6/04/2006

Teman Sekamar

Aku sekamar dengan 2 orang guru SMA, guru BP dan guru Kimia sebuah SMA Negeri di kotaku. Yang guru BP, terlihat sekali orangnya halus, tutur katanya halus, sopan, penuh perhatian, keibuan, supel. Melihat yang begitu sempurnanya, aku tetap menjaga sikap jangan sampai aku berbuat salah :).

Yang satu lagi, guru kimia. Berbeda sekali dengan temannya. Beliau agak tegas, jika berbicara to the point, terstruktur, pintar, terlihat sekali guru kimianya :). Dan beliau juga suka membantu, dan ternyata sangat pintar mengepak barang. Katanya akibat sering berpergian dan punya hobi mengepak barang.

Mengenai mengepak barang ini, aku baru ngeh maksudnya. Ngobrol punya ngobrol, ternyata beliau sudah pernah keliling Eropa. Aku sangat terkejut mendengarnya, mengingat beliau guru SMA. *Maaf bu guru, aku bukan bermaksud merendahkan*.

Tapi hingga saat ini, di tengah guru-guru masih protes minta kenaikan gaji, tidak diperhatikan oleh pemerintah, karena tidak dipungkiri dengan gajinya yang kecil, kesejahteraan tidak diperhatikan, bagaimana mungkin bisa pergi keliling Eropa.

Dari penampilan, temanku itu tidak seperti yang bisa berbahasa Belanda dengan fasih. Juga tidak seperti seseorang yang modern serta gaul. Tapi memang benar, beliau sudah keliling Eropa, bahkan pernah tinggal selama sebulan di Belanda.

Beliau cerita, bisa pergi berkeliling begitu, karena kakaknya tinggal di Belanda yang mendapatkan suami asal Belanda dan bekerja sebagai seorang pilot.

Dari latar belakang itu, aku baru dapat mengangguk :).

***
Ternyata tetangga sebelah kamar pun tidak jauh berbeda dengan teman sekamarku. Kami menyebut mereka 3 darra :). Padahal sudah berumur 60 tahun lebih semua :). Mereka adalah 3 bersaudara, semua wanita yang tangguh. Pergi haji sendiri, karena para suaminya sudah dipanggil lebih dahulu. Salah satu dari mereka (guru di SMPku, yang ternyata merupakan gurunya teman sekamarku), suaminya baru meninggal 1 tahun yang lalu. Cerita beliau, pergi haji akibat dorongan serta desakan dua saudaranya yang lain. Agar beliau dapat refreshing, melupakan kematian suaminya. Sebelumnya, beliau memang sudah berhaji.

Dua orang lainnya ternyata adik kakak kandung. Yang kemudian diketahui, mereka bertiga bukan bersaudara. Tapi, suami guru SMP itu adalah teman baik kakak beradik itu.

Sedangkan kami sendiri, dipanggil mereka adalah 3 gadis :D. Karena pergi sendiri-sendiri juga, tapi level umur masih lebih muda kali ya, jadi identik dengan gadis :D.

***
Mereka bertiga itu, ternyata sudah sering keluar negeri pula. Salah satunya, guru SMPku itu. Beliau bersuamikan seorang guru juga (SMA). Tapi beliau sudah keliling negara-negara di Asia Tenggara. Minimal Negara-negara yang terkenal tempat wisatanya.

Hal ini membuat aku tercenung. Bisa ya ? Sementara aku, pegawai swasta, yang bisa dibilang gajinya jauh di atas guru SMP atau SMA itu, kok ya masih belepotan dalam hal menabung, apalagi harus keluar uang jalan-jalan ke luar negeri :D.

Sedangkan dua lainnya saya maklum, karena mereka memiliki sambilan berdagang. Dan berdagangnya pun tidak tanggung-tanggung, jualan motor :). Padahal seorang wanita, berbadan kecil, tapi lincahnya.. luar biasa! Subhanallah.. :)

Itulah sekilas teman-teman sekamarku :). Kelak di Makkah, mereka semua benar-benar menjadi teman sekamarku, tapi hanya satu kamar saja, dan tidak satu kegiatan bersama, karena di Makkah alhamdulillah saya berpisah dari rombongan. [Alivia]

Note : untuk cerita kenapa berpisah dan kenapa Alhamdulillah.. nantikan cerita selanjutnya di Makkah :).

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home