5/12/2006

Tiba di Hotel

Kloter kami tiba di penginapan Madinah sudah menunjukkan pukul 19.30. Setiba di sana, koper-koper belum diturunkan semua. Dan kami sangat kesulitan mencari koper di antara 450 koper lainnya.

Dan ternyata juga, koper-koper tersebut tidak diantar sampai ke depan kamar kita, sebagaimana diberitahu ketika di tanah air. Katanya, cukup dengan kita membayar baksis (iuran pada ketua rombongan), maka semua akan diatur oleh orang-orang yang mengangkut (yang sudah kita bayar tadi). Tapi pada kenyataannya, koper itu saya angkut sendiri ke lantai 8 :).

Entah apakah terjadi pada rombongan saya saja atau semua yg HAJI MANDIRI dan KBIH lainnya harus mengalami seperti ini juga :).

***

Di Hotel Madinah, kami dibagi sesuai kapasitas kamar. Kebetulan di hotel kami, kamar yang tersedia adalah yang berkapasitas 3 orang, 2 orang, dan 4 orang. Sementara di hotel lain, ada yang berkapasitas 6 orang, 8 orang. Kondisi kamar tergantung hotelnya. Temanku yang lain, di hotel lain, kamarnya besar (untuk kapasitas 6 0rang), dan sudah diberikan fasilitas dapur dan ruang makan. Tapi di hotel kami tidak.

Hotel di Madinah ini cukup bagus. Seperti layaknya hotel bintang 3 saja. Di hotel kami, 1 kamar disediakan 1 kamar mandi, 1 TV, 1 kulkas.

Sedikit gambaran sikon dan fisik di Madinah sbb :
1. Udara memang terasa sekali berbeda, tapi sepertinya tidak langsung menimbulkan masalah. Yang penting bisa jaga diri tadi. Jangan lupa banyak makan buah-buahan dan ini memang selalu disediakan di setiap jatah makan kita.
2. Terasa tubuh lelah sekali, akibat perjalanan 9 jam dan selama dari embarkasi.
3. Siap-siap untuk kurang tidur. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

***
Khusus untuk point no 3, ada cerita sedikit :). Setelah membereskan koper, kami baru bisa tidur pukul 11 malam. Tapi baru jam 12 malam, sudah ada keributan di sebelah kamar. Yang ternyata kamarnya terkunci dan kunci ada di dalam kamar. Kebetulan kamar kita memakai system kartu. Sehingga jika kartu masih tertinggal di dalam kamar, lalu kita keluar, dan pintu tertutup, maka pintu otomatis akan terkunci. Mereka ribut dengan suara keras, membuat kita keluar untuk mengetahui ada apa. Tapi, walau pintu sudah terbuka kembali, mereka tetap mengobrol dan tertawa dengan suara keras. Dan ini cukup membuat saya tidak dapat tidur kembali hingga pukul 1 lebih. Padahal saya harus bersiap-siap bangun untuk ke mesjid Nabawi jam 02.00. [alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home