12/16/2006

Proses Pelaksanaan Ibadah Haji

Untuk Gelombang 1 :
a. Ada yang mendarat langsung di bandara Madinah (yang menggunakan Saudi Arabia Airlines), ataupun ada yang mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah baru naik bis ke Madinah .
b. Madinah
c. Bir Ali (Madinah - Bir Ali hanya 12 Km)
d. Makkah (Bir Ali – Makkah 488 Km)
e. Mina – untuk yang bertarwiyah(Makkah – Mina 7 Km)
Atau Arafah – tidak tarwiyah (Makkah – Arafah 21 Km)
f. Arafah (untuk tarwiyah, dari Mina – Makkah 14 Km)
g. Muzdalifah (dari Arafah 9 Km)
h. Mina (dari Muzdalifah 5 Km)
i. Makkah
j. Bandara King Abdul Aziz Jeddah
k. Indonesia

Gelombang 2 :
a. Bandara King Abdul Aziz Jeddah
b. Makkah
c. Mina – untuk yang bertarwiyah(Makkah – Mina 7 Km)
Atau Arafah – tidak tarwiyah (Makkah – Arafah 21 Km)
d. Arafah (untuk tarwiyah, dari Mina – Makkah 14 Km)
e. Muzdalifah (dari Arafah 9 Km)
f. Mina (dari Muzdalifah 5 Km)
g. Makkah
h. Madinah
i. Bandara King Abdul Aziz Jeddah
j. Indonesia

Labels:

6/26/2006

Gerak dan Makna Haji..

Jika diperhatikan : rangkaian gerak haji adalah rangkaian doa ke doa. Segala hal yang dilakukan selama haji, selalu berisi doa dan doa. Selain itu, haji juga adalah :
1. salah satu bukti pengabdian kepada Allah SWT. Berusaha untuk memenuhi panggilanNya dan menegakkan aturanNya.
2. kehidupan selama haji adalah bentuk sampel miniatur kehidupan kita sehari-hari.
3. Haji juga adalah dzikir fisik. Dalam haji kita melakukan dzikir (yaitu sholat) sambil berjalan (yaitu thowaf—karena thowaf adalah pengganti sholat tahiyatul masjid).
4. Juga Haji adalah dzikir batin. Dalam setiap perjalanan haji, sekalipun sedang pergi berbelanja, tidak pernah lepas dzikir dalam hati.
5. Akhirnya, Haji juga merupakan intropeksi terhadap seluruh aspek kehidupan dunia dan akhirat kita. Dengan haji kita mengerahkan tenaga untuk berusaha duniawi (berusaha agar tetap dapat survive secara materi dan fisik selama haji), tapi dengan haji juga kita pun berupaya meraih akhirat, beribadah, mengabdi dan selalu dekat dengan Allah.

Suasana dan kondisi haji benar-benar merupakan cerminan pengabdian kehidupan dunia dan akhirat kita kepada Allah SWT. Seluruh waktu selama haji benar-benar hanyalah untuk Allah. Demikian pula (seharusnya) pada kehidupan sehari-hari kita, selama usia masih di dunia, detik demi detiknya. Maka, haji adalah salah satu media latihan kita, agar dapat selalu berdzikir secara fisik dan batin, hingga hayat dikandung badan. Tak pernah lalai dari berdzikir sepanjang waktu di kehidupan dunia dan berusaha sepanjang waktu untuk kehidupan dunia dan akhirat. [Alivia]

Labels:

5/02/2006

Subsidi Silang Dihapus

Selasa, 24 Januari 2006

Subsidi Silang Pemondokan Dihapus
sumber : republika

Depag akan menindak tegas setiap pelanggaran penyelenggaraan haji.

JAKARTA -- Sistem penempatan pemondokan jamaah haji di Tanah Suci mendatang akan diubah dari sistem subsidi silang menjadi sistem proporsional. ''Kalau memang jamaah dapat rumah yang jelek dan jauh dari Masjidil Haram yang tarifnya murah, maka uang jamaah itu akan dikembalikan. Cara ini akan menjadi lebih fair,'' kata Direktur Pelayanan Haji dan Umroh, Depag, Zakaria Anshar di Jakarta, Senin (23/1).

Dikatakan Zakaria, selama ini, jamaah haji selalu mendapat pondokan atas hasil undian (qur`ah). Sehingga, kata dia, jamaah dengan pondokan yang kondisinya kurang bagus dan bertarif murah, harus menyubsidi jamaah yang mendapat rumah bagus yang tarifnya mahal. ''Dengan sistem seperti itu, maka tak ada pengembalian uang,'' tandasnya.

Menurut Zakaria, plafon pondokan bagi jamaah haji Indonesia yang hanya 1.550 Riyal, terlalu kecil dibanding dengan plafon pemondokan jamaah dari negara lainnya. Akibatnya, katanya, pondokan yang didapatkan oleh jamaah Indonesia kebanyakan relatif jelek dan jaraknya jauh dari Masjidil Haram. ''Wacana kami, diharapkan tahun depan bisa dinaikkan, misalnya 2.000 Riyal,'' katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, jamaah yang hanya mendapat rumah bertarif 1.800 Riyal misalnya, maka akan dikembalikan uangnya sebesar 200 Riyal. Sedangkan bagi jamaah yang mendapat rumah bertarif 2.000 Riyal, kata Zakaria, maka yang bersangkutan tidak mendapat pengembalian uang. Dikatakan Zakaria, pengembalian uang yang telah dibayarkan jamaah melalui BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) tidak akan menjadi masalah. Apalagi, sambung dia, hal itu sudah dipraktikkan kepada jamaah yang tidak menggunakan pondokan Saihanah sebagai tempat transit sebelum ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah (KAAI).

