6/04/2006

Di Embarkasi

Di embarkasi ini saya harus menginap dulu semalam untuk menunggu pesawat. Tapi ada juga kloter lain yang tidak perlu menginap. Bersyukurlah bagi kloter yang tidak perlu menginap dulu, karena berarti bawaan dalam tentengan tidak perlu berat-berat bawa baju ganti :).

Apalagi jika embarkasinya di Bekasi. Bagi yang berasal dari daerah yang dingin/tidak sepanas Bekasi, tinggal di embarkasi--walaupun hanya 1 hari--sudah perjuangan sendiri :).

Banyak para calhaj yang tidak kuat dengan panasnya Bekasi. Kamar-kamar yang disediakan tidak ber AC, hanya disediakan kipas angin gantung, yang jika disetel pun akan berputar dan bertebaran kompak bersama debu-debu yang sudah mengendap lama di dalam kamar :).

Alhasil, banyak yang membuka kerudungnya ketika di dalam kamar dan harus selalu ganti baju karena basah kuyup keringat. Ada juga yang bolak-balik selalu mandi :). Bahkan mungkin karena saking tidak kuatnya, ke kamar mandi pun mereka tidak memakai kerudung (membuka auratnya). Padahal kamar mandi itu berada di luar kamar dan berhadapan dengan kamar mandi ikhwan. :(

Menutup Aurat

Hal (membuka aurat) ini terus berlangsung hingga malam harinya. Ketika kita harus mengadakan rapat, yang terjadi adalah kita rapat di dalam kamar – dengan bapak -bapak masuk ke kamar ibu-ibu (alias kamar kita)-- tanpa mengenakan kerudungnya terlebih dahulu. Bahkan yang sedang tidur pun dengan nyamannya tidur tanpa menggunakan kerudung dan lengkap dengan pakaian tidurnya ala di rumah :(.

Saya yang terus menggunakan kerudung, malah dikompori oleh yang yang lain untuk dibuka :). Melihatnya risi katanya. Tapi, alhamdulillah pada saat yang lain harus ganti baju karena basah oleh keringat, tapi sementara saya malah tidak merasakan panas sama sekali. Padahal percaya tidak, saya memakai pakaian hingga 4 lapis!! Karena saya tidak kuat AC bis, maka saya menyiapkan dari rumah dengan pakaian seperti itu. Subhanallaah..

Badan saya sama sekali tidak berkeringat. Sehingga ketika tidur dan esok bangun lagi, saya masih bisa pakai pakaian itu, tanpa harus repot-repot bongkar dan membereskan kembali tas tentengan saya :). Alhamdulillaah..


Posisi tempat tidur menentukan :)

Dan kebetulan, di kamar saya dapat tempat tidur yang berposisi enak, di ranjang bawah dan di pojok. Kebetulan model ranjang kami model 2 tingkat atas-bawah. Tapi karena ada teman (guru SMA) tidak mau di atas – padahal sisanya tinggal di atas, maka saya – sebagai yang muda – mengalah, boleh di ranjang atas.

Pada awalnya, saya agak pesimis bisa di atas. Karena dekat sekali dengan kipas angin, yang padahal saya alergi. Tapi ternyata, subhanallah.. tempat tidur di ranjang atas adalah tempat terbaik.

Oleh saya terasa sekali bedanya. Ketika saya diam sejenak duduk di ranjang bawah, saya malah batuk-batuk. Tapi ketika duduk di tempat saya yang baru (di ranjang atas) malah nyaman dan tidak panas.

Mungkin disebabkan oleh dekat lubang-lubang ventilasi, sehingga debu yang berputar bersama kipas langsung keluar (sirkulasi udaranya bagus). Sedangkan jika di bawah, malah tidak ada sirkulasi, karena pintu kamar pun selalu ditutup.

Keuntungan yang lain tempat tidur di atas yaitu aurat saya pun tetap terjaga. Karena ketika bapak-bapak kumpul rapat di kamar kita, duduk di bawah. Saya dengan enaknya tetap tiduran sambil pakai kerudung (tapi sekenanya, karena tidak terlihat) dan sambil membaca buku dengan nyaman, tanpa harus khawatir terlihat bapak-bapak. Karena walaupun bapak-bapak berdiri sekalipun, mereka tidak dapat melihat saya sedang apa.. karena tertutupi oleh tas dan kain yang digantung :). Alhamdulillah.. memang Allah Maha Tahu mana yang terbaik untuk kita. Yang penting kita tidak mengeluh dan melakukannya dengan ikhlas. Padahal sebelumnya, saya sudah 'malas' untuk ke atas loh :). Tapi alhamdulilah masih sadar untuk tidak terus 'malas' :).

Makan di Embarkasi

Untuk makanan pun, saya sudah bersiap-siap bekal makanan yang bisa saya makan dan praktis, karena saya ragu untuk makan daging sembelihan. Tapi ternyata, alhamdulillah.. menunya ikan :). Sehingga lemper ayamku masih aman untuk jaga-jaga berikutnya :).Alhamdulillah..

Sholat di Embarkasi

Saat Adzan Dzuhur berkumandang dari masjid embarkasi, ada yang langsung berwudhu dan sholat di kamar, ada juga yang sholat di masjid, tapi ada juga yang masih sibuk dengan aktivitas beres-beres perlengkapannya, atau bahkan masih tiduran melepas lelahnya perjalanan. Keimanan masing-masing nampaknya sudah diuji mulai dari sini. Pertemanan pun mulai teruji di sini. Apakah teman kita yang sudah dikenal selama manasik rajin ke masjid, bersegera sholat atau tidak. Nampaknya sudah dapat dinilai di embarkasi ini. Buat kita hanya sekadar informasi saja --jaga-jaga-- dan menentukan bagaimana sikap kita apakah kita akan ikut pada pola mereka atau bagaimana.

Mulai mengenal pola sehari-hari tiap jamaah

Untuk itu, mulai saat ini, kita akan berinteraksi dengan para calhaj lainnya. Termasuk mulai tahu karakter masing-masing para calhaj, di antaranya : apakah tidur melulu atau rajin ke mesjid :), dan bagaimana urusan makannya, bagaimana hijabnya dengan para calhaj yang ikhwan, bagaimana pedulinya, bagaimana tanggung jawabnya, dsb. Sedikitnya di sini mulai terlihat, walau belum menampilkan wajah yang sebenar-benarnya. Wong baru 1 malam :).

Kesimpulan kesan di embarkasi

Jadi, selama di embarkasi belum ada masalah yang berarti. Saya bisa mulai mengenal sesama para calhaj dan alhamdulilah masih dapat memberikan bantuan kepada mereka, yang kebanyakan sudah tua-tua, terutama dalam hal angkat-mengangkat tas tentengan :) [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home