6/28/2006

Tentang Miqat

Ibadah haji berawal dari miqat. Di sini, seluruh umat manusia harus berganti pakaian--membuka pakaiannya yang menutupi diri dan watak manusia. Karena pakaian melambangkan status, pola, dan perbedaan-perbedaan. Pakaian menciptakan ‘batas’ palsu yang menyebabkan ‘perpecahan’ di antara manusia.

Kini, lepaskanlah pakaian itu dan tinggalkanlah di miqat. Dan mulailah kenakan kain kafan, sehelai kain putih yang sederhana. Di mana seluruh umat manusia yang akan berhaji, semuanya sama mengenakan pakaian itu. Maka, saksikanlah betapa keseragaman yang terjadi.

Di miqat, apa pun ras dan suku manusia, semua pakaian harus dilepaskan, yang berarti seluruh jabatan, harta, status, perbedaan pun harus dilepaskan. Tinggalkanlah di miqat ini dan berperanlah sebagai ‘manusia’ yang sesungguhnya yang kembali kepada fitrah.

Pakaian yang dikenakan seluruhnya adalah putih seperti layaknya kain kafan. Dan seluruh manusia dari segala penjuru dunia, melakukan hal yang sama! Tidak ada lagi perbedaan. Tapi semua bergerak sama dan satu, melakukan perjalanan menuju Allah. Allah sebagai pusat dari pergerakan mereka. Allah menjadi pusat dari seluruh aturan kehidupan dunia mereka. Sehingga mereka menjadi manusia yang seharusnya manusia seperti tujuan Allah semula menciptakannya. Segala 'keakuan' manusia, seluruhnya dilepaskan, dihilangkan.

Setelah menggunakan pakaian ihram—pakaian suci-- maka manusia barulah boleh bergabung dengan rombongan manusia yang besar. Di mana dalam keadaan ihram ini, lupakanlah segala sesuatu yang mengingatkanmu pada urusan-urusan duniawi. Dan berbaurlah dengan mereka yang sama-sama menuju panggilan Allah, menuju kesucian hidup, bagai kita telah mati (meninggalkan tanah air, membereskan semuanya) lalu bangkit kembali untuk kehidupan yang kedua. Dimana pada kehidupan ini, semua keakuan telah mati di miqat, dan berganti menjadi “kita”, jamaah manusia yang melakukan pergerakan – perjalanan hanya untuk memenuhi panggilan Allah, melaksanakan aturan Allah, dan Allah menjadi satu-satunya pusat kehidupan. Subhanallaaah… [Alivia, Sumber Ide dari Haji]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home