Zakaria juga menegaskan bahwa Depag akan menindak tegas setiap pelanggaran penyelenggaraan haji. Termasuk, katanya, petugas yang terbukti menjadi calo pemondokan dan membuat tarif pondokan menjadi mahal. ''Menag kan memang ingin mengikis habis penyimpangan seperti percaloan dalam pemondokan. Hal ini supaya harga pondokan menjadi wajar dan tidak dimainkan. Kita ingin sewa pondokan langsung dengan pemiliknya, jangan ada calo,'' katanya. Selama ini, imbuh Zakaria, kalau harga tidak wajar, maka tidak disewa.

Tak ada jamaah bocah

Dalam kesempatan yang sama, Zakaria juga menegaskan pada penyelenggaraan musim haji 2007, sudah tidak ada lagi jamaah haji bocah dan jamaah yang sudah berhaji dalam lima tahun terakhir. ''Itu sesuai keputusan Menag tertanggal 30 Maret 2005, bahwa hanya yang wajib berhaji yang bisa mendapat kuota haji sehingga tidak mengurangi jatah orang lain yang juga ingin berhaji,'' katanya.

Sebelumnya, data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu menyebutkan, kuota haji 2007 sebagian besar provinsi sudah habis. Dengan demikian banyak dari masyarakat yang baru mendaftar berhaji akan masuk daftar tunggu (waiting list) 2008.

Total calhaj waiting list untuk calhaj tahun 2008 yaitu 5.290 kursi dari kuota 205 ribu. Antara lain di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) calhaj waiting list ada 1.220 dari 4.550 kursi. Jumlah waiting list calhaj asal DKI Jakarta, lebih banyak lagi yaitu 7.206 dari jumlah kursi 9.901. Di Sumut calhaj yang sudah masuk daftar tunggu sebanyak 1.956 dan di Sumbar sebanyak 2.005. Sementara itu, hingga saat ini, kuota calhaj Indonesia untuk penyelenggaraan haji tahun 2006-2007 belum berubah masih 205 ribu. Sedangkan alokasi untuk BPIH khusus mencapai 16 ribu.

'OKG Atasi Keterlambatan'

WADI QUDAID -- Kosul Jenderal RI di Jeddah, Tadjudin Noor mengatakan, untuk mengatasi masih terjadinya keterlambatan penerbangan pemulangan jamaah haji Indonesia ke Tanah Air, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi melakukan 'Operasi Kendali Gerak' (OKG).

''OKG itu didasarkan pada sejumlah informasi, yakni keterlambatan pesawat dari Jakarta, persoalan teknis saat penerbangan, persoalan teknis dan non teknis saat mau landing, dan terbatasnya bus pengangkut yang akan membongkar barang bagasi jamaah ke pesawat,'' katanya.

Menurut dia, penyebab persoalan keterlambatan pemulangan cukup kompleks. Contohnya masih ada masalah teknis yang tidak diperhitungkan sebelumnya, seperti lalu lintas atau lainnya. ''Inilah yang kita katakan sebagai sebab-sebab yang menimbulkan keterlambatan pemulangan jamaah haji,'' kata Tadjudin yang juga Koordinator Harian PPIH di Arab Saudi.

Namun, kata dia, untuk melaksanakan OKG tersebut PPIH membutuhkan dua syarat penting. Yakni mengalirnya informasi secara benar dan tepat waktu, serta konsistensi petugas melaksanakan protap (prosedur tetap). Untuk itu, kata Tadjudin, para petugas di tempat pemondokan jamaah, pengelola transportasi dan petugas di bandara harus terus melakukan koordinasi dan kerja sama yang baik berdasarkan komitmen yang jelas. ''Jadi, sebetulnya kita perlu petugas yang berkualifikasi dan taat azas,'' katanya.
( ant/n mch )

Labels: , ,

8 Dzulhijjah

Karena saya tarwiyah, maka tanggal 8 Dzulhijjah saya tidak ke Arafah. Tapi ke Mina dulu untuk melakukan mabit di Mina. Kami ke Mina pakai angkot (namanya lupa, bentuk seperti elp di sini). Satu orang kena 10 SR. Perjalanan ke Mina saat itu tidak macet (kosong malah) dan tempat untuk berkemah pun masih kosong. Luas. Kami mencari tempat yang dekat dengan kamar mandi. Ketika mabit di Mina, saya tidak menemukan calhaj dari Asia. Mungkin ada tapi saya tidak tahu di mana tempatnya.

Mabit di Mina berlangsung tertib. Sesama calhaj mendirikan tenda yang dibawa masing-masing. Tapi ada juga yang tidak membawa tenda. Mereka tidur begitu saja beralaskan tikar dan berpakaian ihrom. Ketika waktu sholat tiba, kami –walaupun tidak saling kenal, dan tidak dapat berkomunikasi karena beda bahasa – tapi otomatis saling berkumpul dan berjamaah. Calhaj di tempat kami mabit, sebagian besar lebih banyak ikhwan.

Di Mina alhamdulillah tidak merasakan mengantuk. Malah semangat membaca Al Qur'an walau dengan lampu yang remang-remang dan kedinginan karena harus di luar tenda. Jika di dalam tenda gelap. Para calhaj lain pun begitu, ada yang membaca Al Qur'an dan ada juga yang tidur untuk istirahat. Semoga semangat ini dapat terus hidup. Amin.

