4/06/2006

Fenomena sikap-sikap para calon jamaah haji

Bila mendengar seseorang dipanggil pak haji atau bu hajjah, ada rasa salut terselip dalam hati saya kepada mereka. Karena terbayang akhlak mereka yang sudah nyaris sempurna. Atau jika tidak sempurna, minimal kehidupan mereka tentu jauh dari hal-hal yang negatif. Adem ayem dan sholeh-sholeh saja. Begitu mungkin bahasa gaulnya :).

Saya selalu menaruh simpatik yang dalam pada mereka. Apalagi jika sudah haji mereka aktif di mesjid dan masyarakat, misal memberikan ceramah serta punya binaan. Walau saya juga percaya seorang haji/hajjah tidak akan luput dari kesalahan dan jauh dari sempurna.

Tapi di tengah rusaknya dunia seperti ini, keyakinan saya tetap mengatakan, jika sudah ada panggilan berhaji saja, maka sudah luar biasa. Keyakinan ini tetap ada dalam dada saya, tapi tidak seyakin sebelum manasik haji.

***

Dalam kelas saya, para calon jamaah haji berasal dari berbagai jenis pekerjaan dan daerah yang beragam. Dan ternyata bukan hanya menjadi calon haji saja, tapi bahkan sudah ada yang berhaji.

Sementara kenyataan itu ada di depan mata.

Ada calon haji yang berambut gondrong ala preman. Ternyata beliau adalah seorang ustadz dan hafal banyak ayat al quran. Tapi saya tidak melihat dari penampilannya, saya hanya memperhatikan beliau suka sekali bercanda (bahkan sampai berlebihan) dan perokok berat.

Ada lagi seorang haji yang merangkap sebagai ketua RW. Beliau gagah, tinggi, dan hitam. Tapi kehitamannya itu tidak membuat beliau kehilangan kharisma dan kewibawaannya. Mungkin karena itulah, ditambah sudah berhaji, beliau diangkat sebagai karom ;).

Awalnya lancar-lancar saja, bahkan terlihat sekali beliau sangat perhatian dan bertanggung jawab. Tapi lama-kelamaan, terlihat aslinya. Yah mungkin tidak terlalu begitu.. dia hanya suka ketahuan berbohong sedikit, beda jawaban antara kepada si A, si B, atau si C. Atau bahkan beda jawaban dengan pertanyaan yang sama pada orang yang sama. Atau juga dia hanya ingkar janji, tapi tetap namanya ingkar janji ya bahaya juga. Jadi mungkin, beliau tidak dapat juga disebut seorang penjilat walau sepertinya asal kita senang. Atau juga tidak dapat disebut pembohong karena memberikan cerita/alasan yang berbeda-beda. Atau juga disebut khianat, karena ingkar janjinya. Terdengar terlalu kasar dan masa sih sampai segitunya. Tapi ada saja kejadian yang tersebut di atas terjadi pada teman-teman yang lain, dan terjadi juga pada saya :(. Naudzubillahi min dzalik..

Ada lagi seorang guru SMA, wanita, cantik, pintar, dan belum menikah. Beliau sangat baik. Dan bisa saya bilang, beliau lebih bisa toleran terhadap perbedaan dibandingkan temannya yang juga sama-sama guru SMA. Mungkin akibat beliau sudah keliling Eropa, sering ke luar negeri, dan bergaul dengan warga Negara lain. Dan beliau juga merokok :(. Bahkan nanti ada cerita yang sangat menghebohkan.. kisah nyata. Tunggu di kisah yang lain. Insya Allah akan diceritakan sebagai hikmah.

Inti dari fenomena ini, kemudian saya bertanya : beginikah kehidupan seorang haji atau calon haji?

Sepertinya, keyakinan dan penghormatan saya sebelumnya, hanya baru imajinasi saja. Ada dalam bayangan dan perkiraan saya saja. Jika sudah berhaji, maka segala sesuatunya sudah dalam aturan yang benar. Jika sudah berhaji, maka segala sesuatunya tidak mungkin akan salah-salah sekali. Walau ada salah, ya namanya manusia, tidak luput dari kesalahan. Tapi pasti mereka langsung sadar tentang kesalahan mereka. Jika sudah berhaji.. jika sudah berhaji.. ternyata itu semuanya hanya ada dalam benak saya. Dan saya tidak berlandaskan pada kenyataan.

Inilah yang membuat saya tercengang dan benar-benar sangat intropeksi pada diri sendiri. Sekaligus mulai sedikit pupus keyakinan saya dan penilaian-penilaian saya sebelumnya ketika melihat atau mendengar seseorang akan pergi berhaji atau sudah berhaji. Wallahu'alam..

Wassalam
Alivia

Labels:

2 Comments:

At 2:07 AM, Anonymous Anonymous said...

Salaam Ummi Aliv...Teh' Aliv...
saat teh aliv..mengizinkan untuk membaca blogspot tentang cerita haji...Subehanallah ehhmm apa tidak terpikir untuk membukukannya :)
Subehanllah satu lagi yang saya salutnya..disaat bener-benear untuk konsen beribadah...masih memepikirkan untuk mencatat aktivitas yang di jalani selama menunaikan Ibadah Haji...alhamdulillah..bisa bagi-bagi pengalaman dengan yang lainnya.
Semoga Allah SWT senangtiasa menyejukkan hati kita, menerangkan pikiran kita, membersihkan jiwa kita dan mengangkat diri kita semua dari segal jenis penderitan & kepiluan..Aamiin...
Salaam,
Ely (http://ayatcintaku.blogspot.com)

 
At 12:49 AM, Anonymous alivia said...

alhamdulillah.. Allohu Akbar, rekaman peristiwa haji tanpa perlu dicatat pun sepertinya selalu terekam hingga menusuk sangat dalam ke hati sanubari, hingga sulit dilupakan. semuanya dirasakan benar-benar merupakan bahan training sebagai bekal pembelajaran untuk menjalani kehidupan nyata selanjutnya. kalau dibukukan.. masih jauh dari pantasnya dibukukan.. :). Semoga dari bacaan2 singkat dan jauh dari sempurna ini, para penulis yang handal, dapat melahirkan ide2 cemerlang dan menyusunnya untuk meneruskan hikmah dan hikmah sepanjang masa ke seluruh dunia.aamiin

 

Post a Comment

<< Home