6/05/2006

Tasbihku...

[Madinah] Setelah berdoa dan membaca Al Qur’an, saya bergegas pulang ke penginapan. Saya terburu-buru ketika membereskan tas, dan sengaja tasbih tidak dimasukkan dalam tas, karena saya ingin memakainya sambil berjalan pulang menuju hotel.

Tapi, ternyata tasbih mutiara itu hilang :(. Entah di mana. Kaget, sedih, dan sekaligus khawatir, karena tasbih mutiara itu milik ibu yang sudah diamanahi khusus bahwa tasbih ini jangan hilang. Teman-teman pun sangat menyayangkannya, karena mereka pun baru melihat ada tasbih sebagus itu – padahal sudah pernah berjalan-jalan keliling tanah suci untuk kesekian kalinya.

Keraguan menyelimuti diriku, antara memberitahu ibu atau tidak. Saya sungguh terbebani amanah tersebut. Dan kebetulan lagi, pagi itu akhirnya saya menemukan wartel (yang sudah 2 hari saya cari). Dan memang ingin sekali menelpon, terutama kangen anak saya. Akhirnya, saya pun menelpon dan berencana tidak dulu bercerita tentang tasbih yang hilang. Tapi apa daya, percakapan meluncur apa adanya. Ibu yang biasanya ‘marah’, tapi saat itu hanya berkomentar : “Oh hilang. Ya sudah.” Saya betul-betul tenang atas responnya. Tapi saat itu pula, saya jadi bertekad ingin menggantinya walau harganya mahal sekalipun.

Mmh.. dipikir-pikir.. sepertinya hilang tasbih ini teguran juga buatku. Mungkin karena tasbihnya terlalu bagus untukku, dan terlalu banyak yang memuji, mungkin hal itu akan membuatku menjadi ‘sombong’. Maka, Allah hilangkan tasbih itu. Jadi, ya sudahlah.. Sekarang bagaimana caranya saya mendapatkan penggantinya. Dan saya pun ingin membelinya satu buatku sendiri :).

***
Tapi seluruh toko tasbih sudah dimasuki, bahkan sepertinya sudah keliling seluruh pertokoan Madinah sekitar masjid Nabawi, demi mencari tasbih mutiara. Tapi tidak dapat menemukannya :(. Pernah saya menemukannya di pasar makam Baqi, tapi alhamdulillah saya tidak jadi membelinya. Karena ternyata itu plastik. Kata tukang tasbih lainnya tasbih tersebut harus dibeli khusus di toko emas agar terjamin pula keasliannya. Belinya pun harus ditimbang.

Kemudian, saya coba masuk ke beberapa toko emas (kebetulan yang dekat makam Baqi, di daerah hotel Andalas). Dan ternyata memang banyak sekali tasbih mutiara di sana dan indah-indah. Tapi harganya sangat mahal! :(.

Setelah ditimbang, harganya dapat mencapai sekitar 150SR (dari sekitar 200-an SR) hanya untuk sebuah tasbih berjumlah 33 butir! Itupun sudah hasil tawar-menawar. Masya Allah…
Kelalaianku harus ditebus sangat mahal :(. (Note : 1 SR sekitar Rp. 2900 saat itu).

Boro-boro saya beli satu lagi untuk diriku sendiri. Beli satu saja sepertinya uang sangat sayang jika dipakai beli tasbih saja :(.

***
Dua hari kemudian, ternyata tasbih satu lagi pun ikut hilang -- yang batu hijau. Mmh.. sudahlah. Saya tidak mau banyak memikirkannya. Toh ibu pun sudah tahu dengan respon yang sama—seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi saya harus beli tasbih lagi, minimal satu, untuk dipakai sehari-hari. Kadang, dzikir berjalan itu masih lupa jika tidak pegang tasbih. Karena selama di Madinah (apalagi di Makkah) banyak sekali pemandangan/peristiwa yang selalu menarik perhatian :). [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home