Sedangkan untuk kamar mandi alhamdulillah cukup tertib. Kamar mandi akhwat tertutup rapi, sehingga relatif aman untuk aurat--walau harus berhati-hati juga. Kamar mandi di Mina sepertinya tidak pernah sepi. Dari siang, maghrib, hingga jam 2 pagi pun masih ramai. Di antrian akhwat sempat terjadi kekacauan karena tidak berbaris rapi sebagaimana ikhwan. Sedangkan di tempat Ikhwan mereka benar-benar berbaris rapi –sangat rapi dan benar-benar sangat sabar menunggu walau kamar mandi dipakai mandi/lama. Subhanallah..

Sedangkan untuk makanan, kami tidak menemukan penjual makanan. Sehingga untuk yang mabit di Mina, bersiap-siaplah membawa bekal secukupnya (untuk makan siang, malam, dan pagi). Tapi untuk penjual buah di sana tersedia.

Pada saat mabit di sini, sleeping bag sangat bermanfaat sekali bagi saya. Anginnya sangat besar dan membawa hawa yang sangat dingin. Pada malam hari pun sempat terjadi gerimis sebentar. Alhamdulillah berhenti..

Sedangkan proses hajian versi Depag dapat dibaca di bawah. Mereka pergi ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah. [Alivia]

Note : Jika ingin membawa tenda, bawalah yang praktis yang dengan tiang disambung-sambung. Kemarin kami membawa tenda kecil ini, dan bukan yang otomatis lentur dilipat – menurut saya ini relatif lebih sulit ketika membereskannya.



Senin, 02 Januari 2006 19:07:00
Keberangkatan Jemaah Haji ke Arafah Dibagi Dua Gelombang
Sumber : http://www.republika.co.id

Makkah-RoL -- Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekkah, Zainal Abidin Supi meminta para jemaah haji Indonesia agar bersedia mengikuti dan mematuhi jadwal keberangkatan ke Padang Arafah pada 8 Dzulhijjah 1426 H yang nantinya disusun sebanyak dua gelombang.

"Pembagian jadwal ini diperlukan terutama untuk menghindari terjadinya kemacetan dan penumpukan kendaraan di sekitar Arafah," katanya di Mekkah, Senin.

Menurut dia, menjelang puncak haji wukuf di Arafah, diperkirakan sekitar tiga juta orang dari seluruh dunia akan meninggalkan Kota Mekkah menuju Arafah dan Mina dalam waktu yang hampir bersamaan.

Jika tidak diantisipasi jelas akan menimbulkan problem kemacetan di sekitar Arafah. "Jadi kalau semua menuju Arafah secara bersamaan, tentu akan jadi problem bagi pemerintah Arab Saudi," kata dia di kantor Daker Mekkah.

Dikatakannya, pemerintah Arab Saudi bukannya tidak sanggup menyediakan bus sesaui kebutuhan untuk sekitar tiga juta orang pada tahun ini. Tetapi kalau kebutuhan jemaah itu dipenuhi semua, jalan-jalan sepanjang Mekkah-Arafah akan habis tertutup oleh bus, karena itulah diatur dua `trip`," katanya.

Jadi, kata Supi, Pengaturan dua gelombang pemberangkatan itu bukan karena bus kurang tapi karena untuk sirkulasi dan pergerakan. Hal itu, lanjutnya, juga berdasarkan hasil analisa bahwa pernah terjadi kemacetan antara Arafah-Muzdalifah-Mina selama dua hari dua malam disebabkan terlalu banyaknya bus menumpuk di area yang sama.

"Dari situ kemudian diterapkanlah Sistem Taraduddi, khususnya untuk jemaah Indonesia dan Turki," katanya. Untuk itu, Zainal Abidin Supi mengharapkan agar segenap jemaah bersedia mematuhi jadwal yang akan dibuat sendiri dalam musyawarah kloter.

Mengenai kloter mana yang akan berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua, Supi mengatakan, hal itu tergantung kesepakatan antara para ketua kloter dan ketua rombongan melalui musyawarah yang akan diadakan di masing-masing sub daker atau maktab.

"Pihak Daker dalam masalah ini hanya memfasilitasi saja dengan membuat surat edaran sosialisasi terutama tentang pemberitahuan rencana penjadwalan keberangkatan jamaah ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina)," katanya.

Khusus untuk penyediaan bus bagi jamaah Indonesia, Supi mencontohkan, jika dalam satu kloter dibutuhkan 70 bus untuk sekali jalan ke Arafah, maka akan disediakan setengahnya yakni 35 bus. ant/pur

Labels: , ,

Swastanisasi Haji

Saya sendiri sangat setuju jika ada Swastanisasi Haji. Tapi dalam proporsi tetap benar, bukan orang-orang non Islam pun dapat mengelolanya. Bagaimana mungkin bisa? Tanah suci-nya saja hanya bisa dimasuki oleh orang Islam, namanya juga tanah haram.

