6/05/2006

Ke Masjid Nabawi

Akhirnya jam 2 pagi pun tiba. Walau kepala masih terasa berat dan sulit meninggalkan bantal, tapi apa daya.. :(. Mengingat ingin sholat lail di masjid dan akan berebut tempat di masjid Nabawi jika tidak datang pagi-pagi, maka tubuh ini dipaksakan juga bangun. Walau ke kamar mandi masih dengan mata tertutup, tapi akhirnya terbuka juga setelah disiram air dinginnya Madinah :).

Lalu saya bergegas buat air panas untuk minum susu dan sereal. Walau saya tidak suka susu, tapi saya paksakan juga minum demi kesehatan. Saya sudah bertekad, semoga saya tidak terkena sakit-sakitnya tanah Arab, yaitu batuk dan pilek. Untuk itu di antaranya harus mau disiplin minum susu. Hehe.. terpaksa.. :).

Setelah teman-teman sekamar pun siap pergi, maka keluarlah kami dari kamar untuk ke masjid Nabawi yang pertama kalinya :). Di luar masih gelap. Terasa sekali angin dingin menusuk. Tidak lupa saya memakai jaket dan masker, juga wajah memakai pelembab.

Alhamdulillah menuju masjid tinggal lah menyebrang jalan saja dari hotel kami. Karena hotel kami, hotel Wissam terletak di seberang masjid Nabawi.

Begitu memasuki gerbang masjid, subhanallaah..
Benar-benar seperti sedang berada di istana negeri Antah-berantah, Lampu-lampunya yang kuning berkilauan, dihiasi oleh emas di pintu-pintu masjid, dikombinasi oleh warna-warna pastel, dengan menara-menara masjid yang tegak menjulang tinggi, benar-benar seperti sebuah istana di negeri dongeng. “Tidak ada satu pun masjid yang menyamai masjid ini!!”, gumamku. Maklum baru pertama lihat masjid seindah masjid Nabawi untuk pertama kalinya :).

***
Tiba di Masjid, ternyata pintu masjid masih ditutup. Sekarang waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Sedangkan pintu dibuka pukul 03.15. Terpaksa kami harus menunggu dulu di luar masjid. Sementara itu, hembusan angin benar-benar dingin menusuk, dan tidak pernah berhenti. Angin besar seperti di pantai. Walau sudah memakai masker, tapi angin tetap dapat masuk ke dalam rongga hidung. Terasa sekali udara kering masuk menelusup bersama nafas kita dan sangat kering, membuat hidung terasa perih sekali. Mungkin baru hari pertama di Madinah. Atau karena maskernya pun hanya masker biasa ala dokter itu (yang berwarna hijau). Saya masih harus menutupi hidung lagi dengan sajadah, agar hidung tidak berasa perih sekali. Alhamdulillaah.. akhirnya pintu pun terbuka. [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home