6/05/2006

Tips berwudhu (ke toilet) di Masjid Nabawi

[Tips] Toilet di Madinah sangat bagus, bersih, rapi dan aman. Beda dengan di Masjidil Haram. Mungkin karena toilet di sana lebih besar kali ya. Saya hanya sekali ke toilet masjidil Haram, karena tidak kuat wanginya yang sudah mulai tercium dari luar. Ketika turun tangga ke bawah menuju toilet, suasananya agak gelap, dan agak sepi. Lain sekali dengan toilet di Masjid Nabawi Madinah.

Saya malah sangat nyaman pergi ke toilet masjid Nabawi ini. Walau sendiri, tapi terasa sekali aman dan nyamannya. Rata-rata orang malas pergi ke toilet, karena selain jauh (harus ke luar masjid), juga diamanahkan oleh pembimbing harus ada teman, tidak boleh sendiri.

Tapi melihat kondisi toilet masjid Nabawi, saya menyimpulkan tidak apa-apa pergi sendiri. Dan setiap harinya, sampai lebih dari 2 kali saya selalu pergi ke toilet ini dan merasa biasa saja. Bahkan dini hari pun, sekitar jam setengah 5 pagi (1.5 jam sebelum sholat shubuh saja), saya masih merasa nyaman untuk ke toilet ini, dan bukan hanya berwudhu :).

Inilah toilet di Masjid Nabawi :
Nampak dari luar :


Ratusan toilet berjejer rapi dan banyak :





Tempat wudhunya berjumlah ratusan dan berjejer rapi serta bersih, dengan air yang melimpah :



Teman-teman saya akhirnya pernah minta diantar ke toilet karena sudah tidak tahan. Saya antarkan mereka. Tapi terlihat sekali mereka seperti cemas, ketakutan nyasar, dan tidak dapat bertemu lagi dengan teman-temannya.

Ternyata disebabkan oleh tidak dapat menghafal bentuk utama toilet masjid ini. Karena memang toilet masjid Nabawi ini besar juga, sbb :
1. bertingkat-tingkat ke bawah tanah
2. ada dua pintu masuk (yang satu tangga berjalan – untuk yang tingkat lebih bawah lagi, dan satu lagi tangga biasa). Saya lebih nyaman pakai tangga yang biasa ini.
3. Tempat wudhunya yang banyak, dalam satu lantai saja bisa berjumlah ratusan buah.
4. Yang menyebabkan kebingungan di manakah letak toiletnya itu sendiri. Yang rata-rata harus berputar dulu ke belakang, dan jauh di ujung setelah tempat wudhu ini, baru terdapat puluhan toilet juga :).
5. Kebingungan terjadi ketika keluar dari toilet, mereka langsung cemas harus belok kanan atau kiri. Padahal umur mereka pun masih 40 tahunan dan berpendidikan semua (minimal S1). Bahkan ada yang sudah sering ke luar negeri.
6. Sebenarnya tidak perlu bingung, mau belok kanan atau kiri, pasti jalannya menuju pintu yang sama ketika masuk tadi :).
7. Memang ada toilet yang mempunyai pintu belakang. Tapi tidak pernah dibuka (selalu ditutup oleh pagar dan terkunci).

Kesimpulan :
Jika mendesak dan tidak ada teman, maka tidak mengapa ke toilet tidak bersama teman, asal kuncinya tetap berhati-hati dan jaga diri. Tetap harus waspada dan berhati-hati. Amati terlebih dahulu lingkungan ketika mau turun tangga toilet. Di tempat penjaga (pos kecil), suka ada yang menunggu di sana—seharusnya sih perempuan juga, entah itu sedang beristirahat atau memang laskar. Tapi saya pernah melihat yang duduk adalah laki-laki. Kalau sudah tahu begitu, saya benar-benar waspada. Melihat-lihat dulu apakah ada laskar perempuan di bawah sana yang dapat dengan mudah dimintai tolong atau tidak ada. Karena di bawah sana, sebelum pintu masuk utama toilet, selalu ada pos penjaga juga. Jika tidak ada dan sikon toilet sepi, saya lebih memilih tidak jadi. Tapi selama ini belum kejadian. Karena toilet selalu ada penjaga wanitanya. Selama masih ada penjaga, saya selalu melanjutkan ke toilet, walaupun tempat berwudhu sepi sekalipun. Insya Allah aman. Tapi kejadian itu (yang duduk di pos luar itu lelaki) baru terjadi sekali saja.

Jadi tidak perlu khawatir dan pakailah toilet senyaman mungkin yang mendukung ibadah anda :). [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home