Kenapa perlu ada pengelola haji selain Depag? Agar tidak terjadi monopoli, main biaya seenak-enaknya dan calhaj bisa memilih yang terbaik demi menjalankan hajinya. Kalau memang dari keputusan presiden kurang ada aturan 'jangan orang non Islam', ya tinggal ditambah saja. Gitu aja kok repot. Tapi yang pasti bakal repot adalah Depagnya, karena menjadi kurang pemasukannya :). [Alivia]

Rabu, 18 Januari 2006 20:49:00
Swastanisasi Haji, Kiamat Shugra bagi Departemen Agama
Sumber : http://www.republika.co.id

Jeddah-RoL --Rancangan Undang Undang Haji yang berada di lembaga legislatif mendapat sorotan masyarakat. Salah satu yang menjadi wacana antara lain menyangkut swastanisasi haji sehingga memungkinkan orang-orang kafir masuk dalam badan pengelola haji yang dibentuk melalui Keputusan Presiden.

"Kiamat shugra bagi Departemen Agama kalau sampai penyelenggaraan haji ini dikelola swasta," kata Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Drs H Lukman Hakim Hasibuan di Jeddah, Rabu (18/1).

RUU Haji yang ada di legislatif mendapat banyak masukan, termasuk wacana menjadikan pengelolaan haji tidak lagi pemerintah dalam hal ini Departemen Agama. Upaya-upaya gencar dilakukan kalangan minhum melalui anggotanya di lembaga legislatif agar pengelolaan haji diserahkan kepada pihak swasta.

Pengelolaan dengan sebuah badan khusus haji, lanjutnya memungkinkan banyak unsur masuk dalam urusan haji. "Orang-orang di luar Islam juga akan menuntu mendapatkan tempat di sana," tegasnya.

"Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan masyarakat muslim di Indonesia, kalau urusan haji diserahkan kepada orang-orang kafir," tegasnya sambil menambahkan, persoalannya hanya bagaimana mengelola pelaksanaan ibadaha haji secara baik dan benar.

Lukman Hakim Hasibuan mengharapkan masyarakat muslim, terutama yang duduk di lembaga legislatif dan eksekutif untuk mencermati setiap perkembangan yang terjadi. Hal yang sama harus dilakukan terhadap rancangan undang undang, termasuk RUU Haji.

"Jangan sampai ribut-ribut setelah menjadi undang undang, sebelum hal itu terjadi harus ada upaya untuk mencegahnya," kata Lukman Hakim Hasibuan sambil menambahkan, masyarakat muslim akan menyesal selama-lamanya kalau hal itu terjadi.

Untuk itu masukan terhadap perbaikan penyelenggaraan ibadah haji hendaknya tidak ditanggapi sebagai kritik, melainkan usaha membangun perbaikan bagi kemaslahatan bersama. Apalagi dalam kaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji, perbaikan terus-menerus harus dilakukan.

Masukan dapat datang dari mana saja, seluruh lapisan masyarakat muslim harus memberikan kontribusi bagi perbaikan di masa depan. Dengan demikian akan dapat dilakukan penyelenggaraan ibadah haji sesuai tuntunan ajaran Islam, sekaligus sesuai keinginan masyarakat muslim. mch/pur

Labels: , ,

5/01/2006

Dam Jamaah Haji

Saya punya pengalaman tentang yang Dam ini. Kebetulan saya tidak ikut gabung iuran Dam ke ketua kloter saya. Tapi saya hanya bayar baksis saja. Saya ingin datang langsung ke tempat pemotongan dan menyaksikan kurbannya langsung, disamping juga harga jauh lebih murah. Dari zaman dulu hingga sekarang, di Arab tidak ada kenaikan harga seperti halnya Indonesia. Maka tidak ada alasan naik BBM di tanah air, maka harga DAM pun ikut naik :).

Karena saya tidak ikut bayar DAM pada ketua kloter, ketika ada penyerahan ijazah haji dari Depag, saya dan teman-teman (termasuk ketua regunya) tidak ikut diberi ijazah itu, hanya karena alasan tidak ikut bayar DAM :). hehe.. padahal kita sudah membayar 28 juta lebih ke Depag loh.. ;). Ketua kloter sempat marah pada saya tentang DAM ini dan berkesan sangat menyalahkan prosedur saya. Beliau menyampaikannya ketika saya sedang menghadap beliau untuk minta izin tarwiyah. Tapi tidak saya ambil hati, yang penting saya sudah diizinkan tarwiyah-- yang sebelumnya juga sempat 'dimarahi dan diceramahi pula' kenapa harus bertarwiyah katanya :). Alhamdulillah saya tidak ciut ketika itu, karena saya sudah tahu hak saya sebagai calhaj dan bertekad ingin mempersembahkan yang terbaik untuk diriku sendiri dan Allah :).

Dan walau ijazah tidak diberi, sebenarnya ijazah itu pun dapat diminta dengan mudahnya pada staff Depag lainnya, bahkan pada ketua panitia haji Depag sekalipun. Kebetulan saya kenal dengan ketuanya, yang ketika baru tiba di bandara sepulang haji, beliau sudah menunggu khusus untuk bertanya kabar apakah saya sudah ada yang jemput atau belum :). Di depan karom pula -- yang menolak untuk memberikan saya ijazah :). Tapi apalah artinya ijazah, kami tidak minta dan haji kami pun semoga tidak gugur tanpa ijazah itu. :)

O ya, Sekalian menyinggung sedikit hal aneh di rombongan DEPAG :). Pada bulan Des 2005, semua tentu tahu lagi marak-maraknya BBM naik. Tapi walau begitu, ongkos bis ke embarkasi malah menurun dibandingkan tahun yang lalu. Dan dengan bangganya, Depag bilang bahwa "ini salah satu upaya kita untuk menekan biaya". Tapi sangat aneh jika harga transportasi turun, di tengah BBM naik melonjak ;). [Alivia]




Kamis, 26 Januari 2006 14:49:00
Pembayaran Dam Jamaah Haji Perlu Ditertibkan Hindari Percaloan

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=232713&kat_id=361


Makkah-RoL-- Pembayaran "dam" atau denda bagi para jamaah haji pada musim haji mendatang perlu lebih ditertibkan untuk menghindari praktek yang dilakukan perantara atau calo agar tidak merugikan jamaah.

