5/12/2006

Perjalanan menuju Embarkasi

Dalam perjalanan ini, bagi yang tidak kuat AC, siapkanlah jaket di luar. Dan saya pun mengeluarkan Al quran digital juga permen. Mulai detik keberangkatan ini, saya sudah bertekad akan mengisi waktu dengan sebaik-baiknya. Jika bis eksekutif AC luar kota mungkin akan full music. Tapi karena ini bis eksekutif AC mengangkut calon jamaah haji, nuansanya seharusnya full dzikir dan Islami. Ah indahnya bayangan itu..

Saya benar-benar rindu suasana Islami. Mungkin karena terlalu sering melihat bagaimana bercampurnya pria dan wanita di dalam bis. Yang perempuan dengan pakaian yang serba mini, ketat. Ditambah berkeliarannya mata-mata jalang plus jahat dari kaum adam.

Tapi jangan heran, jika di bis nanti yang terjadi memang tinggallah bayangan indah. Dalam bis, ribut dengan canda tawa layaknya akan tur, rekreasi ke sebuah tempat wisata. Nuansa Islami tenggelam dengan suara tawa yang menggelegar, karena kebetulan ada seorang calon jemaah haji yang hobinya selalu bercanda. Tenaganya sangat besar, sehingga membawa suasana dalam bis menjadi kocak. Riuh rendah tawa kerap terdengar. Dan suara atau obrolan penuh hikmah menjadi samar terdengar.

Pembicaraan tentang tata cara haji, doa-doa, makna haji atau hal-hal yang berkaitan, otomatis berhenti sendiri, karena topik terbawa ke suasana bis.

Butuh mandiri sendiri jika ingin segala sesuatunya sesuai dengan rencana dan jadwal haji. Curhat antar sesama calon jemaah haji sudah mulai terjadi di antara sesama calon. Mungkin ini tanda keeratan persaudaraan mulai terjadi. Tapi guyon-guyonan ala orang tua pun sudah mulai tersinggung. Bagi saya sendiri.. saya menyayangkan hal itu terjadi. Dalam bis calon jamaah haji, yang saya bayangkan penuh dengan takbir, tahmid, tahlil, dan seruan panggilan haji (labbaikallohumma labbaik.. labbaikala syarika laka labbaik)

Entah apakah ini karena Haji Mandiri dimana segala sesuatunya harus serba mandiri. Sehingga tidak ada yang mengarahkan atau bagaimana.

Tapi, yang saya rasakan memang saya harus mandiri dapat memotovasi diri saya sendiri bahwa sekarang waktunya dzikir, sekarang waktunya menyalakan Al Quran Digital saya, sekarang waktunya saya ngobrol – yang tidak lepas juga dari dzikirnya kepada Allah.

Dan memang.. kesabaran dari mulai detik ini sudah diuji. Maka bersiap-siaplah, bawa bekal sabar yang sebanyak-banyaknya sejak berangkat dari rumah—bahkan sejak sebelum keluar rumah tadi pagi (atau bahkan sudah mulai sejak manasik terdahulu :) ). [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home