4/25/2006

Pembagian kamar

Walau di setiap pintu masuk (lobi) hotel/maktab/penginapan ada pengumuman kamar wanita dan pria harus dipisah. Tapi peraturan itu -- yang sebenarnya aturan Islam apa adanya --ternyata tidak mempan untuk rombongan kami.

Untuk pembagian teman sekamar, karom di rombongan saya, pakai sistem siapa cepat dia dapat. Ini yang sangat saya sayangkan. Entah karena tidak ada koordinasi dari pihak Depag/ketua kloter sebelumnya, atau bagaimana, tapi saat pembagian kamar dan teman sekamar, sempat terjadi kekisruhan pada rombongan kami.

Saya tidak mengetahui bahwa sistem yang dipakai akan seperti itu (siapa cepat dia dapat). Karena memang tidak ada info sebelumnya. Saya sendiri sempat bingung, karena saya tidak dapat teman sekamar dan entah harus dikamar berapa. Sementara yang lain sudah mendapatkan kunci kamar masing-masing, beserta teman sekamarnya, yang rata-rata adalah pasangannya atau keluarganya sendiri. Sementara saya? Saya pergi sendirian dan saya tidak tahu harus bagaimana.

Alhamdulillah, ada teman yang mengajak saya untuk sekamar. Walau mereka sudah mendapatkan kamar dengan pemandangan bagus, tapi hanya dapat untuk berdua, tapi mereka rela untuk pindah kamar. Dan mendapatkan kamar dengan kapasitas bertiga. Terima kasih atas bantuan dan kerelaannya bu :).

Akhirnya, kami mendapatkan kamar ala hotel berbintang 3, dengan kapasitas 3 tempat tidur, 1 tv, 1 kulkas, dan kamar mandi di dalam.

***
Keesokan harinya, terdengar kabar bahwa ada dua orang yang belum dapat kamar, dan akhirnya harus satu kamar, padahal berlainan jenis. Padahal kemarin, sepertinya hanya tinggal saya yang kelimpungan belum dapat kamar.

Ternyata masih ada satu orang lagi yang terlupakan, dan beliau memang pergi sendiri juga sama halnya dengan saya. Dan satunya lagi, karom itu sendiri. Kata sang karom, saking sibuk dan pusingnya membagi kamar, hingga dirinya sendiri pun tidak terperhatikan.

Yang buat saya heran adalah kok bisa ya, mereka mau sekamar? Ajaib! Seperti film kartun saja (lucu maksudnya). Benar-benar kartun haji! Naudzubillahi min dzalik..

Saya bolak-balik tanya pada teman-teman, tetapi tidak ada yang berani berkomentar. Bertanya ke karom, beliau beralasan “bagaimana lagi, tidak ada yang mau bertukar kamar lagi. Jadi tidak apa-apa lah kalau kondisi mendesak”.

Saya cuma dapat mengelus dada, geleng-geleng kepala, terbelalak, dan bertanya lagi, “mendesak pak? Bukankah masih banyak yang dapat diubah dan diatur?”

Yup!! Di depan mata sendiri, saya melihat masih banyak kesempatan untuk dapat menegakkan hijab dengan benar, secara Islam sebagaimana mestinya. Masih banyak kamar yang isinya cuma suami istri saja. Dan memang di antaranya, ada juga kamar calhaj yang sudah campur antara yang bukan muhrim dan muhrim lainnya. Tapi itu pun atas kemauan mereka sendiri. Jadi, satu pasangan suami istri sekamar dengan pasangan suami istri lainnya. Melihat sikon yang begitu, jadi sebenarnya masih bisa diatur-atur. Apalagi kapasitas beliau sebagai karom.

Dimana sebagai karom seharusnya dapat membagi, membuat aturan, apalagi aturan hijab yang jelas dan ditegakkan oleh para calhaj. Sehingga tidak akan tejadi masalah demikian.

Tapi pak karom beralasan lagi, “orang-orangnya pada gak mau diatur. Mereka maksa ingin satu kamar. Tidak ada lagi yang dapat diubah”.

Masya Allah.. rupanya di sini aturan Allah sudah kalah dengan aturan kemauan masing-masing manusia yang katanya juga calon haji. Datang ke tanah suci ini, tidur di hotel, dalam rangka memenuhi panggilan suci Allah AWT. Tapi mengapa begini perlakuan mereka terhadap aturan Allah yang sudah seharusnya diterima dan ditegakkan secara benar?

Rupanya, hal tersebut bukan menjadi masalah untuk mereka dan sebagian besar para calhaj. Sehingga sekamarnya dua orang wanita dan pria yang bukan muhrim tenggelam dengan sendirinya, seolah tidak ada masalah saja.