Kepala Pelaksana Pengamanan Daerah Kerja (Daker) Makkah, Fatwa Suratnoko, di Kantor Daker Makkah, Kamis, mengatakan, hampir setiap tahun ada saja permasalahan yang timbul dari praktek percaloan yang dilakukan dalam rangka pembayaran "dam", mengingat pembayaran "dam" melibatkan uang dalam jumlah cukup besar.

"Karenanya, pemerintah perlu memikirkan agar pembayaran dam ini lebih tertib. Sementara ini ada wacana agar pembayaran `dam` dimasukkan ke dalam komponen biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH), tetapi ini masih perlu dibahas lebih lanjut," katanya.

Hal tersebut disampaikan Fatwa terkait dengan adanya seorang calo `dam` dan salah seorang pimpinan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang "dikejar-kejar" jamaah, bahkan sampai diancam mau dibunuh, karena ternyata tidak bisa menunjukkan tanda bukti penyembelihan hewan `dam` atas nama masing-masing jamaah yang bersangkutan.

Karena takut dengan ancaman dari ratusan jamaah haji yang menjadi "korban"-nya itu, sang calo yang berinisial IQL itu mendatangi Kantor Daker Makkah untuk meminta perlindungan.

"Kejadiannya berlangsung tanggal 15 Januari 2006 lalu, usai prosesi Arafah-Mina. Dia sempat menginap di sini (Kantor Daker Makkah) selama tiga hari," kata Fatwa.

IQL yang juga adalah jamaah haji kloter 36 JKG (Jakarta-Pondok Gede) ternyata adalah seorang dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Bekasi bergelar Master (S2).

Fatwa menuturkan, IQL mengaku terancam jiwanya karena dirinya bersama seorang pimpinan KBIH AZ berinisial ML, diancam oleh jamaahnya yang tidak puas atas penyelenggaraan `dam` haji tamattu karena mereka telah menyetor sejumlah uang untuk membayar `dam` tetapi tidak ada bukti bahwa uang mereka telah dibelikan hewan (kambing) dan telah disembelih.

Persoalan itu menjadi pelik, karena IQL kemudian menyerahkannya lagi kepada seseorang berinisial OMB, yang kemudian diketahui juga menyerahkannya kepada orang lain untuk pembelian dan penyembelihan kambing "dam".

Secara keseluruhan, kata Fatwa, jumlah orang yang membayar `dam` melalui IQL sebanyak 771 jamaah dengan jumlah uang 159.860 riyal (1 riyal Arab Saudi sekitar Rp2.500). Setiap jamaah dipungut uang bervariasi antara 200 hingga 300 riyal.

Modusnya, IQL mengutip uang `dam` dari jamaah haji baik melalui KBIH maupun perorangan. Rinciannya, dari KBIH AZ Surabaya dikutip uang `dam` sebesar 300 riyal per jamaah dari sebanyak 148 orang. Oleh pimpinan KBIH, uang yang diserahkan kepada IQL sebesar 220 riyal per jamaah atau sebesar 32.560 riyal dari 148 jamaah.

Kemudian KBIH BU, menyerahkan uang 54.600 riyal dari sebanyak 273 jamaah (@ 200 riyal). Dari KBIH M sebesar 12.600 riyal 63 jamaah (@ 200 riyal), dari seseorang bernama AR sebesar 13.500 riyal dari 54 jamaah (@ 250 riyal), dan dari KBIH AM sebesar 46.600 riyal dari 233 jamaah (@ 200 riyal).

Sebelum diserahkan ke IQL, orang KBIH tersebut diketahui telah memotong uang `dam` jamaah itu. Demikian pula IQL, sebelum menyerahkannya kepada OMB telah memotong uang `dam` jamaah tersebut untuk kepentingan dirinya. OMB pun melakukan hal yang sama sebelum dibelikan hewan dam.

"Kalo dipotong terus sampai tiga kali, bisa-bisa uang `dam` jamaah tinggal 200 riyal atau kurang. Uang sebesar itu dapat kambing sebesar apa, saya sudah survei harga kambing terendah sekitar 250 riyal," kata Fatwa.

Namun, lanjut Fatwa, kasus tersebut kini sudah sampai pada Menteri Agama Maftuh Basyuni yang akan mengambil tindakan lebih lanjut. antara/pur

Labels: , ,

Harus Lebih Profesional

Mmm.. tentang keprofesionalan Depag..
profesional..profesional..
Kejauhan kayaknya ya.. :(

Kalau mau didata, sepertinya banyak sekali hal yang kurang informatif dalam teknis-teknis haji. Di bawah ini menyinggung tentang pemondokan dan keterlambatan. Yup! Ini benar sekali! Bukan hanya Warga Negara Indonesia di tanah air saja yang kesal mengenai hal ini, tapi juga WNI di tanah Arab itu sendiri.

