apa-apa di jalan. Tapi lagi-lagi saya menolaknya, karena khawatir beliau pun kecapean setelah mengantarku ke mana-mana. Saya meyakinkan beliau, Insya Allah saya sudah ingat bentuk masjid Nabawi dan arah ke hotelku. Sehingga Insya Allah akan aman. Maka kami pun berpisah dan berjanji besok setelah subuh ketemu di pintu masuk menuju Raudhoh. Insya Allah..

***
Alhamdulillah.. hari pertama di Madinah terlewati dengan penuh hikmah, ada sedih (hilang tasbih), kelelahan sudah pasti, ada keraguan tentang tata cara, ada jawaban atas keraguan, dan mendapat petunjuk lainnya :). Alhamdulillah.. semoga untuk selanjutnya pun selalu diberikan kemudahan dan kelancaran. Amin .. (doa yang tidak pernah dilupakan tiap saat). [Alivia]

Labels:

Petunjuk ke Raudhoh

[Madinah] Setelah hasil ke Raudhoh pertama kali tadi, saya masih ragu apakah caranya seperti yang tadi saya lakukan. Saya yakin pasti bukan begitu caranya, tapi ada cara lainnya hingga saya dapat masuk dalam Raudhoh. Tapi bagaimana caranya? Saya merenung sambil bersiap-siap sholat dzuhur ke masjid. Alhamdulillah masjidnya tinggal menyebrang saja, jadi tidak terlalu terasa terburu-buru.

O ya, waktu siang ini, hidung saya mimisan :(. Padahal masker selalu terpasang, tidak pernah dilepas. Dan terasa sekali hidung sangat perih, walau sudah pakai masker. Kata teman, seharusnya memakai masker yang beli khusus di apotik, yang ada untuk kompresan airnya.

Tapi apotiknya juga dimana :(. Saya belum mengenal wilayah, wong baru tiba malam tadi :). Akhirnya tetap pergi ke masjid, dengan membawa kapas. Terasa lebih enak, hidung dimasukkan kapas yang sudah dicelup ke air zamzam. Terasa lebih segar dan tidak perih.

***
Saat ini, saya pergi berdua ke masjid untuk sholat dzuhur. Tidak lupa saya mencatat waktu adzan dzuhur di notes yaitu 12.20. Pasti akan berguna (dan memang terbukti berguna sekali :) ).

Setelah sholat dzuhur, kami pulang ke penginapan untuk makan siang. Lalu ashar pergi lagi ke masjid. Waktu Ashar saat itu 15.20. Ini pun hasil mencatat, bukan info dari ketua kloter/pembimbing :). Jadi.. harus rajin mencatat :).

***
Setelah ashar, teman-teman kembali pulang ke hotel. Tapi saya merasa lelah sekali dan mengambil keputusan untuk tetap tinggal di masjid. Barangkali lumayan untuk istirahat sambil menunggu waktu maghrib.

Sambil menunggu, alhamdulillaah ada teman baru. Ngobrol punya ngobrol ternyata beliau sudah hari ke tiga di Madinah. Beliau bertanya apakah saya sudah ke Raudhoh belum hari ini (di hari pertama saya di Madinah). Saya ceritakan pengalaman saya tadi ke Raudhoh. Ternyata benar, memang bukan di situ tempatnya.

Teman baruku itu lantas menawarkan aku mau tidak ditunjuki tempat Raudhoh. Subhanallaah.. pasti aku mau!!! Wong dari tadi pagi juga aku udah bertanya-tanya dan meragukan sendiri tentang Raudhoh yang kualami itu. Alhamdulillah.. akhirnya Allah memberi petunjuk padaku.

***
Mumpung masih ada waktu sebelum maghrib, temanku mengajak saya ke tempat Raudhoh, agar tahu bagaimana cara-caranya masuk ke Raudhoh. Katanya, masuk melalui pintu 25/pintu 29. Pintu sekat antara ikhwan dan akhwat yang ada di sana, akan dibuka pada jam 7 pagi. Dan pasti berdesak-desakan, penuh sesak. Jika ingin mendapat tempat ketika pergi ke Raudhoh, lebih baik sudah ada di daerah sini sejak dari sholat subuh. Begitu pesannya. Maka kami pun janjian jam setengah 7 pagi ketemu di sini (di daerah yang ditunjuk). [Alivia]

Labels:

Pertama kali ke Raudhoh

[Madinah] Selepas shubuh, saya tidak tahu harus bagaimana. Karena teman-teman yang lain sudah pulang, maka akhirnya saya pun pulang ke hotel.

