4/12/2006

Cuaca Mekkah

Ada bocoran dari pembimbing haji tentang cuaca di Mekkah, katanya dingin dan suhu dapat mencapai 2 derajat Celcius. Brrrrrr… terbayang betapa dinginnya khan?

Saya segera membayangkan suhu di Gunung Gede, padahal baru 7 derajat Celcius tapi itu pun sudah membuat saya sangat kedinginan. Lantas bagaimana di Mekkah nanti, yang suhunya lebih rendah daripada Gunung Gede? Apa yang harus saya bawa? Masa saya harus bawa seperti perlengkapan naik gunung? Lengkap dengan sarung tangan, jaket tebal, kaus kaki dingin, dsb?

Berawal dari keraguan Mekkah akan sedingin itu, saya mencari informasi sana-sini.
Alhamdulillah saya punya bocoran dari ibu yang pernah berpengalaman di Mekkah pada saat musim dingin. Cerita ibu, cuaca di sana sama seperti di Bandung atau Lembang.

Untuk orang Arab, mungkin memang dingin, karena mereka biasa bersuhu 40 derajat Celcius. Tapi, untuk orang kita? Tidak sedingin seperti yang digambarkan oleh para pembimbing DEPAG, yang ternyata pembimbing dari berbagai KBIH lain pun memberitahukan hal yang sama seperti DEPAG.

Dan pada kenyataannya, benar.. pada bulan desember – Januari 2006 (selama saya di sana), suhu di sana hanya sekitar 27 hingga 29 derajat Celcius saja. Tidak pernah lebih rendah dari itu. Kebetulan HP saya ada termometernya :). HP saya memang bertipe outdoor, tidak ada feminin-femininnya sama sekali. Kebetulan juga saya kebal melihat model-model HP baru, tidak ada keinginan untuk membeli. Selain tidak punya doku :D, saya juga masih butuh future di HP itu. Sangat berguna untuk saya pribadi. Dan ternyata kembali sangat berguna ketika Haji :).

Walau suhu tidak begitu dingin, tapi angin di sana sangat kencang dan membawa udara kering. Sehingga udara yang dihembuskan terasa dingin dan sangat menusuk hidung.

Bagi yang mudah alergi, siap-siap selalu memakai masker. Dan jika perlu, masker yang ada kompres airnya. Saya lupa namanya apa. Tapi bisa dibeli di apotik. Kemarin, saya tidak beli masker seperti itu dan pakai masker biasa saja. Tapi ternyata saya termasuk yang mudah sekali alergi. Karena tidak kuat pada udara di sana, walau sudah memakai masker, sehingga saya selalu mimisan. Selama 2 hari, tidak berhenti. Untuk itu, dokter menyarankan untuk di suntik anti alergi. Saya sih mau saja :). Tapi, ternyata jumlah obat-obatan yang diperoleh dokter kloter pun sangat mengkhawatirkan. Jatah benar-benar tidak sesuai dengan kebutuhan. Akhirnya saya disuntik seadanya ditambah berdoa semoga segera sehat :).

Alhamdulillah, hari ke tiga saya sudah bisa tidak pakai jaket di Madinah, tapi masker tetap tidak pernah lepas. Yang ternyata ini pula trik ampuh agar selama menunggu proses haji kita tidak terkena batuk dan pilek :). Kebetulan saya termasuk gelombang 1, sehingga harus menunggu sekitar 30 hari di tanah Arab, hingga tiba waktu haji.

O iya, satu lagi, thermometer ini pun sebagai bukti nyata, bahwa info suhu yang diberitakan di berbagai media di tanah air tidak akurat (jika tidak mau disebut salah). Beritanya dapat dibaca pada artikel Suhu Saat Puncak Haji di Armina 8-10 Derajat Celcius (detik.com) dan Suhu Saat Puncak Haji di Armina 8-10 Derajat (Republika). Judul kedua berita itu pun serupa tapi tak sama :). [Alivia]

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home