Saya punya saudara yang sudah tinggal 16 tahun di tanah suci Makkah, sangat-sangat mengerti DEPAG Indonesia. Beliau dan teman-temannya sudah sering protes ke pihak Indonesia, karena penginapan yang tidak kira-kira jauhnya. Padahal dengan ongkos yang minimal sama (karena terbukti Indonesia malah lebih mahal) dibandingkan dengan ongkos orang Malaysia, Brunei, Turki, Pakistan apa lagi (muraaah sekali),seharusnya Indonesia bisa menempati maktab-maktab yang dekat dengan masjid. Beda sekali dengan zaman Suharto. Untuk haji hal penginapan, zaman Suharto masih jauh lebih baik daripada saat ini. Ini sudah rahasia umum pula nampaknya :(. Ah Indonesia..Indonesia..

Belum ditambah hal-hal besar jumlah DAM, besar jumlah BAKSIS, dsb. Ini semua padahal masih hal materi sebenarnya, yang masih bisa dihitung angka-angkanya pakai jari tangan sekalipun. Belum hal-hal yang non teknis, seperti kapasitas seorang ketua kloter, kerjanya sampai sejauh/sedetil apa sebenarnya, sehingga informasi tentang haji bisa sampai dengan akurat pada para jamaah. Mmm.. kalau disebutkan memang sangat banyak.

Oleh sebab itu, pada akhirnya kok saya malah lebih nyaman untuk berhaji bersama penduduk Makkah di sana, tinimbang harus gabung dengan rombongan Depag dengan ketua kloternya. [Alivia]

Note : Untuk perbandingan biaya, ini hasil dari data saya-- yang sempat ngobrol dengan orang-orang perwakilan dari masing-masing negara tersebut.


***

Sabtu, 14 Januari 2006

Pemerintah Harus Lebih Profesional Kelola Haji

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=230889&kat_id=397


JAKARTA -- Pemerintah didesak untuk lebih mengedepankan profesionalitas dalam pengelolaan penyelenggaraan haji. Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia, Ade Marfuddin, mengatakan bahwa segala kekurangan dalam penyelenggaraan haji harus segera ditangani dengan baik. ''Pemerintah tak usah banyak memberikan toleransi,'' katanya di Jakarta, kemarin.

Ade mengatakan sejumlah keterlambatan yang terjadi penerbangan mestinya tak hanya didiamkan. Pemerintah harus melakukan evaluasi atas kinerja maskapai penerbangan. Kalau terus diberi toleransi mana mungkin pihak penerbangan akan melakukan perbaikan atas kinerja mereka. Bisa jadi mereka akan mempertahankan keterlambatannya itu.

Pondokan haji, kata Ade, juga harus ditangani dengan lebih baik oleh pemerintah. Sebab pemondokan di Arab Saudi akan sangat menentukan kenyamanan jamaah haji dalam menjalankan ibadahnya. Sudah saatnya, pemondokan untuk jamaah haji Indonesia letaknya lebih dekat dengan Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

Menurut Ade, jamaah haji telah memberikan sejumlah uang kepada pemerintah dalam bentuk Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Sudah semestinya pemerintah memberikan layanan terbaik kepada mereka. ''Jangan kecewakan jamaah dengan kurang profesionalnya pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji,'' tegasnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Fuad Anwar, mengatakan pemerintah kurang menyosialisasikan kebijakan tentang haji. Ia menyontohkan rencana kepulangan jamaah haji 2006 dari Makkah ke Bandara King Abdul Aziz tanpa transit di Madinatul Hujaj. ''Banyak jamaah yang tak tahu rencana tersebut akibatnya banyak jamaah yang kecewa,'' katanya.
(fer )

Labels: , ,

Punya Keluhan?

Saya juga tidak tahu apakah efektif atau tidak mengeluh lewat Posko ini, karena belum pernah mencobanya. Tapi kebetulan saya menemukan info ini, siapa tahu saja berguna untuk sahabat-sahabat sekalian :).[Alivia]


Punya Keluhan Penyelenggaraan Haji? Hubungi Saja Posko KPPH
M. Rizal Maslan - detikcom
Sumber : Artikel detikcom

Jakarta - Gagal berangkat haji? Atau kesal dengan sistem administrasi haji yang ruwet? Ngadu saja ke Posko Pengaduan Masyarakat yang dibuka Koalisi Pemantau Penyelenggaraan Haji (KPPH).

Posko yang didirikan KPPH itu berada di empat kota, yakni Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar. Keempat wilayah ini dipilih karena memiliki embarkasi pemberangkatan calon jamaah haji dengan jumlah yang cukup banyak.

"Posko ini juga akan menjadi tempat pengaduan masyarakat yang jadi korban korupsi, atau yang mengetahui adanya dugaan penyimpangan penyelenggaraan haji," kata anggota KPPH Yulianto di Kantor Konsorsium Reformasi Hukum Nasional, Jalan Talang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2005).

KPPH merupakan gabungan dari sejumlah LSM, antara lain KRHN, LBH Jakarta, Transparansi Internasional Indonesia, Indonesia Proquirment Watch, Pusat Advokasi Hukum dan HAM, dan Citra Jakarta.

Latar belakang dibentuknya posko ini, imbuh Yulianto, karena KPPH menilai hingga kini penyelenggaraan haji di Indonesia masih banyak permasalahan dan penyimpangan. Permasalahan yang kerap kali terjadi adalah ongkos yang sangat tinggi, biaya tambahan, gagal berangkat, sarana serta layanan yang tidak memadai, dan sistem administrasi yang ruwet.

