4/25/2006

Hijab antara yang Bukan Muhrim

Alkisah teman sekamarku sakit. Beliau sudah minum pil penahan haid, tapi ternyata tidak berhasil ditahan. Padahal sekali gagal, biasanya haidnya tidak dapat ditahan lagi. Begitupun yang terjadi pada teman saya.

Dari sejak di Madinah, pil penahan ini sudah gagal. Sehingga temanku itu sering sakit salah satunya akibat haid. Selain itu juga, kepala suka pening, dan tekanan darah sangat tinggi ketika dicek ke dokter kloter. Ternyata sakitnya itu berlanjut hingga di Makkah.

***
Hingga pada suatu hari, seorang karom datang ke kamar kita dan masuk untuk menjenguk temanku itu. Kebetulan kasurnya dilepas dari ranjang, dan diletakkan di bawah. Temanku itu sedang tiduran di sana. Ketika beliau datang menjenguk, dengan otomatis beliau duduk dipinggir kasur, diujung kakinya temanku. Karena memang, ujung kasur itu yang dekat dengan pintu masuk dan lantai kamar dilapisi karpet.

Kemudian hal lain terjadi dengan sewajarnya. Di awali dari ngobrol-ngobrol biasa, tapi berlanjut ke pijat-memijat kaki. Dari mulai kaki di atas kasur, hingga kaki berpindah ke atas pahanya sang karom tsb. Duh.. Masya Allah.. katanya teman-teman sekamar saat itu sudah malu aja melihatnya.

Tidak berhenti di situ, pemijatan berlanjut ke daerah atas, daerah bahu dan sekitarnya.

Temanku yang awalnya sangat sakit dan cuma dapat tergeletak di atas kasur, kini sudah bisa duduk untuk dipijat bahunya.

Setelah pemijatan selesai, nampaknya temanku itu semakin sehat. Dan segera mengajak karom tsb untuk jalan-jalan keluar makan baso. Maka keluarlah mereka berdua untuk makan baso.

Teman-teman di kamar, hanya dapat istighfar dan istighfar. Masih tidak sadar apa yang tengah terjadi.

***
Entah mulanya dari mana, akhirnya sang karom tsb (yang sudah beristri dan punya anak) dengan temanku itu (yang belum menikah) berhembus gosip. Entah gossip atau candaan di antara teman-teman saja, tapi ketika saya mampir ke maktab karena ada perlu, para anggota rombongan mulai bercanda bahwa mereka berpacaran. Pembaca KAGET?! ! SAMMMA!! Masya Allah…

Saya yang yakin tidak ada asap jika tidak api, membuat saya introspeksi diri, jangan sampai tindakan saya membuat issue yang tidak baik pula. Apalagi ini saat berhaji. Naudzubillahi min dzalik..

***
Berulangkali saya bertanya dan tetap tidak percaya.
Banyak cerita yang mengisahkan mereka berdua. Ketika mau check up kesehatan, ada teman lain yang ingin ikut bareng, sekalian check. Tapi ketika sampai tujuan, ternyata karom tsb sudah menuggu beliau. Karena tidak enak, akhirnya teman yang pergi bersama-sama dari maktab, memisahkan diri dan menyilakan mereka karena mereka ada keperluan lain.

Atau ketika lempar jumrah, dilengan kanan dan kiri karom tsb, diapit dua orang wanita yang bukan muhrim. Yang satu temanku yang sakit itu, yang satu lagi teman yang sama-sama guru SMA itu. Bagaimana pun bertanggung jawabnya seorang karom, tapi saya kira wujud tanggung jawabnya bukan dengan seperti itu.

Jika ingin seperti itu, masih ada tiga orang wanita di regu saya, yang jauh lebih tua, beda berpuluh-puluh tahun dengan mereka, yang lebih pantas untuk dituntun demi keamanan. Tapi ternyata tidak..
Bahkan mereka yang sudah tua, dengan banyak cucu saja, masih kuat berjalan dan berdesakan melempar jumroh, tanpa harus melanggar aturan bergandengan tangan dengan yang bukan muhrim.

***
Ternyata kisah asmara pada saat proses haji, bukanlah hal aneh. Seperti cerita dari detik.com Cerita Asmara Kandidat Doktor dengan Seorang Dokter .

Tapi yang saya tidak habis pikir, bisa ya mereka berbuat begitu dalam proses haji, dimana berlawanan sekali antara harus selalu mensucikan diri dalam hati, pikiran dan tenaga, harus selalu berdzikir kepada Allah, secara khusyu’ beribadah di tanah suci ini, memenuhi panggilan Allah yang suci dengan menjaga mata dan hati :).

***
Walau banyak cerita yang begitu dari teman-teman. Tapi saya berusaha untuk tidak terpengaruh pada hal-hal tsb. Kalaupun iya, itu tanggungan mereka berdua. Yang penting saya tidak berdosa.

Alhamdulillah.. sekali lagi dan sekali lagi.. saya sangat bersyukur tiada henti. Karena saya dapat dipisahkan dari sikon bathil ini dari sejak awal di Makkah, dan mendapatkan tempat yang justru jauh jauh lebih baik. [Alivia]

Note : saya ketik alkisah, karena kebetulan saya sedang tidak menginap di maktab dan hanya mendengar cerita dari teman-teman sekamar yang lain. Dan saya menyebutkan jabatan seseorang (karom) -- entah karom dari rombongan yang mana -- tidak ada maksud lain selain sebagai pelajaran bagi saya sendiri. Bahwa godaan haji itu sangat besar, hingga seseorang yang sudah menjabat karom pun bisa 'tergelincir'.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home