8 Dzulhijjah
Karena saya tarwiyah, maka tanggal 8 Dzulhijjah saya tidak ke Arafah. Tapi ke Mina dulu untuk melakukan mabit di Mina. Kami ke Mina pakai angkot (namanya lupa, bentuk seperti elp di sini). Satu orang kena 10 SR. Perjalanan ke Mina saat itu tidak macet (kosong malah) dan tempat untuk berkemah pun masih kosong. Luas. Kami mencari tempat yang dekat dengan kamar mandi. Ketika mabit di Mina, saya tidak menemukan calhaj dari Asia. Mungkin ada tapi saya tidak tahu di mana tempatnya.
Mabit di Mina berlangsung tertib. Sesama calhaj mendirikan tenda yang dibawa masing-masing. Tapi ada juga yang tidak membawa tenda. Mereka tidur begitu saja beralaskan tikar dan berpakaian ihrom. Ketika waktu sholat tiba, kami –walaupun tidak saling kenal, dan tidak dapat berkomunikasi karena beda bahasa – tapi otomatis saling berkumpul dan berjamaah. Calhaj di tempat kami mabit, sebagian besar lebih banyak ikhwan.
Di Mina alhamdulillah tidak merasakan mengantuk. Malah semangat membaca Al Qur'an walau dengan lampu yang remang-remang dan kedinginan karena harus di luar tenda. Jika di dalam tenda gelap. Para calhaj lain pun begitu, ada yang membaca Al Qur'an dan ada juga yang tidur untuk istirahat. Semoga semangat ini dapat terus hidup. Amin.
Sedangkan untuk kamar mandi alhamdulillah cukup tertib. Kamar mandi akhwat tertutup rapi, sehingga relatif aman untuk aurat--walau harus berhati-hati juga. Kamar mandi di Mina sepertinya tidak pernah sepi. Dari siang, maghrib, hingga jam 2 pagi pun masih ramai. Di antrian akhwat sempat terjadi kekacauan karena tidak berbaris rapi sebagaimana ikhwan. Sedangkan di tempat Ikhwan mereka benar-benar berbaris rapi –sangat rapi dan benar-benar sangat sabar menunggu walau kamar mandi dipakai mandi/lama. Subhanallah..
Sedangkan untuk makanan, kami tidak menemukan penjual makanan. Sehingga untuk yang mabit di Mina, bersiap-siaplah membawa bekal secukupnya (untuk makan siang, malam, dan pagi). Tapi untuk penjual buah di sana tersedia.
Pada saat mabit di sini, sleeping bag sangat bermanfaat sekali bagi saya. Anginnya sangat besar dan membawa hawa yang sangat dingin. Pada malam hari pun sempat terjadi gerimis sebentar. Alhamdulillah berhenti..
Sedangkan proses hajian versi Depag dapat dibaca di bawah. Mereka pergi ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah. [Alivia]
Note : Jika ingin membawa tenda, bawalah yang praktis yang dengan tiang disambung-sambung. Kemarin kami membawa tenda kecil ini, dan bukan yang otomatis lentur dilipat – menurut saya ini relatif lebih sulit ketika membereskannya.
Senin, 02 Januari 2006 19:07:00
Keberangkatan Jemaah Haji ke Arafah Dibagi Dua Gelombang
Sumber : http://www.republika.co.id
Makkah-RoL -- Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekkah, Zainal Abidin Supi meminta para jemaah haji Indonesia agar bersedia mengikuti dan mematuhi jadwal keberangkatan ke Padang Arafah pada 8 Dzulhijjah 1426 H yang nantinya disusun sebanyak dua gelombang.
"Pembagian jadwal ini diperlukan terutama untuk menghindari terjadinya kemacetan dan penumpukan kendaraan di sekitar Arafah," katanya di Mekkah, Senin.
Menurut dia, menjelang puncak haji wukuf di Arafah, diperkirakan sekitar tiga juta orang dari seluruh dunia akan meninggalkan Kota Mekkah menuju Arafah dan Mina dalam waktu yang hampir bersamaan.
Jika tidak diantisipasi jelas akan menimbulkan problem kemacetan di sekitar Arafah. "Jadi kalau semua menuju Arafah secara bersamaan, tentu akan jadi problem bagi pemerintah Arab Saudi," kata dia di kantor Daker Mekkah.
Dikatakannya, pemerintah Arab Saudi bukannya tidak sanggup menyediakan bus sesaui kebutuhan untuk sekitar tiga juta orang pada tahun ini. Tetapi kalau kebutuhan jemaah itu dipenuhi semua, jalan-jalan sepanjang Mekkah-Arafah akan habis tertutup oleh bus, karena itulah diatur dua `trip`," katanya.
Jadi, kata Supi, Pengaturan dua gelombang pemberangkatan itu bukan karena bus kurang tapi karena untuk sirkulasi dan pergerakan. Hal itu, lanjutnya, juga berdasarkan hasil analisa bahwa pernah terjadi kemacetan antara Arafah-Muzdalifah-Mina selama dua hari dua malam disebabkan terlalu banyaknya bus menumpuk di area yang sama.
"Dari situ kemudian diterapkanlah Sistem Taraduddi, khususnya untuk jemaah Indonesia dan Turki," katanya. Untuk itu, Zainal Abidin Supi mengharapkan agar segenap jemaah bersedia mematuhi jadwal yang akan dibuat sendiri dalam musyawarah kloter.
Mengenai kloter mana yang akan berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua, Supi mengatakan, hal itu tergantung kesepakatan antara para ketua kloter dan ketua rombongan melalui musyawarah yang akan diadakan di masing-masing sub daker atau maktab.
"Pihak Daker dalam masalah ini hanya memfasilitasi saja dengan membuat surat edaran sosialisasi terutama tentang pemberitahuan rencana penjadwalan keberangkatan jamaah ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina)," katanya.
Khusus untuk penyediaan bus bagi jamaah Indonesia, Supi mencontohkan, jika dalam satu kloter dibutuhkan 70 bus untuk sekali jalan ke Arafah, maka akan disediakan setengahnya yakni 35 bus. ant/pur
Labels: Ihram - Miqat, Persiapan Haji, Proses Haji


0 Comments:
Post a Comment
<< Home