Setiba di hotel, saya sarapan dan mencoba baca-baca lagi buku petunjuk selama di Madinah. Ternyata ada jadwal pergi ke Raudhoh. Maklum, rombongan Haji Mandiri-Depag, semuanya harus serba mandiri. Jadi cari info/tahu tata cara pun diusahakan sendiri :). Ketua kloter yang seharusnya membimbing.. entahlah berada di mana :).

Saya agak menyesal kenapa saya terlewat tentang Raudhoh ini :(. Kemudian bertanya pada teman sekamar, apakah mau ke Raudhoh. Ternyata tidak mau :(. Kecapean katanya. Memang akibat perjalanan, ‘keributan’ tadi malam, serta ‘kepagian’ datang ke masjid, terasa sangat melelahkan. Saya pun memutuskan untuk beristirahat saja.

Tapi hati kok ya tidak tenang.. mata pun tidak dapat terpejam, padahal posisi sudah siap untuk tidur mengikuti jejak yang lainnya :). Akhirnya… saya bangkit kembali dan segera bergegas menuju masjid dengan tujuan akan ke Raudhoh. Di buku disebutkan bahwa jadwal perempuan ke Raudhoh adalah hingga jam 10 pagi (alias waktu dhuha). Sedangkan sekarang baru menunjukkan pukul 9 pagi. Ah.. masih ada waktu, pikirku.

Aku segera ke masjid. Aku ajak siapa pun yang bertemu di jalan untuk bersama-sama ke Raudhoh. Tapi .. sayang, tidak ada yang mau. Baru hari pertama kata mereka, rata-rata ingin istirahat dulu. Dalam alasannya pun, ke Raudhoh itu butuh tenaga lagi, karena pasti berdesak-desakan hampir seperti kondisi lempar jumrah. Sehingga harus mengumpulkan tenaga dulu guna ke sana.

Ketika sampai di masjid, ada masalah berikutnya.. :(
Karena saya baru pertama kali ke Madinah, baru pertama kali ke masjid Nabawi, lantas ada dimanakah Raudhoh itu? Saya hanya tahu bahwa Raudhoh itu adalah yang berkubah hijau. Dan itu dekat dengan hotelku, karena hotel berada di sisi yang dekat kubah hijau. Aku dekati kubah hijau itu, tapi ternyata pintu di sana dijaga dan ditutup, tidak boleh dimasuki jamaah.

Bingunglah saya..
Saya yakin penjaga itu memberi petunjuk pada saya lewat kata-kata dan bahasa tubuhnya. Tapi sayang.. saya tidak mengerti :(. Dan saat itu, saya melihat banyak orang berdoa di luar Raudhoh. Dan saya juga bertemu dengan rombongan Indonesia lain yang nampak teratur. Saya coba beranikan diri bertanya pada mereka, ternyata katanya Raudhoh itu sudah ditutup. Tapi kita dapat berdoa di luar sini, asal menghadap kab’bah. Akhirnya saya berdiri di luar masjid Nabawi, di depan Raudhoh, dan berpanas-panas ria sambil berdo’a. Saya coba kerahkan kekhusyu’an saya dalam berdoa. Akhirnya selesai juga berdo’a itu, itupun karena di tempat itu sudah diusir oleh ‘askar :).
Rombongan Indonesia, Turki, Pakistan, dll pun seluruhnya ikut bubar.

Sementara saya..
Saya masih bingung.. apakah benar tatacara ke Raudhoh itu seperti itu. Jam berapakah sebenarnya Raudhoh? Kok baru jam 9 saja sudah ditutup? Bagaimana cara masuk ke Raudhoh? Karena menurut video-video, kita dapat masuk dalam Raudhoh.

Ah entahlah.. saya hanya dapat berdo’a semoga yang saya lakukan tadi sudah benar, dapat diterima sebagai amal sholeh, dan do’a saya pun dikabulkan. Amin.. amin ya robbal ‘alamin.

Melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, saya pun bergegas ke hotel untuk mandi. Dan harus bersiap-siap lagi pergi ke masjid guna sholat dzhuhur. Dimana saya sebenarnya belum tahu jam berapa waktu dzhuhur.. (lagi-lagi tidak ada informasi yang akurat dari ketua kloter/karom/dll). Sehingga saya perkirakan saja, dzuhur itu jam 12, dan saya harus kembali ke masjid jam 11, agar saya masih dapat tempat dalam masjid.