***
Dari kejadian ini, antenna saya sudah mulai berbunyi. Jika sampai hal itu terjadi pada diri saya, saya harus dapat mengambil sikap tegas dan berusaha sebisa yang dapat saya lakukan demi tegaknya aturan Islam. Tapi sejak saat itu, saya harus mempersiapkan diri dari segala sikon yang mungkin terjadi. Sehingga sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya harus gesit dan berusaha sendiri, agar diri saya terselamatkan dari panasnya api neraka, akibat bersentuhan dengan laki-laki atau terbukanya aurat pada yang bukan muhrim. Naudzubillahi min dzalik.. [Alivia]

Labels:

Aurat antar sesama haji dan calon haji

Di rombongan saya ada beberapa yang sudah berhaji. Bahkan di regu saya, dari jumlah 11 orang, sepertinya cuma 4 orang saja yang belum berhaji, termasuk saya sendiri.

Dengan bekal info ini, saya merasa sedikit tenang berhaji karena satu regu dengan orang-orang yang sudah berpengalaman haji sebelumnya. Apalagi karom berada satu regu pula dengan saya. Tentu tambah tenanglah saya :).

Tapi, keberadaan mereka ternyata tidak membuat saya tenang terhadap segala hal, baik bertanya tentang ilmu agama/haji, pengambilan keputusan, ataupun setiap beraktivitas sehari-hari.

Pada kenyataannya, saya harus teatp bertopang pada kaki, tangan, kemampuan, dan keputusan sendiri. Di antaranya soal hijab dan aurat ini.

Selain terjadi hal seperti satu kamar hanya berdua dengan yang bukan muhrim (bisa dibaca di Pembagian Kamar), masalah hijab dan aurat ini ternyata benar-benar seperti diabaikan.

***
Mereka-- ibu-ibu para calhaj maupun yang sudah haji-- dari mulai yang berstatus tidak bekerja, atau sebagai guru, hingga istri seorang ustadz sekalipun, selama di penginapan di tanah suci, tidak memakai kerudungnya sebagai penutup aurat.

Mereka bersikap biasa saja seperti di rumahnya sendiri, seolah-olah tidak ada yang bukan muhrim. Mereka ngobrol, tertawa dengan yang bukan muhrim, tanpa memakai kerudung sama sekali, tapi malah ada yang berdandan memakai bedak dan gincu, atau ada juga yang hanya berpakaian daster layaknya seperti baru bangun tidur.

Lebih kartun lagi (baca: saking lucunya maka seperti sedang nonton film kartun saja), , ketika tidur bahkan ada yang memang benar-benar memakai pakaian tidur layaknya pakaian tidur di rumahnya sendiri, di kamarnya sendiri. MasyaAllah.. saya sendiri pun sebagai sesama jenis, melihatnya juga malu deh..

Mereka pun bersikap biasa, tidak memakai kerudung dengan pakaian seadanya atau bahkan dengan berdandan menggunakan lipstik merahnya, ketika ingin ke kamar mandi, atau masak di dapur, atau makan bersama dengan bapak-bapak, seperti halnya bapak-bapaknya itu suaminya sendiri. Tidak terbersit rasa malu di wajah mereka.

***
Tapi, dipikir-pikir lagi, itu bisa terjadi apakah karena kurang ilmu atau bagaimana..? Tapi tidak mungkin juga bila karena tidak tahu. Setahu saya tentang aurat ini pun sudah diwanti-wanti ketika bimbingan manasik haji dulu. Karena jangankan membuka aurat di hari biasa, pada saat ihrom saja, yang seharusnya penuh dengan syarat dan kehati-hatian, mereka tetap membuka auratnya selama belum pergi ke mesjid. Atau berwudhu sembarang tempat, tidak memperhatikan tertutup atau tidaknya aurat, diwaktu ihrom. MasyaAllah.. sayang sekali berhajinya itu bukan? [Alivia]

Labels:

Hijab antara yang Bukan Muhrim

Alkisah teman sekamarku sakit. Beliau sudah minum pil penahan haid, tapi ternyata tidak berhasil ditahan. Padahal sekali gagal, biasanya haidnya tidak dapat ditahan lagi. Begitupun yang terjadi pada teman saya.

Dari sejak di Madinah, pil penahan ini sudah gagal. Sehingga temanku itu sering sakit salah satunya akibat haid. Selain itu juga, kepala suka pening, dan tekanan darah sangat tinggi ketika dicek ke dokter kloter. Ternyata sakitnya itu berlanjut hingga di Makkah.

***
Hingga pada suatu hari, seorang karom datang ke kamar kita dan masuk untuk menjenguk temanku itu. Kebetulan kasurnya dilepas dari ranjang, dan diletakkan di bawah. Temanku itu sedang tiduran di sana. Ketika beliau datang menjenguk, dengan otomatis beliau duduk dipinggir kasur, diujung kakinya temanku. Karena memang, ujung kasur itu yang dekat dengan pintu masuk dan lantai kamar dilapisi karpet.