Depag yang selama ini memegang hak monopoli penyelenggaraan haji harusnya melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan bagi calon jamaah untuk meminimalisir terjadinya penyimpangan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Depag lebih berperan sebagai event organizer.

Pembenahan ini juga dapat dimulai dengan menghentikan monopoli penyelenggaraan haji oleh negara maupun sistemnya. Untuk itu, pemerintah juga perlu melakukan revisi UU 17/1999.

KPPH juga mensinyalir lemahnya pengawasan terhadap penyelenggaraan haji. Sebagian ONH dengan alasan efisiensi biaya haji justru disisihkan untuk Dana Abadi Umat (DAU) yang ternyata mengalir ke kantong pejabat Depag, DPR, dan pegawai BPK, serta keluarga pejabat lainnya secara perorangan.

Bahkan dari hasil audit BPK telah ditemukan penyimpangan hingga Rp 1 triliun. Nilai ini lebih besar dibandingkan temuan Timtas Tipikor sebesar Rp 700 miliar.

Dan hampir setiap tahun permasalahan tersebut terulang tanpa adanya upaya penyelesaian yang memuaskan. Bahkan, pengawasan atau pemantauan itu dilakukan melalui dana dari lembaga yang diinvestigasinya, sehingga disinyalir banyak investigator yang mendapatkan pembayaran dobel. (umi)

Labels: , ,

4/08/2006

Seputar Proses Haji

Selamat membaca :)

Mabit di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah (1426H)

Labels:

4/06/2006

Godaan Selama berhaji

Note : Bagi yang belum membaca artikel ini Rangkuman Kulit Haji. Silakan klik di sini.

Atau langsung baca artikel ini juga gak papa kok :). Godaan yang mungkin terjadi selama berhaji, di antaranya sbb:

1. Asap Rokok

Kebiasaan orang Indonesia yang satu ini benar-benar tidak dapat dihilangkan. Walau di bis ber AC, di hotel ber AC, bahkan di kamar ber AC pun, mereka masih merokok :(. Sayangnya, saya termasuk yang alergi rokok. Ketika ada asap rokok, pasti saya akan sesak nafas dan batuk terus-menerus. Tapi, saya tidak dapat protes pada mereka. Mengingat latar belakang seluk-beluk rokok di Indonesia yang ricuh. Dari yang mengharamkan, memakruhkan, memubahkan, hingga yang protes seolah peduli pendapatan negara dari cukainya, marah karena dilarang, dan akhirnya dianggap biasa saja, kebal kembali merokok. Saya hanya dapat bersabar dan berusaha sendiri bagaimana caranya agar saya tidak terganggu akibat rokok itu, dengan cara sehalus mungkin. Maklum.. kami sedang berhaji :).

2. Bercampurnya yang bukan muhrim

Dalam Islam hal tidak campur dengan yang bukan muhrim sebenarnya prinsip. Tapi ini bisa terjadi pada rombongan kami dan rombongan siapa pun. Saya dan salah satu teman saya – yang memegang prinsip hijab ini—berusaha nego dengan karom agar dapat dipisahkan dari yang bukan muhrim.

Misal, dalam hal tempat duduk di bis/pesawat, kami bersebelahan dengan muhrimnya. Atau dalam hal pembagian kamar, antara wanita dan pria dipisahkan.

Tapi, itu semua kembali pada keteguhan prinsip masing-masing. Dan kami tidak dapat berbuat lebih banyak lagi jika sudah tergantung maunya mereka bagaimana dan bukan menegakkan yang benar.

Mereka beralasan karena kondisi maka terpaksa harus bercampur. Padahal seharusnya karena kondisilah mereka berusaha untuk tidak bercampur, apalagi sedang berhaji. Dan ternyata masih bisa untuk tidak bercampur, dengan melihat berbagai fasilitas yang ada. Tapi itulah yang terjadi jika aturan Allah kalah oleh keinginan manusia. Ini sedikit gambaran kondisi orang-orang berhaji, walau tidak semuanya begitu.

3. Orang yang selalu protes

Protes tidaklah salah. Tapi seharusnya dapat melaksanakan protes dengan bijak. Menurutku, jika tidak dapat, maka lebih baik cukup berbicara secukupnya yang memberitahukan ketidaksetujuan kita dan memberikan solusi. Lantas setelah itu, berdoa kepada Allah agar dapat terjadi sesuai yang kita harapkan dan tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah. Titik.

Dalam berhaji akan ditemukan hal seperti ini. Sebelumnya, saya pun tidak yakin mengingat ini adalah momen berhaji, apalagi ada yang sudah berhaji untuk ke sekian kalinya.

Tapi hal tersebut bukanlah jaminan. Ternyata manusia tetaplah manusia. Haji adalah haji. Justru karena berhaji, manusia diuji yang sangat berat di sini. Ujian itu hanya akan terasa ringan, jika benar-benar kita mengaplikasikan makna dan tatacara haji pada kehidupan kita sehari-hari. Tentu dengan berusaha sangat keras dan berlindung kepada Allah.

4. Orang yang suka mengumpat atau ngomongin orang di belakangnya.

Haji bukan sebuah infotainment :). Kita tidak perlu membicarakan mereka kecuali di hadapan mereka, dengan cara yang bijak dan mengajak mereka pada kebenaran. Tapi, di sekeliling kita akan terjadi hal demikian (dan saya juga yakin akan terjadi di antara teman-teman haji kita). Maka buatlah benteng dan alarm pada diri kita sendiri terhadap hal sia-sia dan berdosa seperti ini.