Dan Alhamdulillah, saat ini jamaah belum datang semua. Sehingga masjid masih ada yang kosong, belum penuh. Sehingga asumsi saya masih keburu jam 11 ke masjid.
Maka pulanglah saya ke hotel dan mempersiapkan diri lagi guna ke masjid, walau terasa sekali tubuh ini sangat lelah. [Alivia]

Labels:

Beli Tasbih

[Madinah] Ketika di tanah air, ibuku sudah nitip ingin dibelikan tasbih kristal. Saya baru tahu ada jenis-jenis tasbih tersebut sesaat sebelum pergi. Ketika ditunjukkan terburu-buru sebelum berangkat dari rumah.Berbekal penglihatan terakhir itulah, saya coba cari tasbih kristal.

Ternyata, tasbih kristal pun banyak jenisnya dengan harga beragam :(. Ada yang sudah terjamin asli, tapi lagi-lagi harganya sangat mahal, dapat mencapai ratusan SR. Semakin pusinglah kepalaku, ditambah lagi saya tidak tahu perbedaan antara kristal yang asli dan bukan. Karena saya termasuk orang yang cuek – tidak pernah memperhatikan hal begituan – tapi disuruh membeli kristal :(. Tapi saya tetap harus beli, apalagi karena merasa bersalah telah menghilangkan tasbih ibu. (cerita ini dapat dibaca klik disini).

Demi mendapatkan tasbih kristal yang berharga wajar tapi asli, saya harus masuk dari satu toko ke toko lain di Madinah. Tapi tidak menemukannya :(. Rata-rata palsu, bukan kristal tapi plastik.

Alhamdulillah tasbih itu akhirnya dapat juga. Tapi sayang.. hanya ada 8 buah. Padahal pesanan banyak :(. Sebelumnya saya sudah cari tasbih kristal seperti itu, tapi memang tidak ada. Saya sudah minta tolong pada toko tersebut agar menyediakannya/mencarikannya besok. Tapi tetap tidak ada :(.

Saat itu mental saya pun berkata, ya sudah, memang tidak ada mau dibagaimanakan lagi. Saya sudah berusaha. Saya tidak mau mencari tasbih ini menjadi beban dan menghabiskan waktu saya di Madinah. Begitu juga yang saya sampaikan di tanah air pada orang-orang, bahwa belanja(pesan ini itu) tidak mau menjadi beban untukku. Tapi jika saya sempat saja, insya Allah akan saya usahakan. Jika tidak sempat, ya jangan berharap terlalu banyak, apalagi saya tidak tahu ‘barang’ (maklum.. :) ). Ditambah lagi karena saya pergi haji sendirian. Dann karena berbeda jadwal dan kepentingan dengan teman-teman yang lain, maka mencari barang-barang pun/jalan-jalan harus sendirian pula. Jadi ya jika dapat.. alhamdulillah, jika tidak.. maka tidak menjadi beban juga untukku. [Alivia]

Labels:

Tasbihku...

[Madinah] Setelah berdoa dan membaca Al Qur’an, saya bergegas pulang ke penginapan. Saya terburu-buru ketika membereskan tas, dan sengaja tasbih tidak dimasukkan dalam tas, karena saya ingin memakainya sambil berjalan pulang menuju hotel.

Tapi, ternyata tasbih mutiara itu hilang :(. Entah di mana. Kaget, sedih, dan sekaligus khawatir, karena tasbih mutiara itu milik ibu yang sudah diamanahi khusus bahwa tasbih ini jangan hilang. Teman-teman pun sangat menyayangkannya, karena mereka pun baru melihat ada tasbih sebagus itu – padahal sudah pernah berjalan-jalan keliling tanah suci untuk kesekian kalinya.

Keraguan menyelimuti diriku, antara memberitahu ibu atau tidak. Saya sungguh terbebani amanah tersebut. Dan kebetulan lagi, pagi itu akhirnya saya menemukan wartel (yang sudah 2 hari saya cari). Dan memang ingin sekali menelpon, terutama kangen anak saya. Akhirnya, saya pun menelpon dan berencana tidak dulu bercerita tentang tasbih yang hilang. Tapi apa daya, percakapan meluncur apa adanya. Ibu yang biasanya ‘marah’, tapi saat itu hanya berkomentar : “Oh hilang. Ya sudah.” Saya betul-betul tenang atas responnya. Tapi saat itu pula, saya jadi bertekad ingin menggantinya walau harganya mahal sekalipun.

