6/23/2006

Pertokoan seberang Raudhoh Masjid Nabawi

Toko-toko yang mengepung seluruh sudut masjid sangat menggoda sekali ;).
Hehe.. pasti ingin sekali berkunjung ke sana, walau sekedar menengok sedikit-sedikit mah… ;)

Pada hari pertama, saya berhasil melewati pertokoan itu hanya sekadar lewat saja. Mungkin karena badan masih letih..
Pada hari kedua di Madinah, saya masih belum ada minat untuk belanja. Saya masih adaptasi penyusunan jadwal dan menghemat energi :). Sementara teman sekamar sudah mulai pulang lebih telat karena jalan-jalan dulu :). Sambil menunggu teman pulang (karena kunci dibawa mereka),saya menumpang dulu di kamar 3 darra lainnya ;).

Pada hari ketiga, dibuatlah tata cara pegang kunci. Karena saya tidak ingin menunggu lagi, sebab ingin langsung tidur, maka kunci dititipkan di resepsionis hotel. Tapi pada hari ketiga ini, tepatnya malam ketiga di Madinah, malah justru saya pulang paling telat dibandingkan yang lain :).

Saya yang sebelumnya sudah tidak ingin belanja, tapi karena ada keinginan untuk mengganti tasbih yang hilang, akhirnya jalan-jalan. Dengan niat awal dan utama, untuk mendapatkan pengganti tasbih yang hilang :).

Dan benar.. dugaan sahabat.. ;)
Itu cuma niat awal :). Toko-toko yang bertebaran di mana-mana, letaknya berdempet-dempetan, tersedia bermacam-macam jenis, beraneka warna, dari mulai asesoris kecil-kecil, bermacam-macam tasbih, permadani, sajadah, pakaian dewasa, anak kecil, daaan sebagainya.. semua tersedia.

Ditambah lagi, saya mempunyai seorang guide untuk berbelanja pada malam keempat ;). Beliau ini seorang ibu, yang duduk di sebelah saya, ketika sedang sholat magrib. Diawali dari berkenalan, lalu mulai bercerita. Biasa.. ibu-ibu.. ;). Dan ternyata beliau berjualan dan mempunyai toko pakaian anak.

Kemudian saya bertanya tentang sajadah sulaman tangan, yang sepintas kemarin, saya tidak menemukannya di toko manapun. Tapi kata ibu itu, sepertinya beliau pernah melihat sajadah yang saya gambarkan itu. Maka terjadilah perjanjian, setelah sholat isya’ ini, kita akan jalan-jalan bersama :).

Sajadah sulaman

Selesai sholat isya dan berdoa, saya langsung diantar menuju toko yang dimaksud (berada di pertokoan berlawanan dgn arah Raudhoh – saya bingung kiblat di sana, apakah menghadap barat bukan ya :)). Dan ternyata benar, sajadah itu yang saya maksud.

Terjadilah tawar-menawar. Dan itupun yang menawar saya percayakan pada si ibu tadi, sebagai seorang ibu yang sudah pakar menawar di kelas tanah abang gitu loh :). Tapi pada akhirnya, si penjual memberikan harga tawar terendah bukan karena si ibu pintar menawar, tapi ‘hanya karena’ beliau suka ke saya.. (??#%*$!)

Hehe.. aneh?
Tapi begitulah iklim di Arab.
Bila penjual suka pada pembeli, maka harga termurah dapat dengan mudah didapat :).
Maka untuk wanita-wanita melayu, berhati-hatilah dalam berbelanja. Walau saya selalu memakai cadar (masker dokter warna hijau), tapi hal itu tetap terjadi, dan bukan hanya sekali dua kali. Malah hampir di setiap belanja :(.

Pada saat tawar-menawar terjadi, memang penjual meminta saya untuk melepas maskernya. Tapi saya jawab “haram”. Dan diresponi dengan tawaan si ibu bersama penjualnya. Yang akhirnya malah si penjual itu mau memberikan harga termurahnya :).
Ini bukan KKN loh.. :). Saya sih alhamdulillaah.. dapat sajadah dengan harga termurah itu :).

Membeli pakaian anak

Dari situ, kami berkeliling lagi. Dan ternyata banyak pakaian anak. Berbagai macam jenis pakaian anak sepertinya tersedia di sini. Jenisnya pun dari berbagai model negara, dengan harga yang murah-murah (jika dibandingkan dengan di Indonesia) ;). Bagi yang ingin membeli pakaian anak, jangan lewatkan beli di sini (di area pertokoan yang sama dengan sajadah tadi, yaitu di arah yang berseberangan dengan Raudhoh masjid Nabawi :) ).

Karena ketika di Makkah, saya tidak menemukan pakaian anak yang bagus-bagus begini, walau saya sudah keliling (pasar seng, depan RS Ajyad, dan .. lupa…. :)).

***
Tak terasa waktu sudah pukul 21.45. Maka kami sepakat pulang. Si ibu berniat mengantarkan saya ke hotel. Tapi karena sudah semakin larut, saya menolaknya. Sehingga hanya diantarkan sampai ke masjid. Dari masjid, saya segera bergegas, setengah berlari melewati masjid Nabawi—yang pintu-pintunya sudah mulai ditutup--- menuju hotel, yang terletak di seberang sana.

Ketika tiba di hotel, semua teman bernafas lega sambil berkomentar, “aduh.. aliff.. kemana aja? Kirain teh nyasar.. :)”. Aku jawab, “Nggak, ada yang mau nganterin belanja, jadi aja pergi jalan-jalan dulu :)”. [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home