5/12/2006

Keberangkatan

Akhirnya tiba juga waktu keberangkatan ke tanah suci pada pagi dini hari, tanggal 10 Desember 2005. Tapi, entah karena grogi atau masih pagi sekali, nafsu makan hilang sama sekali, sehingga tidak dapat masuk sarapan. Alhamdulillah, ibu dan bibiku sudah membuatkan lemper ketan isi ayam kesukaanku :). Walau masih pagi, tapi bismillah.. aku memakannya. Bagi para sahabat, silakan mengantisipasi untuk sarapan paginya ketika berangkat. Siapa tahu mengalami hal seperti itu juga :).

Jam baru menunjukkan pukul 03.00. Menurut jadwal Depag, saya sudah harus berkumpul di Mabes Polri pada jam 05.00 dan berangkat ke embarkasi jam 07.00. Saya ambil nyamannya saja, baru pergi setelah sholat shubuh. Itu pun molor hingga jam 06.00 baru pergi. Silakan para sahabat mengambil keputusan disesuaikan dengan jadwal keberangkatan yang tercantum :).

Ketika menuju Mabes, perjalanan macet. Karena kami khawatir terlambat sebab antrian sangat panjang dan masih lama untuk putar balik menuju Mabes. Akhirnya kami parkir di seberang jalan Mabes saja. Tidak apa-apa lah jalan sedikit, hanya tinggal menyebrang saja. Kemacetan pada saat pemberangkatan calhaj memang sering terjadi apalagi saya sudah telat.

Tapi saya geleng-geleng kepala ketika mendengar jawaban teman--yang sudah berkumpul dari jam 04.00--bahwa macet itu sudah terjadi dari pagi jam 04.00! Ya sudahlah :). Silakan sahabat tentukan sendiri mau pergi jam berapa :).

Sebelum sama-sama pergi ke Mabes, teman-teman dan para saudara berkumpul di rumah sejak sebelum Subuh. Mereka kembali mengingatkan padaku agar selalu ingat apa makna haji, melakukan haji dengan khusyu, membaca doa dengan bersungguh-sungguh, dan jangan lupa selalu berdzikir. Untuk itu, saya dianjurkan membawa tasbih.

Walau tidak ada maksud untuk mendewakan tasbih, tapi selalu membawa tasbih memang sangat membantu. Sesaat sebelum pergi itu, saya tergesa-gesa mencari tasbih (karena memang saya tidak biasa memakainya ^_^), akhirnya segera pinjam tasbih ke ibu :).. [Nantikan kisah tentang tasbih ini :)].

Dengan tergesa-gesa, ibu memberikan 2 jenis tasbih. Dan semuanya bagus alias mahal menurut ukuranku untuk sebuah tasbih :). Yang 1 adalah tasbih mutiara asli berjumlah 33 butir, yang akan dibawa-bawa sehari-hari sambil berjalan kemana pun pergi. Yang 1 lagi, tasbih batu hijau, berjumlah 100, berukuran kecil, imut, pas di tangan, untuk dibawa pas wukuf di Arafah. Saya segera menyimpannya baik-baik di tempat yang terjangkau dengan mudah. Alhamdulillah selesai satu perkara.

Sebelum masuk mobil, tidak lupa saya membawa lemper ayam dan lontong sayur buatan ibu dan bibi. Mmh.. nyam..nyam.. enak sekali! Hampir saja saya tidak mau membawanya karena tas sudah tidak muat :). Tapi alhamdulillah dipaksa-paksa untuk dibawa. Dan sangat berguna ketika ketika saya kelaparan di dalam bis yang ber AC menuju embarkasi :). Dan karena jumlahnya banyak, teman-teman pun dapat ikut terbagi.

Tapi sayang, yang habis laku termakan hanya lemper ayamnya saja. Lontong sayur kurang laku. Padahal keesokan harinya lontong sayur itu sudah bau. Terbuanglah si lontong sayurku.. :(. Pelajaran next haji (amiiin :) ), jangan bekal lontong sayur, tapi bawa saja lemper ayam yang enak dan banyak. Hehe.. [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home