4/13/2006

Hal Penting Sebelum Pergi

Ada hal-hal penting harus dilakukan sebelum pergi haji, di antaranya sbb :
1. Melakukan pengajian bagi yang mampu, bila tidak mampu mengadakan silaturahmi seadanya, bisa keliling teman-teman kita untuk minta maaf. Lalu berdoa kepada Allah untuk keselamatan, kelancaran, dan keberhasilan haji kita.
2. Minta maaf kepada orang tua, kerabat dan teman.
3. Membuat wasiat :

a. Tentang masa depan anak/keluarga
b. Tentang tabungan/asuransi
c. Tentang pensiun
d. Tentang hutang piutang
e. Tentang urusan kantor/pekerjaan
f. Tentang hak-hak sebagai pegawai di kantor jika bekerja.
g. Tentang kewajiban-kewajiban sebagai pegawai di kantor jika bekerja.
4. Memberikan penjelasan jauh-jauh hari kepada anak dan keluarga tentang kepergian haji. Barangkali ada yang merasa kehilangan.

Ketika melakukan pembuatan wasiat, terasa sekali bahwa haji akan menjadi perjalanan akhir hidup ini. Saya seperti benar-benar akan menghadapi kematian. Waktu yang sisa, sebelum pergi haji, terasa sekali harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hati yang ikhlas, menyerahkan segala urusan kepada Allah semata, tiada kekuatan selain kekuatan Allah, benar-benar akan kita rasakan.

Apalagi jika melihat anakku, dia harus saya tinggalkan demi perjuangan di jalan Allah. Bagimana jika terjadi apa-apa padaku?

Tapi terus terang, pada saat itu, saya tidak merasakan kekhawatiran sama sekali. Yang terasa benar-benar hanyalah hidupku matiku benar-benar diserahkan pada Allah semata. Yang dirasakan terberat adalah bagaimana hajiku ini benar-benar dapat berhasil, mendidikku, membinaku, mengajarkan aku, membelajarkan aku, dan membawa hikmah pada diri dan kehidupanku, sehingga tidak sia-sia membuang 30 juta rupiah lebih, walau bukan orientasi uang tujuannya.

Padahal jika mau dihitung-hitung berat, seharusnya meninggalkan anak adalah hal terberat dalam hidupku. Lantas bagaimana jika aku meninggal?

Alhamdulillah sejak awal hamil dan melahirkan, aku sadar bahwa aku tidak akan sanggup membesarkannya sendirian. Aku pasrahkan hidupnya pada sang Zat Pencipta. Dengan kekuatan dan rahimNya lah, aku akan sanggup melewatinya hingga detik ini.

Dan aku pun yakin, kemampuan ini benar-benar pertolongan Allah. Sang Maha Penjaga dan Maha Pelindung, yang mendidik langsung anakku, bagaimana dia harus menghadapi kesulitan hidup ini, bertahan dari cobaan hidup dengan caranya sendiri, selalu berusaha empati dan menolong sekitarnya.

Oleh sebab itu, aku yakin dengan tidak adanya aku bukanlah hambatan buat anakku untuk berkembang menjadi dewasa dan sholeh. Allah akan selalu ada setiap saat ketika dibutuhkan. Dan alhamdulillah temanku--kebetulan ketua pesantren--akan turut membantu merawat dan membimbing anakku jika aku tidak ada. Mungkin hal ini pula yang membuatku menjadi tenang.

Dan lebih tenangnya lagi, aku sudah berusaha untuk mengasuransikan seluruh kebutuhan anakku, dari mulai kesehatan, pendidikan, hingga warisan. Alhamdulillah.. Semoga hidupnya tidak menyulitkan Islam dan orang-orang sekitarnya. Amin. [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home