Pembagian kamar
Walau di setiap pintu masuk (lobi) hotel/maktab/penginapan ada pengumuman kamar wanita dan pria harus dipisah. Tapi peraturan itu -- yang sebenarnya aturan Islam apa adanya --ternyata tidak mempan untuk rombongan kami.
Untuk pembagian teman sekamar, karom di rombongan saya, pakai sistem siapa cepat dia dapat. Ini yang sangat saya sayangkan. Entah karena tidak ada koordinasi dari pihak Depag/ketua kloter sebelumnya, atau bagaimana, tapi saat pembagian kamar dan teman sekamar, sempat terjadi kekisruhan pada rombongan kami.
Saya tidak mengetahui bahwa sistem yang dipakai akan seperti itu (siapa cepat dia dapat). Karena memang tidak ada info sebelumnya. Saya sendiri sempat bingung, karena saya tidak dapat teman sekamar dan entah harus dikamar berapa. Sementara yang lain sudah mendapatkan kunci kamar masing-masing, beserta teman sekamarnya, yang rata-rata adalah pasangannya atau keluarganya sendiri. Sementara saya? Saya pergi sendirian dan saya tidak tahu harus bagaimana.
Alhamdulillah, ada teman yang mengajak saya untuk sekamar. Walau mereka sudah mendapatkan kamar dengan pemandangan bagus, tapi hanya dapat untuk berdua, tapi mereka rela untuk pindah kamar. Dan mendapatkan kamar dengan kapasitas bertiga. Terima kasih atas bantuan dan kerelaannya bu :).
Akhirnya, kami mendapatkan kamar ala hotel berbintang 3, dengan kapasitas 3 tempat tidur, 1 tv, 1 kulkas, dan kamar mandi di dalam.
***
Keesokan harinya, terdengar kabar bahwa ada dua orang yang belum dapat kamar, dan akhirnya harus satu kamar, padahal berlainan jenis. Padahal kemarin, sepertinya hanya tinggal saya yang kelimpungan belum dapat kamar.
Ternyata masih ada satu orang lagi yang terlupakan, dan beliau memang pergi sendiri juga sama halnya dengan saya. Dan satunya lagi, karom itu sendiri. Kata sang karom, saking sibuk dan pusingnya membagi kamar, hingga dirinya sendiri pun tidak terperhatikan.
Yang buat saya heran adalah kok bisa ya, mereka mau sekamar? Ajaib! Seperti film kartun saja (lucu maksudnya). Benar-benar kartun haji! Naudzubillahi min dzalik..
Saya bolak-balik tanya pada teman-teman, tetapi tidak ada yang berani berkomentar. Bertanya ke karom, beliau beralasan “bagaimana lagi, tidak ada yang mau bertukar kamar lagi. Jadi tidak apa-apa lah kalau kondisi mendesak”.
Saya cuma dapat mengelus dada, geleng-geleng kepala, terbelalak, dan bertanya lagi, “mendesak pak? Bukankah masih banyak yang dapat diubah dan diatur?”
Yup!! Di depan mata sendiri, saya melihat masih banyak kesempatan untuk dapat menegakkan hijab dengan benar, secara Islam sebagaimana mestinya. Masih banyak kamar yang isinya cuma suami istri saja. Dan memang di antaranya, ada juga kamar calhaj yang sudah campur antara yang bukan muhrim dan muhrim lainnya. Tapi itu pun atas kemauan mereka sendiri. Jadi, satu pasangan suami istri sekamar dengan pasangan suami istri lainnya. Melihat sikon yang begitu, jadi sebenarnya masih bisa diatur-atur. Apalagi kapasitas beliau sebagai karom.
Dimana sebagai karom seharusnya dapat membagi, membuat aturan, apalagi aturan hijab yang jelas dan ditegakkan oleh para calhaj. Sehingga tidak akan tejadi masalah demikian.
Tapi pak karom beralasan lagi, “orang-orangnya pada gak mau diatur. Mereka maksa ingin satu kamar. Tidak ada lagi yang dapat diubah”.
Masya Allah.. rupanya di sini aturan Allah sudah kalah dengan aturan kemauan masing-masing manusia yang katanya juga calon haji. Datang ke tanah suci ini, tidur di hotel, dalam rangka memenuhi panggilan suci Allah AWT. Tapi mengapa begini perlakuan mereka terhadap aturan Allah yang sudah seharusnya diterima dan ditegakkan secara benar?
Rupanya, hal tersebut bukan menjadi masalah untuk mereka dan sebagian besar para calhaj. Sehingga sekamarnya dua orang wanita dan pria yang bukan muhrim tenggelam dengan sendirinya, seolah tidak ada masalah saja.
***
Dari kejadian ini, antenna saya sudah mulai berbunyi. Jika sampai hal itu terjadi pada diri saya, saya harus dapat mengambil sikap tegas dan berusaha sebisa yang dapat saya lakukan demi tegaknya aturan Islam. Tapi sejak saat itu, saya harus mempersiapkan diri dari segala sikon yang mungkin terjadi. Sehingga sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya harus gesit dan berusaha sendiri, agar diri saya terselamatkan dari panasnya api neraka, akibat bersentuhan dengan laki-laki atau terbukanya aurat pada yang bukan muhrim. Naudzubillahi min dzalik.. [Alivia]
Labels: di Maktab/Penginapan


0 Comments:
Post a Comment
<< Home