Kemudian hal lain terjadi dengan sewajarnya. Di awali dari ngobrol-ngobrol biasa, tapi berlanjut ke pijat-memijat kaki. Dari mulai kaki di atas kasur, hingga kaki berpindah ke atas pahanya sang karom tsb. Duh.. Masya Allah.. katanya teman-teman sekamar saat itu sudah malu aja melihatnya.

Tidak berhenti di situ, pemijatan berlanjut ke daerah atas, daerah bahu dan sekitarnya.

Temanku yang awalnya sangat sakit dan cuma dapat tergeletak di atas kasur, kini sudah bisa duduk untuk dipijat bahunya.

Setelah pemijatan selesai, nampaknya temanku itu semakin sehat. Dan segera mengajak karom tsb untuk jalan-jalan keluar makan baso. Maka keluarlah mereka berdua untuk makan baso.

Teman-teman di kamar, hanya dapat istighfar dan istighfar. Masih tidak sadar apa yang tengah terjadi.

***
Entah mulanya dari mana, akhirnya sang karom tsb (yang sudah beristri dan punya anak) dengan temanku itu (yang belum menikah) berhembus gosip. Entah gossip atau candaan di antara teman-teman saja, tapi ketika saya mampir ke maktab karena ada perlu, para anggota rombongan mulai bercanda bahwa mereka berpacaran. Pembaca KAGET?! ! SAMMMA!! Masya Allah…

Saya yang yakin tidak ada asap jika tidak api, membuat saya introspeksi diri, jangan sampai tindakan saya membuat issue yang tidak baik pula. Apalagi ini saat berhaji. Naudzubillahi min dzalik..

***
Berulangkali saya bertanya dan tetap tidak percaya.
Banyak cerita yang mengisahkan mereka berdua. Ketika mau check up kesehatan, ada teman lain yang ingin ikut bareng, sekalian check. Tapi ketika sampai tujuan, ternyata karom tsb sudah menuggu beliau. Karena tidak enak, akhirnya teman yang pergi bersama-sama dari maktab, memisahkan diri dan menyilakan mereka karena mereka ada keperluan lain.

Atau ketika lempar jumrah, dilengan kanan dan kiri karom tsb, diapit dua orang wanita yang bukan muhrim. Yang satu temanku yang sakit itu, yang satu lagi teman yang sama-sama guru SMA itu. Bagaimana pun bertanggung jawabnya seorang karom, tapi saya kira wujud tanggung jawabnya bukan dengan seperti itu.

Jika ingin seperti itu, masih ada tiga orang wanita di regu saya, yang jauh lebih tua, beda berpuluh-puluh tahun dengan mereka, yang lebih pantas untuk dituntun demi keamanan. Tapi ternyata tidak..
Bahkan mereka yang sudah tua, dengan banyak cucu saja, masih kuat berjalan dan berdesakan melempar jumroh, tanpa harus melanggar aturan bergandengan tangan dengan yang bukan muhrim.

***
Ternyata kisah asmara pada saat proses haji, bukanlah hal aneh. Seperti cerita dari detik.com Cerita Asmara Kandidat Doktor dengan Seorang Dokter .

Tapi yang saya tidak habis pikir, bisa ya mereka berbuat begitu dalam proses haji, dimana berlawanan sekali antara harus selalu mensucikan diri dalam hati, pikiran dan tenaga, harus selalu berdzikir kepada Allah, secara khusyu’ beribadah di tanah suci ini, memenuhi panggilan Allah yang suci dengan menjaga mata dan hati :).

***
Walau banyak cerita yang begitu dari teman-teman. Tapi saya berusaha untuk tidak terpengaruh pada hal-hal tsb. Kalaupun iya, itu tanggungan mereka berdua. Yang penting saya tidak berdosa.

Alhamdulillah.. sekali lagi dan sekali lagi.. saya sangat bersyukur tiada henti. Karena saya dapat dipisahkan dari sikon bathil ini dari sejak awal di Makkah, dan mendapatkan tempat yang justru jauh jauh lebih baik. [Alivia]

Note : saya ketik alkisah, karena kebetulan saya sedang tidak menginap di maktab dan hanya mendengar cerita dari teman-teman sekamar yang lain. Dan saya menyebutkan jabatan seseorang (karom) -- entah karom dari rombongan yang mana -- tidak ada maksud lain selain sebagai pelajaran bagi saya sendiri. Bahwa godaan haji itu sangat besar, hingga seseorang yang sudah menjabat karom pun bisa 'tergelincir'.

Labels: