Kesan Ke Raudhoh
[Madinah] Sebagian besar yang lain (bahkan hampir semua), hanya cukup ke Raudhoh satu kali saja. Karena katanya, di Raudhoh itu tempat rawan banyak terjadi kecelakaan, jadi jangan dipaksakan ke sana. Itu semua cuma sunnat, begitu kata mereka. Bahkan, ketika mereka tahu saya sering ke Raudhoh, respon mereka malah geleng-geleng kepala :). Katanya, gak papa lah, kamu masih muda, jadi masih kuat harus desak-desakan dan bertahan di sana.
Padahal.. kesan saya ke Raudhoh di antaranya sbb:
1. Selama saya ke Raudhoh, saya tidak pernah merasakan desak-desakan atau harus bertahan akibat dorongan/desakan yang lain. Memangnya di sana sedang perang, sehingga harus bertahan dari dorongan sana-sini ? :).
2. Selama melihat sikon para jamaah haji ketika menuju Raudhoh, dimana berlarian, berhamburan, hingga ada yang jatuh lalu terinjak, menangis dengan keras, satu sama lain berpegangan erat--mungkin takut hilang--tapi hal ini menghalangi jamaah lain, dsb. Sambil berjalan menuju Raudhoh--di tengah hiruk pikuknya suasana--saya merenung, bagaimana jika Rasululloh masih ada di tengah-tengah kita? Berhaji bersama? Menuju Raudhoh bersama? eh.. beliau pasti sudah tinggal di Raudhoh (dalam rumahnya). Apakah beliau tidak marah ketika mendengar suara gaduh di luar? Ketika melihat banyak yang menjadi korban padahal tidak sedang berperang? hanya dalam rangka berdoa saja? Subhanallaah..
3. Ketika berada di Raudhoh, suasana di sana pun masih ada yang 'berbau syirik'. Misal : mencium-cium tali yang terikat pada tiang, guna tempat berlindungnya para askar dari desakan jamaah haji, atau menangis meraung-raung ketika berdoa. Padahal sebelum masuk ke Raudhoh sudah ada bimbingan dulu, ceramah singkat dari askar yang berbahasa sesuai jamaah pada waktu itu. Misal giliran jamaah melayu, maka yang memberikan ceramah akan berbahasa melayu. Bila jamaah Arab, berbahasa Arab, dst.
4. Pertama kali ke Raudhoh, saya sudah menyusun strategi sendiri, walau saya belum pernah ke sana. Tapi karena sudah sering mendengar cerita bahwa di Raudhoh sering terjadi kecelakaan akibat desakan, injakan, dorongan para jamaah lain, maka saya ambil kesimpulan : kalau begitu, saya harus menghindari momen-momen seperti itu. Yang sebagian besar adalah karena ‘emosi’ para jamaah itu sendiri. Jika jamaah tidak emosi, bagaimana bisa terjadi saling mendorong, saling mendesak, bahkan menginjak jamaah lain yang jatuh? Padahal tujuan ke Raudhoh adalah untuk beribadah. Maka saya akan memakai cara ibadah juga untuk mencapai Raudhoh.
5. Ketika menuju ke Raudhoh seperti lalat yang datang berbondong-bondong, terbang menyerbu makanan, dengan suara yang sangat bergemuruh. Para jamaah haji langsung berlarian menyerbu Raudhoh seperti sedang berperang atau lebih halus lagi suasananya seperti sedang berdemo memperjuangkan hak kita. Orang tidak sabar berjalan, semua berjalan cepat, bahkan berlarian--tubruk sana-sini, tidak peduli kepentingan orang lain, melanggar hak orang lain, dsb. Tidak ada suasana yang khusyu' pada saat itu. Padahal ke Raudhoh adalah untuk sholat dan berdoa. Alangkah indahnya jika pada saat itu, suara tasbih yang berkumandang menggelegar awan. Dzikir, berdo’a, baca Al Qur’an dapat kita lakukan saat itu atau ketika menunggu pintu Raudhoh dibuka (pintu pembatas antara tempat sholat ikhwan dan akhwat).
6. Selama di Raudhoh, berjalanlah dengan tenang mencari tempat yang kita inginkan. Tidak perlu terburu-buru harus sholat. Lalu sholat dengan khusyu' dan berdo'a sepenuhnya.
7. Para askar pun baik bila kita baik. Saya tidak pernah terburu-buru, selalu memegang tasbih dan berdzikir. Askar malah menyilakan saya masuk dan sholat di tempat yang saya inginkan. Jamaah lain diusir-usir, sementara saya dijaga oleh askar ketika sholat. Saya malah dapat melaksanakan beberapa kali sholat dan berdoa dengan khusyu' dan lama. Sementara yang lain sudah disuruh pergi. Sampai saya malu hati sendiri karena masih di sana saja. Akhirnya saya pergi karena kemauan saya sendiri. Subhanallaah..
8. Resapi dan hayati Do’a di raudhoh. Doanya sangat bagus, sependek pengetahuan saya, do’a Raudhoh sangat indah dan do’a terlengkap yang pernah saya tahu (sehingga seharusnya saya tahu do’a ini dari dulu :( ).
9. Pergunakan waktu di Madinah sebaik-baiknya. Jika sudah tiba di Madinah, sangat sayang jika ke Raudhoh tidak dimasukkan dalam jadwal rutin sehari-hari. Momen ke Raudhoh tidak pernah datang dua kali. Apalagi Raudhoh adalah tempat mustajab.
10. Alangkah enaknya, bila dapat selalu ke Raudhoh dan disana benar-benar semata-mata untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, berdoa sesungguh-sungguhnya. Dan tidak lupa mengenang dan (semoga dapat) mencontoh bagaimana dulu Rasulullah hidup pada masa itu, tinggal di rumah ini, bersebelahan dengan masjid, dan apa saja yang beliau lakukan untuk perjuangan Islam, juga perjuangan membentuk keluarga bersama istri-istrinya yang tinggal di sebelah masjid Nabawi juga, hanya dipisahkan oleh kamar per kamar :). [Alivia]
Labels: di Madinah


0 Comments:
Post a Comment
<< Home