Selama Manasik Haji
Entah kenapa, bimbingan manasik haji ini sangat lambat untuk menginap di kepala saya. Padahal saya sudah duduk manis, melihat pada pak guru alias pembimbing, konsentrasi penuh, dan mencatat sedikit demi sedikit supaya tidak mengantuk. Tapi tetap saja, saya tidak dapat menganggukkan kepala saya, tanda saya sudah paham. Di tambah lagi, buku-buku manasik haji dari Depag, pada angkatan saya (Haji Januari 2006) mengalami keterlambatan yang sangat telak. Buku-buku Panduan Haji dibagikan setelah manasik haji selesai, bahkan hanya tinggal beberapa hari dari waktu keberangkatan pergi ke tanah suci Mekkah. Depag..Depag.. Negaraku.. :(
Terus terang saya sangat berharap banyak pada manasik haji ini. Karena saya tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang berhaji. Boro-boro tahu tata cara berhaji, urutannya bagaimana, nama-namanya saja walau cuma nama tempat, saya tidak tahu dan bagi saya sangat sulit sekali untuk menghapal nama-nama tersebut. Maka saya harus mengikuti manasik haji ini dengan seksama. Tapi sayang.. saya masih telmi saja :(.
Hingga akhirnya tiba waktu untuk praktek simulasi tata cara berhaji. Ketika itu, sudah disediakan miniatur kabah, maqom Ibrahim, bukit sa'i, hingga tempat lempar jumrah. Tapi, bagi saya tetap, saya tidak dapat mengerti tata caranya dan tidak hapal semua tata cara beserta namanya. Pada saat itu, saya cuma membeo dan berusaha agar saya tidak ketinggalan dari arahan pembimbingku saja :(.
Padahal praktek simulasi ini adalah bimbingan manasik haji yang terakhir. Tapi, saya benar-benar belum bisa apa-apa. Walau selama manasik haji berlangsung, saya sudah mencoba untuk baca-baca referensi lain. Tapi mungkin kelemahan saya, memang sulit untuk menghapal :(.
Sekarang manasik haji sudah selesai dan waktu keberangkatan tinggal 4 minggu lagi, saya harus benar-benar kerja keras mengejar ketinggalan. Saya harus mencari buku sendiri untuk dibaca-baca di rumah.
***
Selidik punya selidik, akhirnya saya dapat perbandingan bagaimana berhaji sunnah Rasulullah dan bagaimana dengan yang DEPAG lakukan. Perbedaan itu di antaranya di dapat dari buku Haji terbitan PERSIS, yang dipinjamkan oleh teman. Sayang.. bukunya sudah dikembalikan, dan saya lupa mencatat judulnya. Bukunya kecil, tipis, tapi lengkap dan jelas.
Setelah membaca buku itu, saya menangkap, PERSIS bukan bermaksud berbeda/membedakan diri dari Depag atau KBIH lainnya. Mereka hanya mencoba untuk berhaji mengikuti sunnah Rasulullah saja. Titik. Salah satu perbedaan itu di antaranya tentang tarwiyah dan tempat miqat. Apa itu miqat bisa dibaca di buku panduan haji, dan lebih jelasnya perbedaan tentang miqat bisa dibaca di buku PERSIS.
Dari bekal itu, semakin mantaplah keinginan saya, untuk ikut tarwiyah (tanajul versi DEPAG), yang sebenarnya mengikuti sunnah Rasulullah, tapi tidak dilakukan oleh DEPAG.
Ditambah lagi, ketika Karom saya mengadakan bimbingan tambahan di rumahnya, dari pemilik sebuah KBIH (orang DEPAG juga). Beliau menjelaskan tarwiyah, sama dengan PERSIS. Beliau menyayangkan sikap Depag yang tidak melakukan tarwiyah. Beliau menyarankan, jika memang saya ingin bertarwiyah segera tentukan dari sekarang, daftar/lapor pada Karom. Maka, semakin mantaplah saya harus bagaimana berhaji yang benar.
Saat itu juga saya langsung lapor pada Karom, bahwa saya mendaftarkan diri untuk bertarwiyah. Sesuai juga dengan pesan dari pembimbing manasikku, pak Aep, bahwa kita tinggal mendaftarkan diri saja pada ketua kloter, nanti ketua kloter yang akan mengaturnya. Semoga saja dalam satu kloter ada yang berminat tanajul.
Selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana prosesnya. Tapi yang jelas saya sudah lapor pada Karom. Yang saya ketahui kemudian, ternyata laporan itu tidak diproses sebagaimana mestinya. Dan mentah kembali ketika berada di tanah suci dan saya harus berjuang untuk itu yang ternyata tidaklah mudah. Masya Allah.. Subhanallaah..
Entah karena pembimbing saya yang salah memberikan informasi, atau entah karena di tanah air Karom saya tidak melaporkannya terlebih dahulu pada ketua kloter, atau entah karena Ketua Kloter tidak mengkoordinir bagi yang mau tarwiyah atau entah karena memang Depag tidak menyediakan tarwiyah. Wallahu’alam..
***
Sedikit komentar tentang tarwiyah, sbb : Alasan versi DEPAG (yang saya tahu) mengapa tidak menjalankan tarwiyah dalam proses berhaji, sbb :
1. katanya karena di tarwiyah itu (mabit di Mina), dilakukan hanya untuk mengumpulkan air. Karena pada zaman Rasulullah saat itu, di Arafah sulit untuk mendapatkan air. Tapi, karena zaman sekarang air sudah banyak di Arafah, maka sudah tidak perlu lagi mabit di Mina.
Tanggapan saya :
Namanya sunnah ya sunnah. Dan hukumnya untuk dicontoh, bukan untuk dianulir. Seperti juga halnya mengapa mencium Hajar Aswad. Dan begitulah berhaji yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
2. Sikon sekarang, calhaj Indonesia sangat banyak. Sehingga tidak dapat lagi dilaksanakan mabit di Mina.
Tanggapan saya : Depag bisa mengatur transportasi ketika setelah wukuf di Arafah. Mengapa tidak dapat dilaksanakan seperti hal itu juga untuk mabit di Mina. Sementara itu, negara lainnya (selain Malaysia – yang saya tahu) melakukan mabit di Mina.
Wassalam
Alivia
Labels: Selama Manasik Haji


2 Comments:
Assalamualaikum, ukhti..
Insya allah tahun ini kami akan ke tanah haram, dan kami tidak mengikuti KBIH (istilahnya Haji Mandiri) dan berencana untuk bertanazul (mabit di mina pada hari tarwiyah), doakan lancar, ya.
waalaikumsalam wr. wb.
Alhamdulillah.. Semoga seluruhnya berjalan lancar. Dan karena ikut haji mandiri, saran saya.. segera cari info tentang tarwiyah ke ketua urusan haji DEPAGnya, mumpung masih di tanah air.. jika sudah di sana.. kemungkinan kecil sangat sulit sekali untuk tarwiyah (bila ikut Haji Mandiri), kecuali memisahkan diri sendiri. Semoga menjadi haji mabrur.. aamiin.. :)
Post a Comment
<< Home