5. Orang yang suka mengeluh, tidak pernah bersyukur

Dalam haji semuanya sangat indah dan bermakna, sekalipun harus bermandikan darah. Tidak ada gunanya mengeluh. Ketika teman kita mengeluh pun, cukup kita mengingatkan dia dan membuat diri kita kembali bersabar. Allah akan menolong pada hambaNya yang benar-benar bergantung dan menyerahkan dirinya. Pasti.

6. Orang yang malas ke mesjid

Yang perlu ditekankan dalam berhaji, tidak ada setia kawan dalam hal ibadah. Ibadah dilakukan masing-masing, dan dipertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah. Tidak ada keringanan, kita tidak ke masjid karena teman kita sakit, dsb. Karena dokter kloter pun sudah selalu stand by, menjaga para calhaj di tanah suci.

Maka jika kita termasuk yang memiliki teman seperti ini, beliau malas ke masjid dengan berbagai alasan, pintar-pintar lah untuk menjaga diri dan tetap beribadah. Yang pada dasarnya malas ke masjid, mereka tentu banyak sekali alasan untuk mempengaruhi kita. Apalagi jika alasannya sakit dan sudah uzur.

Tapi keluarlah sejenak dari sikon itu, dan tengok ke masjid. Di sana, lebih banyak lagi para calhaj yang sudah tua renta, bahkan berkursi roda. Tapi mereka dapat mengerti, inilah kesempatan mereka berhaji, yang bisa jadi untuk terakhir kalinya dalam hidup mereka. Dengan semangat mereka, mereka ingin mempersembahkan yang terbaik kepada Allah dan untuk dirinya sendiri.

Jauhkan sifat-sifat rasa tidak enak kepada teman, rasa toleransi, rasa solidaritas, jika memang itu tidak ditempatkan pada alasan yang bukan haq.

Yang sakit pun tidak perlu khawatir tidak memiliki teman, di kamar sendirian. Karena ada dokter kloter dan asistennya. Mereka tentu akan dengan senang hati merawat kalian. Ada kamar yang bisa menjadi tempat istirahat, jika tidak berani di kamar sendirian. Tapi, sebenarnya di kamar sendirian pun, insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa jika kita bisa menjaga diri.

7. Godaan/diganggu dari para lelaki Arab

Hal ini dapat dengan mudah dihindari hanya dengan salah satu cara, yaitu akhlak kita. Di antaranya :
1. Tidak mengobral senyum pada orang Arab. Sifat orang Indonesia pasti murah senyu. Tapi jangan digunakan di Arab. Selama di sana kita pasang wajah biasa aja pun tidak mengapa.
2. Jika menawar jangan terlalu banyak bicara. Pada dasarnya orang Arab menyukai wanita Melayu seperti kita. Apalagi jika harus mendengar rayuan maut ibu-ibu ketika menawar barang, dan belum dengan gelak tawa, senyum, serta gerak tubuh sang ibu dalam menawar. Hal ini tentu akan menarik perhatian orang Arab, bahkan bisa menjadi salah persepsi. Disangkanya kita suka pada mereka. Berhati-hatilah. Menurut pengalamanku dalam hal menawar barang, dimana aku jalan-jalan ke mana pun selalu sendiri, tidak perlu dengan hal di atas pun, saya sudah dapat menawar harga termurah seMadinah dan Mekkah untuk sebuah barang! Percaya atau tidak, itulah pertolongan Allah SWT. Subhanallah..

3. Pakai masker hidung ketika berjalan-jalan
4. Usahakan selama berhaji tidak berdandan, apalagi pakai lipstik warna merah menyala. Pasti pembaca tersenyum :). Tapi ini benar kenyataan, para ibu-ibu Indonesia pasti ada yang seperti ini. Sementara lingkungan luarnya adalah wanita bercadar atau orang-orang selain Indonesia (turki, pakistan, somali, india, dll) yang tidak memakai riasan wajah apa pun.

8. Tidak sendirian selama naik angkutan umum

Usahakan tidak pernah sendirian jika ingin naik bis/taksi/dsb. Tapi hal ini jangan sampai mengikat langkah kita untuk beribadah kepada Allah. Walau tidak ada teman yang satu kamar/satu rombongan/satu kloter yang mau pergi dengan kita. Maka tidak ada salahnya pergi sendirian ke mesjid, dengan syarat seperti di atas dan usahakan selalu ada teman dari Indonesia lain. Maksudnya tidak perlu harus teman satu rombongan. Beda kloter pun tidak masalah, jika sama-sama ingin pergi ke mesjid. Kita bisa berlagak sok akrab dan minta izin pada mereka, “Bolehkah saya ikut mereka karena akan pergi ke mesjid sendirian?”. Biasanya mereka akan tanggap dan senang hati, karena sangat maklum kondisi di Arab.

9. 10. 11.12. 13. 14. 15. Dst.Ddst.
Tentu banyak sekali godaan dan hambatan haji yang terjadi. Silakan ditambah sendiri :).

Tapi, sebenarnya apa yang benar-benar menjadi hambatan di tanah Arab?
Insya Allah tidak ada, selain godaan keimanan, kesholehan, akhlak itu sendiri. Sebenarnya semua yang terjadi adalah ni’mat, semuanya mudah, semuanya lancar, penuh hikmah, asal kita bisa membawa diri, menjaga diri, selalu berdzikir dan bergantung kepada satu-satunya zat yang patut kita takuti, yaitu Allah SWT.

Wassalam
Alivia

Labels: