6/06/2006

Berombongan ke Raudhoh

[Madinah] Pengalaman hari ketiga pergi ke Raudhoh, saya pergi bertiga --bersama dua orang teman yang selama di Madinah belum pernah ke Raudhoh. Yang satu orang sudah pernah ke Raudhoh, karena sudah haji.

Untuk pergi berombongan seperti ini (tidak sendirian) sebenarnya juga tidak ada masalah. Kami pergi dengan cara yang sama seperti saya pergi di hari pertama. Pada awalnya, semua berjalan lancar selama di masa antrian dan duduk dalam barisan kelompok Asia.

Tapi kemudian, jamaah Asia semakin banyak dan semakin sulit diatur. Mungkin pada hari ketiga saya di Madinah ini, kloter-kloter dari negara-negara sudah mulai berdatangan memenuhi masjid.

Para jamaah ribut dan berjatuhan

Dan pada kesempatan ini, terjadi heboh di barisan kami. Di antaranya karena jumlah para jamaah yang sangat padat, sehingga saking tidak mendapatkan tempat untuk berdiri terjadi saling mendorong. Berdiri tegak dengan posisi yang nyaman saja sangat sulit. Mungkin hal ini yang menyebabkan gerak sedikit saja jadi mendorong jamaah lain, dan jamaah yang terdorong ikut mendesak jamaah sebelahnya,dst. Akibatnya seperti saling mendorong, padahal mungkin mereka tidak bermaksud begitu.

Situasi saat itu benar-benar para jamaah panik. Saking padatnya, untuk bernafas saja dirasakan sangat sulit. Alhamdulillah saya termasuk yang tinggi, sehingga dapat mendongakkan wajah ke atas guna menghirup udara, tapi buat yang lebih pendek? apalagi yang sudah berumur? Sehingga saat itu, sebelah-sebelah saya banyak yang berguguran, pingsan, dan digotong keluar barisan. Dan banyak juga yang segera meninggalkan barisan. Situasi saat itu memang sangat kisruh dan tidak teratur.

Sangat terasa, para jamaah Asia sulit sekali diatur. Para askar benar-benar kewalahan dan menyerah bagaimana cara mengatur jamaah Asia yang berperilaku seperti tidak selayaknya seorang haji. Tapi kondisi penuh dengan emosi, menguras energi, saling bertahan, saling ingin lebih dulu, menginjak dan mendesak yang lain -- padahal yang didesak itu sesama sudah berumur, dsb.

Yang akhirnya, giliran masuknya jamaah Asia pada hari itu sempat ditunda. Kami diberi ceramah dulu oleh seorang askar yang menyampaikannya dengan sangat enak dan berbahasa melayu. Dan barulah kami dipersilakan masuk.

Dan entah karena insiden pada hari ini atau bagaimana, maka kebijakan jamaah Asia yang mendapat kesempatan dua kali untuk masuk ke Raudhoh, pada hari ini dibatalkan. Dan begitu pula untuk hari-hari selanjutnya :(.

Sholat di Raudhoh

Tiba di Raudhoh, karena kami bertiga, untuk mencari tempat sholat kami harus mencari tempat yang langsung muat untuk bertiga. Ini agak sulit dibandingkan dengan sendirian. Jika sendirian kita bisa selap-selip. Alhamdulillah akhirnya dapat (tapi seada-adanya--kalau sendirian kita bisa memasang target tempat sholat kita dimana). Lalu kami pun sholat. Pada awalnya, kami pakai acara saling menjaga dari dorongan/dilangkahi jamaah lain. Tapi akhirnya kami langsung saja sholat semua.

Tapi kami lupa, sholat dan doa setiap orang pasti berbeda. Padahal jika berombongan pasti akan saling tunggu. Dan buat saya pribadi, ini mengganggu konsentrasi dalam sholat dan berdoa. Terpaksa sholat dan doa saya pun hanya sebentar :(. Karena ternyata dua teman saya sudah selesai duluan, dan mereka menunggui saya tepat di sebelah saya. Tentu hal ini menjadi perhatian para askar. Dan askar pun menyuruh mereka pergi.

Dan karena mereka menunggu saya, maka otomatis saya yang sedang sholat pun jadi disuruh pergi oleh askar (didorong-dorong). Saat itu, saya benar-benar merasakan betapa ni’matnya pergi ke Raudhoh di hari pertama, sendirian. Dimana tanpa ada perhitungan, yang pertama kalinya pula, sendirian pula, belum tahu tata cara, aturan, dsb, semua berjalan alami, tapi malah mendapatkan kesempatan di Raudhoh yang paling ni’mat di antara hari-hari berikutnya.

Mungkin ada sedikit tips untuk yang pergi berombongan. Sepertinya tidak ada salahnya, ketika sholat berpencar untuk sementara. Mendapatkan tempat, berdoa, dsb. Tapi sebelumnya sudah buat perjanjian dulu dengan rombongan, misal tunggu di pintu no sekian.

Sedangkan jika ingin pergi/pulang sendirian pun sebenarnya tidak ada masalah. Dengan syarat : kita sudah hafal bentuk masjid(pintu gerbang), dimana arah hotel, kita berada di posisi sebelah mana mesjid (utara/selatan/dsb), dan bagaimana cara pulang ke hotel. [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home