Mmh.. dipikir-pikir.. sepertinya hilang tasbih ini teguran juga buatku. Mungkin karena tasbihnya terlalu bagus untukku, dan terlalu banyak yang memuji, mungkin hal itu akan membuatku menjadi ‘sombong’. Maka, Allah hilangkan tasbih itu. Jadi, ya sudahlah.. Sekarang bagaimana caranya saya mendapatkan penggantinya. Dan saya pun ingin membelinya satu buatku sendiri :).

***
Tapi seluruh toko tasbih sudah dimasuki, bahkan sepertinya sudah keliling seluruh pertokoan Madinah sekitar masjid Nabawi, demi mencari tasbih mutiara. Tapi tidak dapat menemukannya :(. Pernah saya menemukannya di pasar makam Baqi, tapi alhamdulillah saya tidak jadi membelinya. Karena ternyata itu plastik. Kata tukang tasbih lainnya tasbih tersebut harus dibeli khusus di toko emas agar terjamin pula keasliannya. Belinya pun harus ditimbang.

Kemudian, saya coba masuk ke beberapa toko emas (kebetulan yang dekat makam Baqi, di daerah hotel Andalas). Dan ternyata memang banyak sekali tasbih mutiara di sana dan indah-indah. Tapi harganya sangat mahal! :(.

Setelah ditimbang, harganya dapat mencapai sekitar 150SR (dari sekitar 200-an SR) hanya untuk sebuah tasbih berjumlah 33 butir! Itupun sudah hasil tawar-menawar. Masya Allah…
Kelalaianku harus ditebus sangat mahal :(. (Note : 1 SR sekitar Rp. 2900 saat itu).

Boro-boro saya beli satu lagi untuk diriku sendiri. Beli satu saja sepertinya uang sangat sayang jika dipakai beli tasbih saja :(.

***
Dua hari kemudian, ternyata tasbih satu lagi pun ikut hilang -- yang batu hijau. Mmh.. sudahlah. Saya tidak mau banyak memikirkannya. Toh ibu pun sudah tahu dengan respon yang sama—seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi saya harus beli tasbih lagi, minimal satu, untuk dipakai sehari-hari. Kadang, dzikir berjalan itu masih lupa jika tidak pegang tasbih. Karena selama di Madinah (apalagi di Makkah) banyak sekali pemandangan/peristiwa yang selalu menarik perhatian :). [Alivia]

Labels:

Sholat Subuh pertama kali di masjid Nabawi

Setelah dapat masuk dalam masjid, kami segera sholat lail dan mengisi waktu dengan cara masing-masing sambil menunggu adzan subuh tiba. Ketika adzan terdengar pada pukul 04.00 kami pun segera sholat qobla subuh. Tapi tunggu punya tunggu ternyata tidak sholat-sholat subuh. Sepertinya yang terdengar tadi adalah adzan sholat lail. Beginilah nasibnya jika ikut rombongan Depag :). Salah satunya, kami tidak mendapatkan pengarahan secara detil tentang aturan-aturan di masjid.

Dan ternyata adzan subuh baru pukul 05.33. Kami pun segera sholat qobla lagi, takut ketinggalan keburu sholat subuh. Tapi ternyata juga, jarak dari adzan subuh ke sholat subuh pun masih lama :). Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sholat subuh. Karena sholat subuh baru terjadi pada pukul 05.50 :). Dan selidik punya selidik, ternyata antara adzan lail dan adzan subuh pun ada perbedaan :). Untuk adzan lail, ada panggilan untuk bangun :). Ashsholatu khoiru minan naum.. :) (kalau tidak salah ya :) ).

Setelah Sholat Shubuh

Setelah sholat subuh, kedua temanku ingin segera pulang. Maklum.. kami sudah ada di masjid sejak setengah 3 pagi. Sudah menunggu untuk 4 jam lamanya (sekarang setengah tujuh). Tapi karena saya ingin tadarus lagi, maka saya persilahkan mereka untuk duluan.

Tapi teman saya mengkhawatirkan saya jika harus sendirian. Dari sejak tanah air, kami sudah dipesan agar jangan sampai pisah dari rombongan, apalagi sendirian. Pergi ke toilet pun tidak boleh sendirian. Berada di kamar hotel pun tidak boleh sendirian. Segala sesuatunya tidak boleh sendirian, tapi harus ada muhrimnya.

