4/06/2006

Materi Informal Haji

Selama manasik haji, ternyata banyak terdapat materi informal lainnya di dalam kelas :). Saya mendapatkan beberapa pelajaran yang cukup membangunkan saya agar segera bersiaga dan benar-benar meluruskan niat perjalanan haji saya.

***

Di dalam kelas, saya selalu mengambil bangku di pojok, dekat jendela, dan di belakang, ternyata memiliki keuntungan multiple ganda. Di antaranya dapat memperhatikan bagaimana sikap teman-teman para calhaj lainnya. Dari sudut itu pula, saya mendapat gambaran lain tentang berhaji.

Misal, dari sikap-sikap para calhaj ketika menerima materi. Saya mendapati berbagai macam tipe manusia, ada yang sok tahu, ada yang tidak tahu – walau sudah pernah berhaji, ada yang banyak bertanya, ada yang asik ngobrol, ada yang melamun sambil merokok di pojok belakang, ada yang rajin mencatat, dsb.

Atau dari obrolan ketika istirahat, kita dapat melihat beberapa motivasi berhaji. Yang ternyata tidak semuanya ikhlas karena ibadah. Di antaranya ada yang
berhaji karena ingin mengenang hajinya yang pertama. Seolah seperti rekreasi, tour dari satu tempat ke tempat lain.

Atau ada juga yang karena suaminya meninggal, sehingga berhaji untuk melepaskan penat kesedihan. Haji ini pun karena desakan dari kedua saudaranya, yang berniat berhaji juga. Ditambah lagi, haji pertamanya beliau hanya sibuk masak ke masak. Katanya alasannya karena berhaji bareng dengan mertua :). Alasan ini terjadi pada guru SMP saya. Sebenarnya kurang tepat disebut guru SMP saya, karena beliau tidak lagi mengajar pada angkatan saya, tapi beliau pernah mengajar di tempat yang sama dengan saya sekolah SMP. (Menurut teman-teman, apakah itu berarti guru SMP saya atau bukan ? :) )
Kebetulan beliau satu kelas dengan saya, yang nantinya akan menjadi satu rombongan bahkan satu regu dengan saya. Saya sudah mencatatnya dalam memori saya. Dan ada 1 orang lagi, yang memang benar-benar murid beliau, hingga mengenal seluruh keluarga beliau :).

Hal lainnya, satu demi satu mulai diperlihatkan. Bagaimana suasana sebenarnya para calon jamaah haji. Terlebih lagi ketika waktunya mulai membicarakan keperluan atau tentang kebersamaan rombongan.

Ada yang ‘sok tahu dan mengatur’ karena memang sudah pernah berhaji. Ada yang mau menang sendiri, tidak mau kalah. Ada yang cerewet di belakang, tapi tidak berani mengemukakannya di depan. Ada yang tidak setuju, tapi mendumel di belakang saja. Saya suruh ungkapkan beliau tidak mau. Ada yang terima nasib saja.

Termasuk saya sendiri, ketika pendapat saya tidak didengar, ya sudahlah. Saya tidak mau berdebat, cukup diam saja. Karena kebetulan saya memang belum ada pengalaman berhaji, hanya baru mendengarkan cerita saja. Sehingga memang berharap, yang lebih ahli dalam hal ini, atau yang sudah pengalaman mudah-mudahan ikut berurun rembug pendapat.

Ketika kelas mulai ribut dan gaduh karena banyaknya pendapat, atau rebutan anggota ketika pembagian kelompok, satu hal yang saya tangkap. Saya sudah dapat melihat ‘ketidakberesan’ ketua rombongannya. Saat itu saya sudah dapat menilai ketidakmampuan karom.

Walau kapasitas saya tidak layak untuk menilai karom -- yang sudah pernah berhaji, tapi saya harus dapat menilai sikon bagaimana yang harus saya hadapi kelak. Medan tantangan yang seperti apa yang harus saya perjuangkan. Karena saya pergi sendiri dan saya tidak mau menggantungkan ibadah saya pada orang lain. Tapi, ibadah saya baik adalah akibat dari ikhtiar saya, dan ibadah saya buruk pun akibat dari kelalaian saya. Tidak ada orang lain yang terlibat. Sehingga saya harus dapat menjaga diri. Insya Allah.. Kabulkanlah ya Allah. Amin.

***

Fenomana di atas, cukup membuat saya intropeksi, saya berhaji karena apa dan mau bagaimana. Saya harus dapat memanfaatkan satu-satunya kesempatan berhaji ini, seperti saya akan meninggal esok, saya harus dapat bersyukur atas hadiah terbesar yang Allah berikan pada saya atas perjuangan hidup saya selama ini. Insya Allah..


Wassalam
Alivia

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home