Aurat antar sesama haji dan calon haji
Di rombongan saya ada beberapa yang sudah berhaji. Bahkan di regu saya, dari jumlah 11 orang, sepertinya cuma 4 orang saja yang belum berhaji, termasuk saya sendiri.
Dengan bekal info ini, saya merasa sedikit tenang berhaji karena satu regu dengan orang-orang yang sudah berpengalaman haji sebelumnya. Apalagi karom berada satu regu pula dengan saya. Tentu tambah tenanglah saya :).
Tapi, keberadaan mereka ternyata tidak membuat saya tenang terhadap segala hal, baik bertanya tentang ilmu agama/haji, pengambilan keputusan, ataupun setiap beraktivitas sehari-hari.
Pada kenyataannya, saya harus teatp bertopang pada kaki, tangan, kemampuan, dan keputusan sendiri. Di antaranya soal hijab dan aurat ini.
Selain terjadi hal seperti satu kamar hanya berdua dengan yang bukan muhrim (bisa dibaca di Pembagian Kamar), masalah hijab dan aurat ini ternyata benar-benar seperti diabaikan.
***
Mereka-- ibu-ibu para calhaj maupun yang sudah haji-- dari mulai yang berstatus tidak bekerja, atau sebagai guru, hingga istri seorang ustadz sekalipun, selama di penginapan di tanah suci, tidak memakai kerudungnya sebagai penutup aurat.
Mereka bersikap biasa saja seperti di rumahnya sendiri, seolah-olah tidak ada yang bukan muhrim. Mereka ngobrol, tertawa dengan yang bukan muhrim, tanpa memakai kerudung sama sekali, tapi malah ada yang berdandan memakai bedak dan gincu, atau ada juga yang hanya berpakaian daster layaknya seperti baru bangun tidur.
Lebih kartun lagi (baca: saking lucunya maka seperti sedang nonton film kartun saja), , ketika tidur bahkan ada yang memang benar-benar memakai pakaian tidur layaknya pakaian tidur di rumahnya sendiri, di kamarnya sendiri. MasyaAllah.. saya sendiri pun sebagai sesama jenis, melihatnya juga malu deh..
Mereka pun bersikap biasa, tidak memakai kerudung dengan pakaian seadanya atau bahkan dengan berdandan menggunakan lipstik merahnya, ketika ingin ke kamar mandi, atau masak di dapur, atau makan bersama dengan bapak-bapak, seperti halnya bapak-bapaknya itu suaminya sendiri. Tidak terbersit rasa malu di wajah mereka.
***
Tapi, dipikir-pikir lagi, itu bisa terjadi apakah karena kurang ilmu atau bagaimana..? Tapi tidak mungkin juga bila karena tidak tahu. Setahu saya tentang aurat ini pun sudah diwanti-wanti ketika bimbingan manasik haji dulu. Karena jangankan membuka aurat di hari biasa, pada saat ihrom saja, yang seharusnya penuh dengan syarat dan kehati-hatian, mereka tetap membuka auratnya selama belum pergi ke mesjid. Atau berwudhu sembarang tempat, tidak memperhatikan tertutup atau tidaknya aurat, diwaktu ihrom. MasyaAllah.. sayang sekali berhajinya itu bukan? [Alivia]
Labels: di Maktab/Penginapan


0 Comments:
Post a Comment
<< Home