Sebenarnya saya pun khawatir. Tapi saya merasa belum puas berada di masjid ini. Dan sangat sayang sekali jika kesempatan satu-satunya ini tidak saya gunakan sebaik-baiknya. Kapan lagi saya bisa kembali ke sini? Masjid Nabawi, masjid pertama kali yang didirikan oleh Rasulullah? Masjid yang bersebelahan dengan rumahnya Rasulullah.

Akhirnya, saya tekadkan dengan kuat, saya dapat kembali sendiri ke hotel. Allah pasti akan menolong hambaNya yang ingin mendekatkan diri. Jikalau saya lupa, Allah yang akan menuntun saya sampai kembali ke hotel. Maklum.. saat itu saya masih belum hafal sekali bagaimana bentuk hotel. Bahkan nama hotelnya pun baru diketahui belakangan,ketika akan pulang dari Madinah :).

Tapi saya sudah sadar dari sejak awal, bahwa para calhaj mempunyai tujuan dan orientasi yang berbeda-beda setiap orangnya. Oleh sebab itu, saya sudah bertekad, walaupun saya harus sendirian demi program-program dan upaya mendekatkan diri kepada Allah, maka saya akan berusaha menjalaninya.

Walaupun dengan sendirian, saya akan berjuang jika memang itu untuk beribadah kepada Allah. Dan saya sangat yakin, Allah tidak akan meninggalkan hambaNya dan akan selalu melindungi hambaNya. Apalagi ini hadiah terbesar dalam hidupku. Insya Allah.
Akhirnya, teman-teman pun meninggalkan saya. Dan saya meneruskan tadarus Al qur’an sambil berupaya mengiikuti artinya di dalam hati. Hingga tiba saatnya saya akan pulang ke hotel. Tapi tanpa sadar.. tasbih saya ternyata sudah hilang :(. [Alivia]

Labels:

Masuk Masjid

Alhamdulillah, akhirnya pintu masjid dibuka pada pukul 03.15 pagi (dan akan ditutup pukul 9 malam). Sebelum masuk dalam masjid, kami diperiksa dulu dengan ketat oleh askar wanita (untuk wanita). Hingga tubuh kita pun diraba, untuk memastikan bahwa kita kita tidak menyembunyikan barang yang dilarang.

Adapun barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam masjid adalah :
1. Kamera
2. HP yang mempunyai kamera. HP yang tidak berkamera boleh dibawa.

Sedangkan yang boleh dibawa masuk adalah:
1. Makanan
2. Botol minuman, tapi hanya boleh 1 botol saja. Jika lebih, botol tsb akan dibuang oleh askar. (sebelumnya kami dengar issue, makanan dan minuman tidak boleh dibawa. Kami membawanya dengan mental siap diambil oleh askar, sekalian agar tahu aturan yang sebenarnya).

Di dalam masjid, terdapat tangki-tangki air zam zam. Air zamzam di sana kebanyakan sudah diberi es sehingga dingin. Jika ingin yang tidak dingin, lihatlah di tangki zam-zam, ada tulisan ghoiru.. (saya tidak tau lagi) dan hurufnya berwarna hijau. Sementara yang air zam zamnya dingin, tulisannya berwarna biru.

Berada di sini, di masjid ini benar-benar hadiah terbesar untukku selama hidupku. [Alivia]

Labels:

Kesan Mesjid Nabawi

Pukul setengah 3 pagi, kami bertiga pergi ke mesjid Nabawi untuk pertama kalinya. Letak Mesjid Nabawi persis di depan hotel kami :). Alhamdulillah kami mendapatkan hotel yang benar-benar berada di depan hotel. Berulang kali kami mengucapkan syukur alhamdulillah. Apalagi kata teman, masjid Nabawi dapat dinikmati dari jendela kamarnya. Subhanallah.. saya benar-benar mengucapkan syukur alhamdulillah. Dan saya langsung membayangkan akan dapat mengabadikan momen terbesar ini dalam kamera. Tapi saat ini, saya mau ke masjid dulu :).

Kami turun ke lobi, menyeberang jalan, dan langsung mulai masuk halaman masjid Nabawi. Pertama kali melihat masjid itu.. benar-benar histeris.. Subhanallaah.. betapa indahnya! Benar-benar seperti istana!


