4/06/2006

Pemilihan Karom dan Karu

Pengelolaan rombongan jamaah haji di Depag--terutama rombongan saya sendiri--dapat dikatakan tidak berhasil :(. Hal ini mungkin diakibatkan oleh karom dan karu yang diambil dari peserta jamaah haji itu sendiri. Yup! Karom dan karu saya diambil dan dipilih dari dan oleh peserta jamaah haji itu sendiri, berdasarkan suara terbanyak.

Bukan bermaksud merendahkan Karom dan Karu peserta calon jamaah haji. Tapi pada kenyataannya di lapangan, ternyata sangat dibutuhkan seorang Karom dan Karu yang sudah mempunyai skill khusus tentang seluk-beluk haji. Dari mulai ilmu agama yang luas, prinsip yang kuat, bahkan juga diperlukan ilmu dan sikap yang luwes plus bijaksana guna menghadapi berbagai perbedaan di antara jemaah haji, hingga ke tata cara berduaan dengan yang bukan muhrim, berkumpul, berkamar, menutup aurat, hijab, dan tidak kalah pentingnya pengetahuan tentang hal-hal praktis hidup sehari-hari atau ziarah di tanah Arab.

Ilmu yang terakhir ini sangat dibutuhkan oleh para jemaah hajinya di sana. Ini nampaknya yang tidak diperhitungkan oleh DEPAG. Memilih karom ternyata tidak cukup hanya punya kemampuan memimpin saja, atau yang masih kuat saja, atau bahkan yang sudah bertitel haji saja--seperti yang dilakukan pada rombongan saya.

Seorang Karom/Karu harus sudah diberikan kemampuan dan wawasan tentang itu semua. Jika belum, maka pendapat saya pribadi : seorang karom tidak dapat diambil dari sesama peserta calon jamaah haji, dimana ketika mereka mendaftar pun mereka masih bermentalkan sebagai peserta. Sehingga sebagian besar, belum mempersiapkan diri bermental sebagai pembimbing peserta haji, apalagi membekalkan dirinya dengan berbagai akhlak, pengetahuan agama, ijtihad2, dan wawasan sebagai pembimbing yang dapat membimbing dan mengarahkan jamaahnya, baik dalam hal ilmu agama maupun praktis kehidupan sehari-hari.

Dan saya pribadi sebagai peserta calhajnya tentu tidak mau mengorbankan haji saya hanya karena hal tersebut. Apalagi Karu saya malah dipilih hanya tinggal beberapa hari mau berangkat haji. Bahkan anggotanya banyak yang belum tahu siapa Karu-nya sekarang. Masya Allah..

Sangatlah beruntung bagi rombongan yang mendapatkan karom yang bertanggung jawab, berilmu dan menerapkan ilmunya tsb. Saya melihat ada satu rombongan di jemaah haji mandiri Depag sangat baik dalam hal mengorganisir, memberikan pengarahan dan membimbing jamaah hajinya. Ditambah lagi, ternyata di antara jamaah hajinya terdapat yang bisa berbahasa arab dan sedikit-sedikit tahu daerah-daerah arab. Hal ini sangat membantu karomnya. Dan terus terang saya iri :). Tapi lagi-lagi, saya tidak dapat bergantung pada hal itu.

Haji adalah ibadah diri saya sendiri. Berhasil atau tidaknya berhaji bukan ditentukan oleh siapa Karom ataupun Karu-nya. Tapi, ditentukan oleh kemampuan, motivasi, semangat dan prinsip dirinya sendiri. Saya harus mengingat hal ini terus, agar haji saya dapat berhasil. Amin.

Intermezzo sedikit : setiap mengetik karu-nya, saya selalu harus ingat untuk menyelipkan tanda hubung, agar tidak menjadi kata ‘karunya’, dimana dalam bahasa Sunda berarti kasihan :).

Wassalam
Alivia

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home