Cat temboknya halus, warnanya pastel dan kalem, paduan warnanya indah, sangat sepadan. Lampunya berkilau menyinari megahnya masjid. Tidak ada masjid di Indonesia seperti ini, bahkan untuk warna pun tidak ada yang seperti ini.Bangunannya seperti bukan berada di tanah Arab yang gersang, tapi benar-benar seperti sedang berada di negeri dongeng, antah berantah, negeri di atas awan.



Walau aku sudah sering melihat masjid ini lewat VCD, tapi melihat langsung adalah hal yang benar-benar berbeda. Subhanallah.. masjid ini seperti sebuah istana di negeri dongeng antah berantah. Tak habis-habisnya mengucap subhanallah dan berdecak terkagum-kagum melihat arsitektur, padanan warna yang begitu indah, disorot lampu yang memancarkan kemegahan mesjid ke luar mesjid, jadi seperti istana yang memancarkan kemegahannya. Ini adalah mesjid terindah di dunia! Berhubung saya baru melihat masjid Nabawi ini dan terindah selama mesjid yang pernah kulihat di tanah air :).

***

Dan saat itu pula, langsung terlintas bayangan, bagaimanakah bentuk masjid ini ketika zaman Rasulullah dulu? Bagaimana keadaannya? Bagaimana saat-saat ketika waktu sholat malam begini? Bagaimana para istri Rasulullah berkumpul untuk sholat lail, mengingat mereka tinggal dalam satu rumah, dan rumahnya tepat berada di sebelah masjid ini? Subhanallah.. pasti alangkah indahnya suasana saat itu. Kapan akan terjadi suasana itu pada dunia yang sudah rusak begini, apalagi di Negara Indonesia yang kucintai? Aku hanya dapat tersenyum getir. [Alivia]

Labels:

Ke Masjid Nabawi

Akhirnya jam 2 pagi pun tiba. Walau kepala masih terasa berat dan sulit meninggalkan bantal, tapi apa daya.. :(. Mengingat ingin sholat lail di masjid dan akan berebut tempat di masjid Nabawi jika tidak datang pagi-pagi, maka tubuh ini dipaksakan juga bangun. Walau ke kamar mandi masih dengan mata tertutup, tapi akhirnya terbuka juga setelah disiram air dinginnya Madinah :).

Lalu saya bergegas buat air panas untuk minum susu dan sereal. Walau saya tidak suka susu, tapi saya paksakan juga minum demi kesehatan. Saya sudah bertekad, semoga saya tidak terkena sakit-sakitnya tanah Arab, yaitu batuk dan pilek. Untuk itu di antaranya harus mau disiplin minum susu. Hehe.. terpaksa.. :).

Setelah teman-teman sekamar pun siap pergi, maka keluarlah kami dari kamar untuk ke masjid Nabawi yang pertama kalinya :). Di luar masih gelap. Terasa sekali angin dingin menusuk. Tidak lupa saya memakai jaket dan masker, juga wajah memakai pelembab.

Alhamdulillah menuju masjid tinggal lah menyebrang jalan saja dari hotel kami. Karena hotel kami, hotel Wissam terletak di seberang masjid Nabawi.

Begitu memasuki gerbang masjid, subhanallaah..
Benar-benar seperti sedang berada di istana negeri Antah-berantah, Lampu-lampunya yang kuning berkilauan, dihiasi oleh emas di pintu-pintu masjid, dikombinasi oleh warna-warna pastel, dengan menara-menara masjid yang tegak menjulang tinggi, benar-benar seperti sebuah istana di negeri dongeng. “Tidak ada satu pun masjid yang menyamai masjid ini!!”, gumamku. Maklum baru pertama lihat masjid seindah masjid Nabawi untuk pertama kalinya :).

***
Tiba di Masjid, ternyata pintu masjid masih ditutup. Sekarang waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Sedangkan pintu dibuka pukul 03.15. Terpaksa kami harus menunggu dulu di luar masjid. Sementara itu, hembusan angin benar-benar dingin menusuk, dan tidak pernah berhenti. Angin besar seperti di pantai. Walau sudah memakai masker, tapi angin tetap dapat masuk ke dalam rongga hidung. Terasa sekali udara kering masuk menelusup bersama nafas kita dan sangat kering, membuat hidung terasa perih sekali. Mungkin baru hari pertama di Madinah. Atau karena maskernya pun hanya masker biasa ala dokter itu (yang berwarna hijau). Saya masih harus menutupi hidung lagi dengan sajadah, agar hidung tidak berasa perih sekali. Alhamdulillaah.. akhirnya pintu pun terbuka. [Alivia]

Labels: